Selasa, Maret 5, 2024
spot_img
BerandaKisah TeladanAku Mencintaimu Karena Allah

Aku Mencintaimu Karena Allah

“ketika salah satu dari kalian mencintai saudaranya (sesama muslim), hendaknya dia memberitahukannya” HR. Abu Daud

Rasúlulláh tidak pernah melarang seorang suami untuk menampakan bukti kasih sayang dan kecintaan terhadap istrinya, bahkan diantara wasiat Rasúlulláh terhadap para sahabatnya adalah sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits:

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ (رواه أبو داود)

Maknanya: “ketika salah satu dari kalian mencintai saudaranya (sesama muslim), hendaknya dia memberitahukannya” HR. Abu Daud.

Seperti mengatakan sesama saudaranya semuslim: “aku mencintaimu karena Allah”. Lantas bagaimana dengan seorang istri yang susah-senangnya selalu menemani sang suami dalam hidupnya.

Suatu ketika Aisyah berkata kepada Rasúlulláh : “Siapakah istri-istrimu kelak disyurga?”, Rasúlulláh menjawab: “anda diantaranya”. Kemudian dari sahabat Ammár Ibn Yásir berkata: “bahwa Aisyah adalah kecintaan Rasúlulláh di dunia dan akhirat”.

Kemudian hendaknya juga seorang suami menampakan kecintaannya terhadap istri dihadapan orang-orang terdekatnya agar dapat menambah pundi-pundi kecintaan dan kasih sayang.

Diceritakan dari Aisyah, beliau berkata: “suatu ketika para istri Rasúlulláh  mengutus Fátimah putri Rasúl untuk meminta izin kepada Rasúlulláh ikut menemaninya ketika Aisyah sedang sakit, lalu Rasúlulláh mengizinkannya untuk masuk, Fátimah pun berkata kepada Rasúlulláh: “wahai Rasúlulláh, para istrimu mengutusku agar aku menanyakan keadilan atas putrinya Abu Kuháfah[1]”, Rasúlulláh pun menjawab: “wahai putriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?” Fatimah pun menjawab: “iya wahai Rasúlulláh”, lalu Rasúlulláh pun menjawab: “maka cintailah ini juga bagi Aisyah”.

Didalam sahih Bukhari, suatu ketika Amr Bin Aash datang kepada Rasúlulláh  lalu bertanya, “Siapakah orang yang paling anda cintai?”, Rasúlulláh menjawab: “Aisyah”, Amr bertanya Kembali, “Adapun dari kalangan laki-laki?” Rasúlulláh kembali menjawab, “ayahnya Aisyah (Abu Bakr)”, Amr kembali bertanya,“kemudian siapa lagi?”, Rasúlulláh menjawab: “Umar”, kemudian Amr pun terdiam tidak lanjut bertanya karena takut Rasúlulláh menjadikan aku yang terakhir.

Baca juga: Makhluk Paling Mulia Merapihkan Sendiri Sandalnya

Kecintaan Rasúlulláh  terhadap Aisyah sangatlah nampak dikalangan para sahabat, bahkan ketika mereka hendak memberikan hadiah kepada Rasúlulláh, mereka memberikan hadiah tersebut di hari gilirannya Aisyah, karena Aisyah sangat dicintai Rasúlulláh, ia memiliki banyak keutamaan dibanding dengan istri-istri Rasúlulláh  yang lainnya, diantara keutamaannya bahwa ketika Rasúlulláh sakit diakhir hayatnya beliau dirawat dirumah Aisyah, lalu ketika Rasúlulláh meninggal juga dikuburkan dirumah Aisyah. Betapa besar keutamaan yang Allah berikan kepada Sayyidah Aisyah.

Terdapat didalam sahih Bukhari dan Muslim, bahwa ketika Rasúlulláh sakit menjelang ajalnya, Rasúlulláh  bertanya kepada para istrinya, “giliran siapakah esok hari?” Para istrinya pun menjawab, “giliran fulanah”, Rasúlulláh lanjut bertanya “kemudian besok lusa giliran siapa?”, mereka pun menjawab, “giliran fulanah” para istrinya pun paham bahwa Rasúlulláh menginginkan giliran Aisyah, hingga akhirnya mereka semua berkata “kami rela memberikan giliran untuk Aisyah”.

Aisyah melawati malam-malam harinya dalam keadaan terjaga merawat Rasúlulláh, ketika mendekati ajal dan kepala Rasúlulláh didalam pelukan Aisyah, beliau menceritakan momentum yang istimewa, ini disampaikan didalam ucapannya, “diantara kenikmatan yang Alláh berikan kepadaku bahwa Rasúlulláh meninggal dirumahku, di hari giliranku, diatas pelukanku, Alláh menyatukan air ludah Rasúlulláh dengan air ludahku, karena suatu ketika Abdurrahmán masuk dengan membawa siwak dan posisiku ketika itu sebagai tempat bersandar Rasúlulláh, lalu Rasúlulláh pun melihat siwak yang dibawa Abdurrahmán, hingga aku paham bahwa Rasúlulláh menyukai siwak, hingga aku memberikan isyarat kepada Abdurrahmán agar memberikan siwak tersebut, ketika aku mengambil siwak itu dan memberikannya kepada Rasúlulláh merasa kesakitan karena kerasnya siwak tersebut, hingga aku berkata: “biar aku yang menjadikan lembut siwak itu wahai Rasúlulláh”, Rasulúlláh pun memberikan isyarat iya, kemudian aku menyiwaki Rasúlulláh dengan siwak yang sudah aku lembutkan tersebut”. Kemudian Rasúlulláh pun meninggal dan dimakamkan di rumah Aisyah.

Ketika Rasúlulláh meninggal umur Aisyah ketika itu masih sekitar delapan belas tahun, akan tetapi dia merupakan perempuan paling ‘alim dan ahli dalam fiqh. Semoga Allah meridhai Ummil mu’minin Aisyah, dan mengumpulkan kita bersamanya didalam Syurga.

Rasúlulláh memerintahkan kita untuk saling mencintai saudara semuslim karena Alláh, dengan mencintai apa yang dicintai bagi dirinya, tidak mengelabuinya baik dengan perkataan atau perbuatan, ketika melihat dari diri saudaranya kebaikan maka ikut merasa senang, akan tetapi ketika melihat suatu keburukan berusaha untuk merubah dan membebaskan saudaranya dari keburukan tersebut, menasihatinya sehingga dia dapan memperbaiki sesuatu yang buruk itu, dengan tulus dan penuh kecintaan,

Misalnya kalau dia melihat saudaranya semuslim meninggalkan shalat dia menasihati dan memperingati dari bahaya bagi mereka yang meninggalkan shalat, kalau seandainya saudara semuslimnya tidak paham akan ilmu agama dia ajarkan atau diarahkan kepada mereka yang dapat mengajari ilmu agama dengan benar, inilah makna dari saling mencintai karena Allah[2].

Adapun berteman dengan orang yang buruk perangainya, didasari dengan rasa curang dan tipu daya maka itu hanya akan berakibat buruk di dunia dan diakhirat, karena bisa saja pertemanannya berubah menjadi permusuhan seiring berlalunya hari, maka hendaknya bagi sepasang suami istri untuk menjalankan nasihat ini agar sama-sama meraih derajat yang tinggi menurut Alláh.

Cukup sebagai balasan orang yang saling mencintai karena Alláh, kelak dihari kiamat orang yang saling mencintai karena Alláh berada dibawah naungan Arsy’[3] dimana sebagian orang merasakan panasnya matahari.

Mereka orang yang saling mencintai karena Allah terkumpul didalam ketakwaan dan ketaatan, bukan dalam keburukan dan kemaksiatan, hanya sekedar untuk meraih materi dunia semata, tidak saling menipu, tidak saling mengelabui, akan tetapi saling mencintai karena mengharapkan ridha Alláh, bersungguh-sungguhlah semoga kita dijadikan sebagai orang-orang yang saling mencintai karena Allah.

Didalam sebuah hadits qudshi, Rasúlulláh  bersabda Alláh taála berfirman:

اَلْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلَالِي لَهُمْ مَنَابِر مِنْ نُوْرٍ يَوْمَ القِيَامَةِ

Maknanya: “Orang yang saling mencintai karena keagunganku, kelak diakhirat memiliki mimbar terbuat dari cahaya”.

Hal ini terjadi sebelum mereka masuk kedalam Syurga, Alláh dudukan mereka dibawah naungan Arsy’ diatas mimbar yang terbuat dari cahaya. Membuat orang-orang, para Nabi, dan syuhada terkagum-kagum dan merasa senang, sekalipun para Nabi memiliki derajat yang lebih tinggi dari mereka.

Baca buku: Mengenal Tasawuf Rasulullah

Kecintaan yang haqiqi karena Alláh tidak ada didalam ikatan pertemanannya berupa tipu daya dan saling mengelabui, dalam artian ketika melihat saudaranya (semuslim) mengerjakan keburukan dia tidak menghiasi keburukan tersebut agar saudaranya tetap dalam keburukan itu, tidak berdiam diri selama dia bisa menyelamatkan saudaranya tersebut dari keburukan, akan tetapi ketika melihat saudaranya mengerjakan kebaikan diapun menyemangati untuk tetap kontinuitas menjalankan kebaikan itu, inilah makna saling mencintai karena Alláh.

Dalam sebuah hadits qudshi Rasúlulláh  bersabda, Alláh taála berfirman:

حَقّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّيْنَ فِيّ

Maknanya: “kecintaan Allah bagi mereka yang saling mencintai karena-Nya”[4].

_________________________

[1] Kuniah Abu Bakkar as-Shiddiq
[2] Orang yang saling mencintai karena Allah didunia, bukan sekedar karena harta atau hawa nafsu, kelak di hari kiamat Allah selamatkan dia dari panas matahari. Karena didalam kecintaan ini ada unsur tolong menolong didalam meraih keridhaan Allah.
[3] Arsy adalah makhluk Allah terbesar dari segi bentuk dan ukurannya, tujuan Allah menciptakan asry untuk menampakan akan kekuasaan-Nya dan bukan untuk menjadikan tempat bagi dzat-Nya, karena umat islam seruhnya meyakini bahwa Allah ada tanpa tempa, oleh karena Allah ada sebelum terciptanya tempat (karena tempat adalah sesuatu yang baru dan memiliki permulaan), kemudian setelah Allah menciptakan tempat, Allah tidak berubah tetap ada tanpa tempat.
[4] Karena hawa nafsu lebih membawa seseorang kepada sifat takabbur kepada orang lain, karena dari saling mencintai karena Allah terdapat rahasia agung, dengan saling mencintai, menasihati, saling memberi hadiah meskipun itu sesuatu yang bernilai kecil, karena saling memberi hadiah dapat menguatan suatu ikatan, yang juga merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang

Khotibul Umamhttps://darulquransubang.ponpes.id
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Dan Kajian Kitab-Kitab Ilmu Agama Islam Darul Qur'an Subang
RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments

Abou Qalby on Cahaya di Kegelapan
×

 

Assalaamu'alaikum!

Butuh informasi dan pemesanan buku? Chat aja!

× Informasi dan Pemesanan Buku