Selasa, September 27, 2022
spot_img
BerandaBiografi UlamaBiografi Ringkas al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari; Imam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Biografi Ringkas al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari; Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah

Siapakah Ahlussunnah Wal Jama'ah Yang Sebenarnya? (Bagian 5)

Beliau adalah seorang Imam yang luas ilmunya (al-Imâm al-Habr), seorang yang sangat bertaqwa dan saleh (at-Taqiy al-Barr), pembela ajaran-ajaran Rasulullah (Nashir as-Sunnah), bendera/tiang/rujukan agama Islam (‘Alam ad-Din), dan syiar bagi orang-orang Islam (Syi’ar al-Muslimin), pemimpin Ahlussunnah Wal Jama’ah dan para teolog Islam (Syekh Ahlissunnah Wa al-Mutakallimin). Adalah al-Imâm Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa al-Asy’ari. Maka al-Imâm Abul Hasan adalah keturunan sahabat Rasulullah; Abu Musa al-Asy’ari.

Al-Imâm Abul Hasan lahir pada tahun 260 H di Bashrah, pendapat lain mengatakan tahun 270 H. Tahun wafatnya diperselisihkan ulama. Satu pendapat mengatakan wafat tahun 333 H. Pendapat lain menyebutkan 324 H. Dan pendapat lainnya mengatakan wafat tahun 330 H. Beliau wafat di Baghdad. Dimakamkan di antara al-Karkhi dan Bab al-Bashrah[1].

Baca juga: Tokoh-Tokoh Ahlussunnah Dari Masa Ke Masa

Al-Imâm Abul Hasan adalah seorang yang berfaham Ahlussunnah. Berasal dari keluarga berpegangteguh dengan ajaran Ahlussunnah. Kemudian belajar faham Mu’tazilah kepada Abu ‘Ali al-Jubba’i, hingga mengikutinya dalam faham tersebut. Lalu beliau rujuk dan taubat dari faham Mu’tazilah tersebut. Beliau naik kursi di Masjid Jami’ di kota Bashrah di hari Jum’at, dengan suara yang sangat lantang beliau berkata:

من عرفني فقد عرفني ومن لم يعرفني فإني أعرفه بنفسي، أنا فلان بن فلان كنت أقول بخلق القرآن، وأن الله لا تراه الأبصار، وأن أفعال الشر أنا أفعلها، وأنا تائب مقلع، معتقد للرد على المعتزلة مخرج لفضائحهم ومعايبهم، إنما تغيبت عنكم هذه المدة؛ لأنى نظرت وتكافأت عندى الأدلة، ولم يترجح عندى شيء على شيء، فاستهديت الله تعالى، فهدانى إلى اعتقاد ما أودعته فى كتبى هذه، وانخلعت من جميع ما كنت أعتقده، كما انخلعت من ثوبى هذا. اهـ

“Siapa yang telah mengetahuiku maka ia telah tahu siapa aku. Dan siapa yang tidak mengetahuiku maka aku sendiri memperkenalkan kepadanya siapa aku. Aku adalah fulan bin fulan. Aku telah mengatakan (berfaham) al-Qur’an makhluk, bahwa Allah tidak dapat dilihat oleh mata, dan bahwa perbuatan buruk aku sendiri yang melakukannya (menciptakannya). Aku (sekarang) telah bertaubat dari faham tersebut dan telah aku lepaskan. Aku berkeyakinan untuk membantah faham Mu’tazilah, dan membuka segala kesatatan mereka dan segala aib mereka. Sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada beberapa masa ini; karena aku memandang, hingga menumpuk / tumpang tindih bagiku berbagai dalil, sementara tidak ada dalil yang kuat bagiku perkara yang haq (benar) atas perkara yang batil, atau perkara batil atas perkara haq. Aku memohon petunjuk kepada Allah. Maka Allah memberi petunjuk kepadaku kepada keyakinan yang telah aku tuangkan dalam kitab-ku ini. Dan aku melepaskan diri seluruh apa yang talh aku yakini (dari faham-faham Mu’tazilah) sebagaimana aku melepaskan diri dari bajuku ini”[2].

Kemudian al-Imâm Abul Hasan melepaskan pakian luar yang ia kenakan dan melemparkannya, lalu menyerahkan kitab hasil karya kepada orang banyak. Di antara kitab tersebut adalah “al-Luma’”, dan kitab berjudul “Kasyf al-Asrar Wa Hatk al-Astar”; kitab membongkar faham-faham sesat Mu’tazilah dan bantahan kuat terhadap mereka, serta beberapa kitab lainnya. Kaum Mu’tazilah ketika itu benar-benar telah tercorang muka mereka dan sangat dipermalukan. Al-Hafizh Ibn ‘Asakir mengatakan bahwa al-Asy’ari bagi Mu’tazilah saat itu seperti seorang ahli kitab yang masuk Islam; ia membongkar habis kesesatan-kesesatan dan menampakan aib-aib yang telah ia yakini sebelumnya, hingga jadilah si-ahli kitab ini sangat dimusuhi oleh orang-orang yang sebelumnya menjadi pengikutnya dan mengagungkannya. Demikian pula dengan al-Asy’ari, yang semula ia seorang pemuka di kalangan Mu’tazilah, diagungkan, dan sebagai panutan bagi mereka, tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat dibenci oleh kaum Mu’tazilah[3].

Para ulama berkata bahwa kaum Mu’tazilah saat itu mada mulanya telah mengangkat kepala-kepala mereka (sombong / menang / merasa di atas angin dalam keyakinan mereka), hingga kemudian tampilah al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari balik menyerang mereka, hingga beliau telah menjadikan meraka orang-orang kerdil (ciut nyalinya), seperti terkungkung (dipenjarakan) dalam biji-biji wijen, menjadi sangat remeh.

Baca juga: Bantahan Terhadap Tuduhan Adanya Tiga Fase Faham al-Imâm al-Asy’ari

Al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki menuliskan:

وصنف لأهل السنة التصانيف، وأقام الحجج على إثبات السنة، وما نفاه أهل البدع من صفات الله تعالى ورؤيته، وقدم كلامه، وقدرته، وأمور السمع الواردة. اهـ

“Beliau (Abul Hasan al-Asy’ari) talah menyusun berbagai karya bagi Ahlussunnah, mendirikan dalil-dalil untuk menetapkan ajaran Rasulullah, mendirikan apa yang dinafikan oleh para ahli bid’ah; seperti sifat-sifat Allah, melihat kepada Allah (oleh penduduk surga), Qidam-nya Kalam Allah (Qidam; tidak bermula), dan Qudrah-Nya, serta dalam beberapa perkara yang kebanarannya secara sam’i (naqli)”[4].

Al-Qadli ‘Iyadl juga berkata:

تعلق بكتبه أهل السنة، وأخذوا عنه، ودرسوا عليه، وتفقهوا في طريقه، وكثر طلبته وأتباعه، لتعلم تلك الطرق في الذب عن السنة، وبسط الحجج والأدلة في نصر الملة، فسموا باسمه، وتلاهم أتباعهم وطلبتهم، فعرفوا بذلك – يعني الأشاعرة – وإنما كانوا يعرفون قبل ذلك بالمثبتة، سمة عرفتهم بها المعتزلة؛ إذ أثبتوا من السنة والشرع ما نفوه. اهـ

“Ahlussunnah bergantung kepada kitab-kitab karya al-Asy’ari, meraka mengambil (faedah besar) darinya, mempelajari ajaran-ajarannya, memahami ajaran agama di atas jalannya, banyak murid-muridnya dan para pengikutnya yang mempelajari metodenya dalam membela ajaran-ajaran Rasulullah, menghamparkan argumen-argumen dan dalil-dalil dalam membela agama; sehingga mereka (Ahlussunnah) disandarkan kepada namanya, demikian pula orang-orang yang datang sesudah mereka dari para murid dan para pengikut mereka; sehingga mereka dikenal dengan sebutan namanya (kaum Asy’ariyyah). Sebelumnya mereka (kaum Asy’ariyyah) dikenal dengan sebutan golongan al-Mutsbitah (artinya; yang menetapkan). Penamaan demikian disematkan oleh kaum Mu’tazilah (untuk membedakan dua kelompok tersebut); karena mereka mentapkan apa yang dinafikan oleh kaum Mu’tazilah sendiri”[5].

Lalu Al-Qadli ‘Iyadl berkata:

فأهل السنة من أهل المشرق والمغرب، بحججه يحتجون، وعلى منهاجه يذهبون، وقد أثنى عليه غير واحد منهم، وأثنوا على مذهبه وطريقه. اهـ

“Maka kaum Ahlussunnah dari orang-orang yang ada di bagian timur dan orang-orang yang ada di bagian barat; mereka semua berdalil dengan dalil-dalilnya (al-Asy’ari), di atas ajarannya mereka berjalan. Beliau telah dipuji kaum Ahlusunnah tidak hanya oleh satu orang dari meraka. Mereka semua telah memuji madzhabnya dan jalannya”[6].

Murid-murid al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari sangat banyak. Di antara tokoh-tokoh terdepan dari mereka seperti; al-Imâm Abul Hasan al-Bahili, al-Imâm Abu Abdillah ibn Mujahid, al-Imâm Abu Muhammad ath-Thabari yang populer dengan al-‘Iraqi, al-Imâm Abu Bakr al-Qaffal asy-Syasyi, al-Imâm Abu Sahl ash-Sha’luqi, dan lainnya.

Generasi kedua, yaitu orang-orang yang belajar kepada para pengikut / Ash-hab al-Asy’ari jauh lebih banyak lagi jumlah. Mereka menjadi tokoh-tokoh panutan umat Islam, seperti; al-Imâm al-Qadli Abu Bakr al-Baqilani, al-Imâm Abu ath-Thayyib ibn Abi Sahl ash-Sha’luqi, al-Imâm Abu Ali ad-Daqqaq, al-Imâm al-Hakim an-Naysaburi, al-Imâm Abu Bakr ibn Furak, al-Imâm Abu Nu’aim al-Ashbahani, dan lainnya. Secara global, para tokoh ulama dan para imam terkemuka dalam setiap generasi, dari masa ke masa, adalah orang-orang yang berada di atas jalan aqidah Asy’ariyyah.

Al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari telah banyak menyusun kitab. Beliau sangat produktif. Disebutkan lebih dari 200 judul karya yang telah beliau tulis.

Salah seorang ulama besar dan sangat terkemuka di masanya, yaitu al-Imâm Abu al-Abbas al-Hanafi; yang dikenal dengan sebutan Qadli al-Askar, adalah salah seorang Imam terkemuka di kalangan ulama madzhab Hanafi dan merupakan Imam terdahulu dan sangat senior hingga menjadi rujukan dalam disiplin Ilmu Kalam. Di antara pernyataan Qadli al-Askar yang dikutip oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî adalah sebagai berikut:

وقد وجدت لأبي الحسن الأشعري رضي الله عنه كتبا كثيرة في هذا الفن، وهي قريبة من مائتي كتاب والموجز الكبير يأتي على عامة ما في كتبه، وقد صنف الأشعري كتابا كبيرا لتصحيح مذهب المعتزلة، فإنه كان يعتقد مذهب المعتزلة في الابتداء ثم إن الله تعالى بين له ضلالهم، فبان عما اعتقده من مذهبهم وصنف كتابا ناقضا لما صنف للمعتزلة، وقد أخذ عامة أصحاب الشافعي بما استقر عليه مذهب أبي الحسن الأشعري، وصنف أصحاب الشافعي كتبا كثيرة على وفق ما ذهب إليه الأشعري.

“Dan saya telah menemukan kitab-kitab hasil karya Abul Hasan al-Asy’ari sangat banyak sekali dalam disiplin ilmu ini (Ilmu Usuluddin), hampir mencapai dua ratus karya, yang terbesar adalah karya yang mencakup ringkasan dari seluruh apa yang beliau telah tuliskan. Di antara karya-karya tersebut banyak yang beliau tulis untuk meluruskan kesalahan madzhab Mu’tazilah. Memang pada awalnya beliau sendiri mengikuti faham Mu’tazilah, namun kemudian Allah memberikan pentunjuk kepada beliau tentang kesesatan-kesesatan mereka. Demikian pula beliau telah menulis beberapa karya untuk membatalkan tulisan beliau sendiri yang telah beliau tulis dalam menguatkan madzhab Mu’tazilah terhadulu. Di atas jejak Abul Hasan ini kemudian banyak para pengikut madzhab asy-Syafi’i yang menapakkan kakinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya para ulama pengikut madzhab asy-Syafi’i yang kemudian menulis banyak karya teologi di atas jalan rumusan Abul Hasan”[7].

Al-Qâdlî Ibnu Farhun al-Maliki dalam kitab ad-Dîbâj al-Mudzhhab dalam penulisan biografi al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari, menuliskan:

كان مالكيا صنف لأهل السنة التصانيف وأقام الحجج على اثبات السنن وما نفاه أهل البدع. اهـ

“Beliau (al-Asy’ari) adalah seorang bermadzhab Maliki (dalam fiqh), menulis bagi Ahlussunnah beberapa karya, mendirikan dalil-dalil untuk menetapkan sunnah-sunnah dan menetapkan apa yang diinkari oleh para ahli bid’ah”[8].

Di bagian lain dalam kitab yang sama al-Qadli Ibnu Farhun berkata:

فأقام الحجج الواضحة عليها من الكتاب والسنة والدلائل الواضحة العقلية، ودفع شبه المعتزلة ومن بعدهم من الملحدة، وصنف في ذلك التصانيف المبسوطة التي نفع الله بها الأمة، وناظر المعتزلة وظهر عليهم، وكان أبو الحسن القابسي يثني عليه وله رسالة في ذكره لمن سأله عن مذهبه فيه أثنى عليه وأنصف، وأثنى عليه أبو محمد بن أبي زيد وغيره من أئمة المسلمين. اهـ

“Maka ia (Abul Hasan) mendirikan dalil-dalil yang jelas di atasnya dari al-Qur’an dan Sunnah, serta dalil-dalil aqli yang jelas. Memerangi kesesatan-kesesatan Mu’tazilah dan orang-orang sesudah mereka dari kaum Mulhid (orang-orang kafir). Dalam hal itu (Ilmu Kalam) beliau telah menyusun beberapa karya yang luas yang dengannya Allah memberikan manfaat terhadap umat. Beliau mendebat Mu’tazilah, dan tampil (menaklukan) atas mereka. Dan Abul Hasan al-Qabisi memujinya (al-Asy’ari), dan baginya telah menulis risalah dalam biografinya bagi siapa yang ingin tahu tentang madzhabnya. Al-Qabisi memuji al-Asy’ari dan telah mendudukannya secara proporsional. Juga, al-Asy’ari telah telah dipuji oleh Abu Muhammad ibn Abi Zaid, dan oleh lainnya dari para Imam orang-orang Islam”[9].

 Asy-Syaikh Abu Abdillah ath-Thalib ibn Hamdun al-Maliki dalam Hasyiyah-nya menuliskan tentang al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari:

إنه أول من تصدى لتحرير عقائد أهل السنة وتلخيصها ودفع الشكوك والشبه عنها وإبطال دعوى الخصوم. اهـ

“Sesungguhnya beliau (al-Asy’ari) adalah orang yang pertamakali bergelut dalam menertibkan (edit) akidah-akidah Ahlussunnah dan memformulasikannya, memberangus berbagai keraguan dan syubhat-syubhat (kesesatan), dan meruntuhkan tuduhan-tuduhan (faham rusak) dari para musuh (di luar Ahlussunnah)”[10].

Baca buku: Aqidah Imam Empat Madzhab

 Al-Imâm Jalaluddin al-Mahalli (W 864 H) dalam menjelaskan perkataan al-Imâm Tajuddin as-Subki menuliskan sebagai berikut:

ونرى أن أبا الحسن علي بن إسماعيل الأشعري وهو من ذرية أبي موسى الأشعري الصحابي إمام في السنة أي الطريقة المعتقدة مقدم فيها على غيره، ولا التفات لمن تكلم فيه بما هو بريء منه. اهـ

“Dan kita memandang bahwa Abul Hasan Ali ibn Isma’il al-Asy’ari, -yang merupakan keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari-; adalah imam (pimpinan) dalam sunnah (ajaran Rasulullah); artinya dalam jalan keyakinan beliau adalah orang yang didahulukan  atas yang lainnya. Dam jangan hiraukan orang yang berkata-kata [buruk terhadapnya] yang padahal beliau terbebas darinya”.[11]

Al-Imâm Badruddin az-Zarkasyi dalam Tasynif al-Masami’ Bi SyarhJam’il Jawami’ menuliskan sebagai berikut:

لا التفات لما نسبه إليه الكرامية والحشوية، فالقوم أعداء له وخصوم، وهو إما مفتعل، أو لم يفهموا مراده، وقد بين ذلك ابن عساكر في كتابه تبيين كذب المفتري فيما نسب للأشعري. اهـ

“Jangan hiraukan bagi apa yang disandarkan kepadanya (al-Asy’ari dari tuduhan-tuduhan) oleh kaum Karramiyyah dan Hasyawiyyah. Mereka adalah musuh-musuh beliau. Apa yang  mereka tuduhkan itu adalah kedustaan yang dibuat-buat, atau dasarnya memang mereka tidak memahami apa yang dimaksud oleh al-Asy’ari. Dan telah dijelaskan demikian itu oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya Tabyîn Kadzib al-Muftarî Fima Nusiba Lil Asy’ari (Penjelasan kedustaan pelaku dusta dalam apa yang mereka sandarkan kepada al-Imâm al-Asy’ari)”.[12]    

Al-Imâm al-Hafizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, menuliskan:

وليعلم أن كلا من الإمامين أبي الحسن وأبي منصور -رضي الله عنهما وجزاهما عن الإسلام خيرا- لم يبدعا من عندهما رأيا ولم يشتقا مذهبا إنما هما مقرران لمذاهب السلف مناضلان عما كانت عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، وناظر كل منهما ذوي البدع والضلالات حتى انقطعوا وولوا منهزمين. اهـ

“Dan ketahuilah, bahwa setiap dari dua orang Imam; Abul Hasan dan Abu Manshur, -semoga membalas kebaikan oleh Allah bagi keduanya- tidak merintis pendapat baharu dari keduanya, dan keduanya tidak membuat madzhab. Tetapi keduanya hanya menetapkan madzhab (ajaran) Salaf. Keduanya membela apa yang di atasnya para sahabat Rasulullah. Setiap dari dua orang Imam ini telah memerangi pra ahli bid’ah dan orang-orang sesat sehingga mereka mati kutu dan lari terbirit-birit”.[13]

__________________________
[1] Lengkap biografi al-Asy’ari lihat Ibnu ‘Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h. 25-45. Tajuddin As-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, j. 3, h. 360
[2] Ibnu ‘Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h.39
[3] Ibnu ‘Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h. 40
[4] Al-Qadli ‘Iyadl, Tartib al-Madarik, j. 5, h. 24
[5] Al-Qadli ‘Iyadl, Tartib al-Madarik, j. 5, h. 25
[6] Al-Qadli ‘Iyadl, Tartib al-Madarik, j. 5, h. 25
[7] Ibnu ‘Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h. 139-140
[8] Ibnu Farhun, ad-Dibaj al-Mudzahhab Fi Ma’rifah A’yan ‘Ulama’ al-Madzhab, h. 194
[9] Ibnu Farhun, ad-Dibaj al-Mudzahhab Fi Ma’rifah A’yan ‘Ulama’ al-Madzhab, h. 194
[10] Ibnu Hamdun, Hasyiyah Ibn Hamdun ‘Ala Mayyarah, h. 16
[11] al-Mahalli, al-Badr ath-Thali’ Fi Hall Syarh Jam’il Jawami’, j. 2, h. 452
[12] Az-Zarkasyi, Tasynif al-Masami’, j. 2, h. 355
[13] Az-Zabidi, Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, j. 2, h. 7

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru