Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaTasawufAndaikan Kecerdasan Bisyr bin al-Harits Dibagikan Kepada Penduduk Baghdad Maka Semua Orang...

Andaikan Kecerdasan Bisyr bin al-Harits Dibagikan Kepada Penduduk Baghdad Maka Semua Orang Akan Menjadi Cerdas Tanpa Berkurang Sedikitpun Dari Kecerdasannya

Bisyr al-Hafi


Beliau adalah Bisyr[1] bin al-Harits bin Abdul Rahman bin ‘Atha’ bin Hilal bin Mahan bin Abdullah. Memiliki kunyah Abu Nashr. Kakek beliau yang terakhir disebut; Abdullah, sebelumnya benama Ba’bur. Kemudian masuk Islam di tangan Ali bin Abi Thalib dan diganti namanya menjadi Abdullah.

Bisyr al-Hafi berasal dari sebuah perkampungan daerah Moro, bernama kampung Mabarsam. Lahir di daerah tersebut tahun 150 Hijriah, lalu hijrah ke Baghdad. Beliau berasal dari keluarga terkemuka dan sangat dihormati.

Bin Khallikan dalam Wafayât al-A’yân meriwayatkan sebab taubatnya Bisyr al-Hafi hingga menjalani kehidupan tasawuf, bahwa suatu hari saat Bisyr berjalan tiba-tiba ia melihat secarik kertas bertuliskan nama Allah tergeletak di tanah seakan tidak terhormati. Kertas tersebut telah banyak terinjak-injak kaki. Lalu Bisyr al-Hafi memungutnya, kemudian membeli minyak wangi dan melumurkannya pada kertas tersebut, untuk memuliakannya. Kertas itu lalu ia bawa pulang ke rumahnya dan diletakkan di tempat yang tinggi karena menghormatinya. Di malam harinya tiba-tiba ia bermimpi mendengar suara berbicara kepadanya: “Wahai Bisyr engkau telah menghormati nama Allah, maka Allah akan menjadikanmu sebagai orang terhormat di dunia dan di akhirat”. Dengan terkejut Bisyr bangun dari tidurnya dan saat itu pula ia langsung bertaubat.

Baca buku: Mengenal Tasawuf Rasulullah

Bisyr al-Hafi mengambil riwayat hadits di antaranya kepada Ibrahim bin Sa’ad az-Zuhri, Abdullah bin al-Mubarak, Syuraik bin Abdillah, Hammad bin Yazid, Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam, dan ulama besar lainnya. Sementara yang mengambil riwayat hadits darinya juga sangat banyak, di antaranya Ibrahim bin Hasyim bin Misykan, Nu’aim bin al-Haidlam, Nashr bin Manshur al-Bazzar, Muhammad bin al-Mutsanna, Sirri as-Saqthi, Ibrahim bin Hani’ al-Naisaburi, dan ulama besar lainnya.

Bisyr al-Hafi adalah salah seorang ulama Salaf terkemuka. Keilmuan, ketakwaan, zuhud dan sikap wara’ pada dirinya benar-benar telah benar-benar mencapai puncaknya. Beliau memiliki tiga orang saudara perempuan yang juga memiliki sifat yang sama dengan dirinya. Dari saudara-saudaranya tersebut Bisyr al-Hafi belajar sikap zuhud, wara’ dan dalam banyak hal. Bin Khallikan meriwayatkan bahwa suatu hari datang seorang perempuan menghadap Imam Ahmad bin Hanbal handak meminta fatwa. Perempuan tersebut berkata: “Wahai Abu Abdillah, saya adalah seorang perempuan penenun di malam hari. Terkadang saya menenun di bawah cahaya lampu dan terkadang di bawah cahaya bulan. Haruskah aku menerangkan kepada para pembeli hasil tenunanku antara yang di bawah cahaya lampu dan yang di bawah cahaya bulan?”. Ahmad bin Hanbal menjawab: “Jika keduanya memiliki perbedaan, maka harus dijelaskan kepada pembeli!”. Lalu perempuan tersebut bertanya kepada Imam Ahmad beberapa permasalahan lainnya, kemudian pulang. Tiba-tiba Ahmad bin Hanbal berkata kepada putranya; Abdullah: “Aku tidak pernah mendengar siapapun bertanya dengan pertanyan-pertanyaan –wara’– semacam ini, ikutilah perempuan tersebut, siapakah dia?”. Setelah diikuti oleh Abdullah, ternyata perempaun tersebut adalah saudara kandung Bisyr al-Hafi. Lalu Abdullah menyampaikan kepada ayahnya bahwa perempaun tersebut saudara kandung Bisyr, Ahmad bin Hanbal berkata: “Demi Allah aku sudah mengira bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak akan pernah ditanyakan kecuali oleh saudara perempuan Bisyr…”.

Masih menurut Bin Khallikan, Bisyr digelari dengan al-Hafi adalah karena suatu hari beliau mendatangi tukang sol sepatu handak membetulkan tali sandalnya yang terputus. Setelah sampai di hadapannya tiba-tiba tukang sol berkata: “Kalian ini banyak membebani orang-orang…!”. Saat itu juga Bisyr melemparkan sandal yang ada di tanganya dan melepaskan yang ada di kakinya. Lalu bersumpah setelah itu pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah memakai alas kaki kembali.

Di antara riwayat yang menceritakan sikap zuhud dan wara’ Bisyr al-Hafi bahwa suatu hari salah seorang saudara perempuannya berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, sarungmu yang engkau kenakan ini telah usang dan rusak, carilah kapas supaya aku tenun dan membuatkan sarung untukmu!”. Lalu Bisyr mencari kapas dan diberikan kepada saudara perempuannya tersebut. Setelah menjadi kain sarung Bisyr kemudian menimbangnya, dan ternyata kain sarung tersebut melebihi ukuran timbangan kapasnya, lalu ia serahkan kembali kepada saudara perempuannya, seraya berkata: “Karena engkau telah merusaknya, kain ini aku berikan kepadamu”.

Dalam riwayat lain diceritakan suatu hari Bisyr al-Hafi diperintah ibunya untuk mencari buah safarjal. Setelah mendapatkannya beliau sangat tertarik untuk merasakannya. Hingga setelah dibawa ke rumah, ibunya berkata: “Jika engkau menginginkannya makanlah!”. Namun Bisyr hanya meletakan buah safarjal tersebut di genggamannya sambil menciumi harumnya. Dari saat itu ia tidak pernah makan buah safarjal hingga meninggal.

al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab Târîkh Baghdâd, dalam menuliskan biografi Bisyr al-Hafi berkata: “Beliau di masanya adalah pemegang pucuk sifat zuhud dan sikap wara’, tidak ada seorangpun yang melebihinya. Beliau satu-satunya orang yang memiliki akal yang sangat kuat, memiliki banyak keutamaan, akhlak yang sangat mulia, memegang teguh madzhab, mengekang hawa nafsu, dan menjauhkan diri dari kelebihan-kelebihan (al-fudlûl)”.

Baca juga: Dzunnun; Mereka Malu Berkata “Saya Tidak Tahu”

Diriwayatkan bahwa Bin Abi Haitsamah berkata: “Jika ada seseorang bermadzhab kepada orang lain dan melebihi pemimpin madzhab itu sendiri, maka aku katakan bahwa dia adalah Bisyr al-Hafi di atas madzhab Sufyan ats-Tsauri. Hanya saja Sufyan ats-Tsauri lebih tua dan lebih berilmu darinya”.

Ahmad bin Hanbal suatu ketika ditanya oleh Muhammad bin al-Mutsanna: “Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Bisyr al-Hafi?”. Imam Ahmad menjawab: “Engkau bertanya kepadaku tentang seseorang yang merupakan salah satu dari tujuh para wali Badal?!”.

Ibrahim al-Harbi berkata: “Saya telah melihat berbagai tingkatan para wali Allah. Namun saya tidak pernah melihat seperti keutamaan tiga orang ini; Ahmad bin Hanbal yang sulit bagi perempuan manapun untuk bisa melahirkan orang sepertinya, Bisyr bin al-Harits yang seluruh tubuhnya dari ujung kepada hingga kaki penuh dengan kecerdasan, dan Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam yang seakan sebuah gunung yang telah ditiupkan ilmu-ilmu kepadanya”.

Dalam kesempatan lain Ibrahim al-Harbi berkata: “Baghdad tidak pernah melahirkan orang yang lebih cerdas dan lebih terjaga ucapannya dari pada Bisyr bin al-Harits. Seakan setiap helai rambutnya penuh dengan kecerdasan dan lidahnya tidak pernah sedikitpun mengenal kata-kata ghibah. Andaikan kecerdasan Bisyr bin al-Harits dibagi-bagikan kepada seluruh penduduk Baghdad maka semua orang akan menjadi cerdas dengan tanpa berkurang sedikitpun dari kecerdasannya”.

Bin Khallikan menyebutkan bahwa Bisyr al-Hafi wafat pada bulan Rabi’ al-Akhir tahu 226 Hijriah. Pendapat lain mengatakan tahun 227 Hijriah. Pendapat lain menyebutkan wafat hari rabu 10 Muharram di Baghdad. Ada pula yang menyebutkan wafat pada bulan Ramadlan di Moro.

Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan bahwa jenazahnya dikeluarkan setelah shalat subuh. Diriwayatkan dari Abu Hafsh; anak salah seorang saudara perempuan Bisyr, bahwa ia mendengar rintihan jin-jin yang berada di rumahnya karena kematian Bisyr.

Amaddanâ Allah Min Amdâdih.

_________________

[1] Biografi Bisyr al-Hafi lebih lengkap lihat al-Qusyairi, ar-Risâlah, h. 404-406. as-Sulami, Thabaqât al-Sufiyyah, h. 42-50. Bin Sa’ad, Thabaqât,j. 7, h. 432. Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliyâ’, j. 8, h. 379-404. al-Khathib al-Baghdadi, Târikh Baghdad, h. j. 7, h. 71-83. Bin al-Jauzi, Shafwah al-Shafwah, j. 2, h. 183. adz-Dzahabi, Siyar, j. 10, h. 469. Bin Katsir, al-Bidâyah, j. 10, h. 297-299. asy-Sya’rani, ath-Thabaqât,j. 1, h. 84.

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru