Senin, November 28, 2022
spot_img
BerandaTanzihDi antara Dalil Aqli dan Dalil Naqli Dalam Kesucian Allah Dari Arah,...

Di antara Dalil Aqli dan Dalil Naqli Dalam Kesucian Allah Dari Arah, Duduk, dan Bertempat atau Bersemayam di Atas ‘Arsy

Di antara Dalil Aqli Dan Dalil Naqli Dalam Kesucian Allah Dari Arah, Duduk, Dan bertempat atau Bersemayam Di Atas ‘Arsy

Dalil Dari Al-Qur’an

Dalil dari Al-Qur’an menunjukan bahwa Allah maha suci dari arah, duduk, dan bertempat (bersemayam) di atas ‘Arsy di antaranya adalah Firman Allah:

ليس كمثلِه شىء (سورة الشورى: 11)

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu apapun”. (Q.S as-Syura: 11). Ini adalah ayat paling jelas dalam menetapkan kesucian Allah dari menyerupai makhluk (at-Tanzîh) dengan kesucian yang total (at-Tanzîh alKulli). Maknanya sangat luas. Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah bukan benda, Dia tidak berada pada satu arah, atau banyak arah, atau di semua arah. Allah maha suci dari berada di atas ‘Arsy, di bawah ‘Arsy, sebelah kanan atau sebelah kiri ‘Arsy. Allah juga maha suci dari sifat-sifat benda seperti bergerak, diam, berubah, berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain, dan sifat-sifat benda lainnya. Maka ayat ini menjelaskan bagi kita bahwa Allah bukan benda dan tidak bersifat dengan sifat-sifat benda. Allah tidak menyerupai segala benda yang memiliki ruh, seperti manusia, jin, Malaikat, atau lainnya, juga tidak menyerupai segala benda mati yang tidak memiliki ruh. Allah tidak menyerupai segala benda yang berada di arah atas, juga tidak menyerupai segala benda yang ada di arah bawah.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وللهِ المثَلُ الأعلى (سورة النحل: 60)

”Dan bagi Allah segala sifat-sifat yang agung” (Q.S an-Nahl: 60). Makna ayat ini adalah bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh siapapun selain-Nya, dan bahwa Allah tidak bersifat dengan sifat-sifat makhluk-Nya, seperti berubah, berkembang, berada pada tempat, bertempat atau bersemayam pada ‘Arsy. Allah maha suci dari itu semua.

Baca juga: Penjelasan Sifat Kalam Allah Bukan Huruf, Suara Dan Bahasa

Ahli tafsir terkemuka; Abu Hayyan al-Andalusi dalam kitab tafsir karyanya menuliskan:

(وللهِ المثَلُ الأعلى) أي الصفة العليا من تنزيهه تعالى عن الولد والصاحبة وجميع ما تنسب الكفرةُ إليه مما لا يليق به تعالى كالتشبيه والانتقال وظهوره تعالى في صورة. اهـ

“Firman Allah “Wa Lillâhil Matsalul A’lâ” (Q.S an-Nahl: 60), artinya bahwa Allah memiliki sifat agung; dari kesucian-Nya dari anak, istri, dan segala apa yang disandarkan oleh orang-orang kafir kepada-Nya dari sesuatu yang tidak sesuai bagi-Nya; seperti adanya keserupaan, berpindah-pindah, dan tampil-Nya dalam suatu bentuk [fisik]”[1]. [Demikian perkataan Abu Hayyan al-Andalusi].

Dalil Dari Hadits

Adapun dalil dari hadits tentang kesucian Allah dari tempat dan arah maka cukup banyak, di antaranya sabda Rasulullah:

كان الله ولم يكن شىءٌ غيره (رواه البخاري والبيهقي)

“Allah ada tanpa permulaan dan tidak ada sesuatu apapun selain-Nya” (H.R al-Bukhari dan al-Baihaqi)[2]. Makna hadits ini bahwa Allah Azali, artinya ada tanpa permulaan, dan tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya, tidak ada air, tidak ada udara, tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada Kursi, tidak ada ‘Arsy, tidak ada manusia, tidak ada jin, tidak ada malaikat, tidak ada waktu, dan tidak ada tempat. Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah. Allah yang telah menciptakan tempat dan arah, maka Allah tidak membutuhkan kepada keduanya. Allah tidak disifati dengan berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, karena perubahan tanda makhluk.

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

اللّهمّ أنتَ الأوّلُ فَليسَ قَبلَكَ شَىءٌ، وأنْتَ البَاطِنُ فلَيسَ دُونَكَ شَىءٌ، وأنْتَ الظّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىءٌ وَأنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىءٌ (رَوَاهُ مُسلم وَغيـرُه)

“Ya Allah Engkau al-Awwal (tidak bermula) maka tidak ada sesuatu apapun sebelum-Mu, Engkau al-Âkhir (tidak binasa) maka tidak ada sesuatu apapun sesudah-Mu, Engkau azh-Zhâhir (yang segala sesuatu menunjukan bagi keberadaan-Nya) maka tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bâthin (yang tidak dapat diraih oleh akal pikiran) maka tidak ada sesuatu apapun di bawahmu”. (HR Muslim dan lainnya)[3]. Al-Hâfizh Abu Bakr al-Baihaqi berkata:

استدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه ـ أي عن الله ـ بقول النبي صلى الله عليه وسلم: “أنت الظاهر فليس فوقك شىء، وأنت الباطن فليس دونك شىء”، وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان. اهـ

“Sebagian Ash-hab kami (yaitu ulama Asy’ariyyah Syafi’iyyah) mengambil dalil dalam menafikan tempat dari Allah dengan sabda Rasulullah: “Engkau [ya Allah] azh-Zhâhir maka tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bâthin maka tidak ada sesuatu apapun di bawahmu”, jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”[4]. [Demikian perkataan al-Hafizh al-Baihaqi]

Dalil Dari Ijma’

Semua orang Islam telah sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di langit, dan tidak di Arsy. Allah ada tanpa permulaan, sebelum ada Arsy, sebelum ada langit, sebelum ada tempat dan arah, maka setelah menciptakan tempat Allah tetap ada sebagaimana pada sifat-Nya semula yang Azaliy; yaitu ada tanpa tempat. Berikut ini kita kutip sebagian perkataan ulama dalam Ijma’ umat Islam di atas keyakinan tersebut.

Al-Imâm Abdul Qahir bin Thahir at-Tamimiy al-Baghdadi (w 429 H) menuliskan:

وأجمعوا (أي أهل السنة والجماعة) على أنه (أي الله) لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان

“Dan mereka semua (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah sepakat bahwa Dia (Allah) tidak diliputi oleh tempat dan waktu tidak berlaku bagi-Nya”[5].

Imam al-Haramain Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini asy-Syâfi’i ( w 478 H) berkata:

ومذهب أهل الحق قاطبة أن الله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيّز والتخصص بالجهات

“Madzhab Ahlul Haqq (Ahlussunnah Wal Jama’ah) seluruhnya adalah bahwa Allah maha suci dari bertempat dan dari menetapa pada segala arah”[6].

Al-Imâm al-Mufassir Fakhruddin ar-Razi (w 606 H) menuliskan:

إنعقد الإجماع على أنه سبحانه ليس معنا بالمكان والجهة والحيّز

“Telah terjadi kesepakatan (Ijma’) bahwa Allah bersama kita bukan dalam makna tempat, arah dan ruang”[7].

Isma’il asy-Syaibani al-Hanafi (w 629 H) berkata:

قال أهل الحق : إن الله تعالى متعالٍ عن المكان، غيرُ متمكِّنٍ في مكان، ولا متحيز إلى جهة خلافًا للكرّامية والمجسمة

“Ahlul Haq (kelompok yang benar) berkata: Sesungguhnya Allah maha suci dari tempat, Dia tidak berada pada suatu tempat, tidak berada pada suatu arah, pendapat ini berbeda dengan keyakinan kaum al-Karramiyyah dan al-Mujassimah (yang mengatakan Allah bertempat di arsy)”[8].

Saifuddin al-Amidi (w 631 H) berkata:

وما يُروى عن السلف من ألفاظ يوهم ظاهرها إثبات الجهة والمكان فهو محمول على هذا الذي ذكرنا من امتناعهم عن إجرائها على ظواهرها والإيمان بتنزيلها وتلاوة كل ءاية على ما ذكرنا عنهم، وبيَّن السلف الاختلاف في الألفاظ التي يطلقون فيها، كل ذلك اختلاف منهم في العبارة، مع اتفاقهم جميعًا في المعنى أنه تعالى ليس بمتمكن في مكان ولا متحيّز بجهة

“Dan adapun apa yang diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf tentang beberapa redaksi yang zahirnya seakan menetapkan adanya tempat dan arah (bagi Allah) maka itu semua harus dipahami di atas apa yang telah kita jelaskan; ialah bahwa teks-teks tersebut tidak boleh dipahami dalam makna zahirnya, kita wajib beriman dengan seluruh apa yang datang dalam al-Qur’an, kita membaca setiap ayat atas apa yang telah kami sebutkan dari para ulama Salaf tersebut. Para ulama Salaf telah menjelaskan perbedaan pendapat mereka dalam redaksi-redaksi yang mereka ungkapkan, dan perbedaan pendapat itupun hanya dalam redaksi saja (bukan dari segi makna); oleh karena semua mereka telah bersepakat bahwa Allah tidak berada pada tempat dan tidak berada pada arah”[9].

Ibnu Jahbal (w 733 H) berkata:

وها نحن نذكر عقيدة أهل السنة، فنقول: عقيدتنا أن الله قديم أزليٌّ، لا يُشبِهُ شيئًا ولا يشبهه شىء، ليس له جهة ولا مكان

“Berikut ini kami sebutkan aqidah Ahlussunnah, kita katakan: Aqidah kami bahwa Allah tidak bermula (Qadim; Azaliy), Dia tidak menyerupai suatu apapun dan tidak ada apapun yang menyerupai-Nya, tidak ada tempat dan arah bagi-Nya”[10].

Tajuddin as-Subki asy-Syâfi’i al-Asy’ari (w 771 H) mengutip perkataan Fakhruddin ibn Asakir (w. 620 H), yang berkata:

إن الله تعالى موجود قبل الخلق ليس له قَبْلٌ ولا بَعْدٌ، ولا فوقٌ ولا تحتٌ، ولا يمينٌ ولا شمالٌ، ولا أمامٌ ولا خَلْفٌ

“Sesungguhnya Allah ada sebelum segala makhluk ada, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, tidak ada bagi-Nya atas dan bawah, tidak ada bagi-Nya samping kanan dan samping kiri, dan juga tidak ada bagi-Nya arah depan dan arah belakang”, kemudian Tajuddin as-Subki berkata:

هذا ءاخر العقيدة وليس فيها ما ينكره سُنّي

“Ini adalah aqidah yang terakhir yang tuliskan, di dalamnya tidak ada sesuatu apapun yang diingkari oleh seorang berfaham Ahlussunnah”[11].

Penilaian as-Subki di atas dibenarkan pula oleh al-Hâfizh al-Muhaddits Shalahuddin al-Ala-i (w 761 H); seorang ahli hadits terkemuka, beliau berkata:

وهذه العقيدة المرشدة جرى قائلها على المنهاج القويم، والعَقْد المستقيم، وأصاب فيما نزَّه به العليَّ العظيم

al-Aqidah al-Mursyidah (risalah akidah berisi petunjuk kebenaran) ini; penulisnya berada di atas jalan yang benar dan keyakinan yang lurus, dia telah tepat dalam mensucikan Allah yang maha Agung”[12].

Muhammad Mayyarah al-Maliki (w 1072 H) berkata:

أجمع أهل الحق قاطبة على أن الله تعالى لا جهة له، فلا فوق ولا تحت ولا يمين ولا شمال ولا أمام ولا خلف

“Seluruh Ahlul Haq telah sepakat (Ijma’) bahwa Allah tidak ada arah bagi-Nya, maka Dia tidak di atas, tidak di bawah, tidak di samping kanan, tidak di samping kiri, tidak arah depan, dan juga tidak di arah belakang”[13].

Syaikh al-Azhar; Salim al-Bisyri (w 1335 H) berkata:

مذهب الفرقة الناجية وما عليه أجمع السُّنّيون أن الله تعالى منزه عن مشابهة الحوادث مخالف لها في جميع سمات الحدوث ومن ذلك تنزهه عن الجهة والمكان

“Madzhab kelompok yang selamat, dan keyakinan yang telah disepakati (Ijma’) oleh seluruh orang di kalangan Ahlussunnah bahwa Allah maha suci dari menyerupai seluruh makhluk, Dia tidak sama dengan makhluk-makhluk-Nya tersebut dalam seluruh tanda-tanda kebaharuan mereka, di antara kesucian-Nya bahwa Dia maha suci dari arah dan tempat”[14].

Perkataan Salim al-Bisyri ini dikutip dan disetujui oleh Salamah al-Qudla’i dalam karyanya berjudul “Furqân al-Qur’ân Bayn Shifât al-Khâliq Wa Shifât al Akwân”.

Yusuf ad-Dajwi al-Mishri (w 1365 H); anggota perkumpulan ulama terkemuka al-Azhar Mesir, menuliskan:

واعلم أن السلف قائلون باستحالة العلو المكاني عليه تعالى، خلافًا لبعض الجهلة الذين يخبطون خبط عشواء في هذا المقام، فإن السلف والخلف متفقان على التنزيه

“Ketahuilah bahwa kaum Salaf telah menetapkan bahwa arah atas (tempat) adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah, pendapat ini berbeda dengan orang-orang bodoh; mereka yang berjalan dalam kebingungan dalam masalah ini (yaitu mereka yang menetapkan tempat dan arah bagi Allah), sesungguhnya kaum Salaf dan Khalaf telah sepakat di atas keyakinan mensucikan Allah”[15].

Yusuf ad-Dajwi juga berkata:

هذا إجماع من السلف والخلف

“Ini (kesucian Allah dari arah dan tempat) adalah konsensus (Ijma’) dari Salaf dan Khalaf”[16].

Salamah al-Qudla-i al Azami asy-Syâfi’i (w 1376 H) berkata:

أجمع أهل الحق من علماء السلف والخلف على تنزه الحق ـ سبحانه ـ عن الجهة وتقدسه عن المكان

“Ahlul Haq (Ahlussunnah Wal Jama’ah) dari kalangan Salaf dan Khalaf telah sepakat di atas mensucikan Allah dari tempat dan arah”[17].

Al-Muhaddits Muhammad Arabi at-Tabban al-Maliki; pengajar di Madrasah al-Falah dan di Masjid al-Haram Mekah, (w 1390 H) menuliskan:

اتفق العقلاء من أهل السنة الشافعية والحنفية والمالكية وفضلاء الحنابلة وغيرهم على أن الله تبارك وتعالى منزه عن الجهة والجسمية والحد والمكان ومشابهة مخلوقاته

“Orang-orang berakal (yang cerdas) di kalangan Ahlussunnah dari mereka yang bermadzhab Syafi’i, bermadzhab Hanafi, bermadzhab Maliki, dan orang yang utama dari mereka yang bermadzhab Hanbali, juga dari lainnya mereka semua telah sepakat bahwa Allah maha suci dari arah, suci dari tubuh, dari batasan, dari tempat, dan Dia maha suci dari menyerupai suatu apapun dari segala makhluk-Nya”[18].

Termasuk yang telah menetapkan dan memperjuangkan kebenaran aqidah suci yang telah menjadi ijma’ ini, –sebagaimana ia kutip dalam banyak karyanya dan dalam berbagai kesempatan pengajarannya– adalah al-Muhaddits al-‘Allâmah asy-Syaikh Abdullah al-Harari yang dikenal dengan sebutan al-Habasyi. Beliau sangat konsen dalam memperjuangkan dan mengajarkan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Beliau berkata:

قال أهل الحق نصرهم الله؛ إن الله سبحانه وتعالى ليس في جهة

“Ahlul Haq, -semoga pertolongan Allah selalu tercurah bagi mereka-, berkata: Sesungguhnya Allah ada tanpa arah”[19].

Baca buku: Aqidah Imam Empat Madzhab

Sesungguhnya Rasulullah telah mengingatkan kita sebagai umatnya untuk mewaspadai kelompok-kelompok sesat, di antaranya dalam sebuah hadits beliau bersabda:

وإنه سيخرج من أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه، لا يبقى عرق ولا مفصل إلا دخله

“Sesungguhnya akan keluar (datang) dari umatku beberapa golongan yang mengalir pada diri mereka berbagai macam kesesatan sebagaimana mengalir penyakit anjing gila (al-Kalab) pada tubuh seorang yang terjangkit olehnya, tidak tersisa urat atau persendian dari tubuhnya kecuali itu semua akan dijangkiti oleh penyakit tersebut” (HR. Abu Dawud)[20].

Saudaraku, pertahankanlah aqidah suci ini, perjuangkan ia dengan segala daya dan upaya. Inilah aqidah mayoritas umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, kelompok yang telah dijamin keselamatannya oleh Rasulullah. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita di atas keyakinan suci ini.

Dalil ‘Aqli

Adapun dalil akal menunjukan bahwa Allah maha suci dari duduk, bersemayam, tempat dan arah, kita katakan bahwa dasar keyakinan yang dianut oleh ulama Tauhid Ahlussunnah ialah bahwa akal sehat tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Syari’at. Sebaliknya, akal sehat adalah sebagai saksi bagi kebenaran Syari’at itu sendiri. Al-Hâfizh al-Khathib al-Baghdadi berkata:

الشرع إنما يرد بمجوزات العقول، وأما بخلاف العقول فلا. اهـ

“Ajaran Syari’at sesungguhnya datang sejalan dengan setiap akal yang sehat, adapaun [datang] dengan menyalahi akal [sehat] maka itu tidak terjadi”[21].

Perhatikan argumen logis dari al-Imâm Abu Sa’id al-Mutawalli asy-Syâfi’i (w 478 H) tentang kesucian Allah dari tempat dan arah dalam kitab al-Ghunyah Fî Ushûliddîn, sebagai berikut:

والغرض من هذا الفصل نفي الحاجة إلى المحل والجهة خلافًا للكرّامية والحشوية والمشبهة الذين قالوا إن لله جهة فوق. وأطلق بعضهم القول بأنه جالس على العرش مستقر عليه، تعالى الله عن قولهم. والدليل على أنه مستغن عن المحل أنه لو افتقر إلى المحل لزم أن يكون المحل قديمًا لأنه قديم، أو يكون حادثًا كما أن المحل حادث، وكلاهما كفر. والدليل عليه أنه لو كان على العرش على ما زعموا، لكان لا يخلو إما أن يكون مِثْل العرش أو أصغر منه أو أكبر، وفي جميع ذلك إثبات التقدير والحد والنهاية وهو كفر. والدليل عليه أنه لو كان في جهة وقدرنا شخصًا أعطاه الله تعالى قوة عظيمة واشتغل بقطع المسافة والصعود إلى فوق لا يخلو إما أن يصل إليه وقتًا ما أو لا يصل إليه. فإن قالوا لا يصل إليه فهو قول بنفي الصانع لأن كل موجودين بينهما مسافة معلومة، وأحدهما لا يزال يقطع تلك المسافة ولا يصل إليه يدل على أنه ليس بموجود. فإن قالوا يجوز أن يصل إليه ويحاذيه فيجوز أن يماسه أيضًا، ويلزم من ذلك كفران: أحدهما: قدم العالم، لأنا نستدل على حدوث العالم بالافتراق والاجتماع. والثاني: اثبات الولد والزوجة. اهـ

“Dan tujuan dari pasal ini adalah menafikan kebutahan Allah kepada tempat dan arah, berbeda dengan golongan Karramiyyah, Hasyawiyyah dan Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas, bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy, bertempat (bersemayam) di atasnya. Allah Maha Suci dari keyakinan mereka. Dalil bahwa Allah tidak butuh kepada tempat adalah karena bila Dia membutuhkan kepada tempat maka berarti tempat tersebut adalah qadim (tidak bermula) sebagaimana Allah Qadim. Atau sebaliknya, bila Allah membutkan tempat maka berarti Allah baharu sebagaimana tempat itu sendiri baharu. Dan kedua pendapat semacam ini adalah keyakinan kufur. Kemudian bila Allah bertempat atau bersemayam di atas ‘Arsy, seperti keyakinan mereka, maka berarti Allah tidak lepas dari tiga keadaan, bisa sama besar dengan ‘Arsy, atau lebih kecil dari ‘Arsy, atau lebih besar dari ‘Arsy. Dan semua pendapat semacam ini adalah kufur, karena telah menetapkan adanya ukuran, batasan dan bentuk bagi Allah. Dalil akal lain bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah ialah jika kita umpamakan seseorang diberi kekuatan besar oleh Allah untuk dapat naik terus menerus ke arah atas maka di atas keyakinan mereka hal ia memiliki dua kemungkinan; bisa jadi ia sampai kepada-Nya pada suatu waktu tertentu, atau bisa jadi ia tidak sampai kepada-Nya. Jika mereka mengatakan tidak sampai maka berarti mereka telah menafikan adanya Allah, padahal keduanya telah ditetapkan dengan adanya jarak, maka seandainya salah satunya menempuh jarak tersebut secara terus menerus namun ternyata tidak sampai juga maka berati sesuatu tersebut adalah nihil; tidak ada. Kemudian jika mereka mengatakan bahwa orang yang naik tersebut bisa sampai kepada-Nya maka berarti dalam keyakinan mereka Allah dapat menempel dan dapat disentuh, dan ini jelas keyakinan kufur.  Kemudian dari pada itu, keyakinan semacam ini juga menetapkan adanya dua kekufuran lain. Pertama; berkeyakinan bahwa alam ini qadim, tidak memiliki permulaan. Karena dalam keyakinan kita salah satu bukti yang menunjukan bahwa alam ini baharu ialah adanya sifat berpisah dan bersatu yang ada padanya. Kedua; keyakinan tersebut sama juga dengan menetapkan kebolehan adanya anak dan isteri bagi Allah”[22]. [Demikian perkataan Abu Sa’id al-Mutawalli].

Al-Imâm al-Ghazali (w 505 H) dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn menuliskan:

الاستواء لو ترك على الاستقرار والتمكن لزم منه كون المتمكِّن جسمًا مماسًا للعرش: إما مثله أو أكبر منه أو أصغر، وذلك محال، وما يؤدي إلى المحال فهو محال. اهـ

al-Istiwâ’ jika diartikan dengan makna bersemayam atau bertempat maka hal ini mengharuskan bahwa sesuatu yang bertempat di atas ‘Arsy tersebut adalah benda (jism) yang menempel bagi ‘Arsy, yang ia itu bisa jadi sama besar dengan ‘Arsy, atau lebih besar dari ‘Arsy, atau lebih kecil dari ‘Arsy, dan itu semua adalah mustahil, dan sesuatu yang menunjukan kepada perkara mustahil maka ia itu mutahil”[23]. [Demikian tulisan al-Ghazali].

Kemudian al-Hâfizh al-Muhaddits al-Imâm as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Hanafi (w 1205 H) dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihya’ ‘Ulûmiddîn dalam menjelaskan perkataan al-Imâm al-Ghazali di atas menuliskan sebagai berikut:

وتحقيقه أنه تعالى لو استقر على مكان أو حاذى مكانًا لم يخل من أن يكون مثل المكان أو أكبر منه أو أصغر منه، فإن كان مثل المكان فهو إذًا متشكل بأشكال المكان حتى إذا كان المكان مربعًا كان هو مربعًا أو كان مثلَّثا كان هو مثلَّثا وذلك محال، وإن كان أكبر من المكان فبعضه على المكان، ويُشْعِرُ ذلك بأنه متجزىء وله كلٌّ ينطوي على بعض، وكان بحيث ينتسب إليه المكان بأنه ربعه أو خمسه، وإن كان أصغر من ذلك المكان بقدر لم يتميز عن ذلك المكان إلا بتحديد وتتطرق إليه المساحة والتقدير، وكل ما يؤدي إلى جواز التقدير على البارىء تعالى فتجوّزه في حقه كفر من معتقِدِه، وكل من جاز عليه الكون بذاته على محل لم يتميز عن ذلك المحل إلا بكون، وقبيح وصف البارىء بالكون، ومتى جاز عليه موازاة مكان أو مماسته جاز عليه مباينته، ومن جاز عليه المباينة والمماسة لم يكن إلا حادثًا، وهل علمنا حدوث العالم إلا بجواز المماسة والمباينة على أجزائه. وقصارى الجهلة قولهم: كيف يتصوّر موجود لا في محل؟ وهذه الكلمة تصدر عن بدع وغوائل لا يَعْرِفُ غورَها وقعرها إلا كلُّ غوّاص على بحار الحقائق، وهيهات طلب الكيفية حيث يستحيل محال. والذي يَدْحَضُ شُبَهَهُمْ أن يُقال لهم: قبلَ أن يَخْلُقَ العالم أو المكانَ هل كان موجودًا أم لا؟ فمِن ضرورة العقلِ أن يقول: بلى، فيلزمه لو صحَّ قولُه: لا يُعلمُ موجود إلا في مكان أَحَدُ أمرين: إما أن يقول: المكان والعرش والعالم قديم، وإما أن يقول: الربُّ تعالى محدَثٌ، وهذا مآلُ الجهلة والحشويةِ، ليس القديمُ بالمحدَثِ، والمُحدَثُ بالقديم. ونعوذ بالله من الحَيْرة في الدين. اهـ

“Penjabaran kebenarannya ialah bahwa jika Allah bersemayam di suatu tempat atau membayangi di atas suatu tempat maka Allah tidak lepas dari; sama besar dengan tempat tersebut, atau lebih besar darinya atau lebih kecil darinya. Jika Allah sama besar dengan tempat tersebut maka berarti Allah membentuk sesuai bentuk tempat itu sendiri, jika tempat itu segi empat maka Allah segi empat, jika tempat itu segi tiga maka Allah segi tiga. Ini jelas sesuatu yang mustahil. Kemudian jika Allah lebih besar dari ‘Arsy maka berarti sebagian-Nya di atas ‘Arsy dan sebagian yang lainnya tidak berada di atas ‘Arsy. Ini berarti memberikan paham bahwa Allah sebagai bagian-bagian yang satu sama lainnya saling tersusun. Kemudian jika ‘Arsy lebih besar dari Allah maka berarti sama dengan mengatakan bahwa besar-Nya hanya seperempat ‘Arsy, atau seperlima ‘Arsy dan seterusnya. Juga jika Allah lebih kecil dari ‘Arsy, -seberapapun kecilnya- maka itu berarti mengharuskan akan adanya ukuran dan batasan bagi-Nya. Tentu ini adalah kufur dan sesat. Seandainya Allah Yang Azali ada pada tempat yang juga azali maka berarti tidak akan dapat dibedakan antara keduanya, kecuali jika dikatakan bahwa Allah ada terkemudian setelah tempat itu, dan jika demikian jelas sesat karena berarti Allah itu baharu, karena ada setelah tempat. Kemudian jika dikatakan bahwa Allah bertempat dan menempel di atas ‘Arsy maka berarti boleh pula dikatakan bahwa Allah dapat terpisah dan menjauh atau meningalkan ‘Arsy itu sendiri. Padahal sesuatu yang menempel dan terpisah pastilah sesuatu yang baharu. Bukankah kita mengetahui bahwa setiap komponen dari alam ini sebagai sesuatu yang baharu karena semua itu memiliki sifat menempel dan terpisah?! Hanya orang-orang bodoh dan berpemahaman pendek saja yang berkata: Bagaimana mungkin Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah? Karena perkataan semacam itu tidak muncul kecuali dari seorang ahli bid’ah yang menyerupakan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya. Sesungguhnya Allah yang menciptakan sifat-sifat benda (kayf) maka mustahil Allah bersifat dengan sifat-sifat benda. –Artinya, Allah tidak boleh dikatakan bagi-Nya “bagaimana (kayf)”, karena “bagaimana (kayf)” adalah sifat benda–. Di antara bantahan yang dapat membungkam mereka, katakan kepada mereka: Sebelum Allah menciptakan alam ini dan menciptakan tempat apakah Dia ada atau tidak ada? Tentu mereka akan menjawab: Ada. Kemudian katakan kepada mereka: Jika demikian di atas dasar keyakinan kalian -bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki tempat- terdapat dua kemungkinan kesimpulan, Pertama; kalian berpendapat bahwa tempat, ‘Arsy dan seluruh alam ini qadim, tanpa permulaan, [sebagaiaman Allah tanpa permulaan]-, atau Kedua; kalian berpendapat bahwa Allah itu baharu [sebagaiamana alam ini baharu]. Jelas, keduanya adalah sesat. Itulah kesimpulan keyakinan orang-orang bodoh dari kaum Hasyawiyyah. Sesungguhnya Yang Maha Qadim (Allah) itu jelas bukan makhluk. Dan sesuatu yang baharu (makhluk) jelas bukan yang Maha Qadim (Allah). Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang rusak”[24]. [Demikian tulisan al-Hâfizh az-Zabidi].

Al-Imâm Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal Abidin Ali ibn al-Husain (w 148 H) berkata:

من زعم أنّ الله في شىءٍ، أو من شىءٍ، أو على شىءٍ فقد أشرك. إذ لو كان على شىءٍ لكان محمولاً، ولو كان في شىءٍ لكان محصورًا، ولو كان من شىءٍ لكان محدثًا. اهـ

“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia telah berlaku syirik (menyekutukan Allah), karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia dibatasi, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baharu (makhluk)”[25]. [Demikian perkataan al-Imâm ‘Ali Zainal ‘Abidin].

Al-Imâm al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Hanafi, berkata:

ونقرّ بأنّ الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجةٌ إليه واستقرارٌ عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياجٍ، فلو كان محتاجًا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجًا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوًّا كبيرًا. اهـ

“Dan kita menetapkan adanya ayat “ar-Rahmân ‘Alâ al-’’Arsy Istawâ” (sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an) dari tanpa bahwa Allah tidak membutuhkan kepada ‘Arsy tersebut, dan tanpa bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara ‘Arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka berarti Dia tidak kuasa untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya, seperti para makhluk-Nya. Dan jika Allah membutuhkan kepada duduk dan bersemayam, maka sebelum menciptakan ‘Arsy di manakah Allah? Allah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung”[26]. [Demikian perkataan al-Imâm Abu Hanifah].

Al-Imâm al-Fakhr ar-Razi menuliskan sebagai berikut:

المسألة الثانية: المشبهة تعلقت بهذه الآية في أن معبودهم جالس على العرش وهذا باطل بالعقل والنقل من وجوه: أحدها: أنه سبحانه وتعالى كان ولا عرش ولا مكان، ولما خلق الخلق لم يحتجْ إلى مكان بل كان غنيًّا عنه، فهو بالصفة التي لم يزل عليها إلا أن يزعُمَ زاعم أنه لم يزل مع الله عرش. وثانيها: أن الجالس على العرش لا بد وأن يكون الجزء الحاصل منه في يمين العرش غير الحاصل في يسار العرش، فيكون في نفسه مؤلَّفًا مركَّبًا، وكل ما كان كذلك احتاج إلى المؤلِّف والمركِّب، وذلك محال. وثالثها: أن الجالس على العرش إما أن يكون متمكنًا من الانتقال والحركة أو لا يُمْكِنُه ذلك، فإن كان الأول فقد صار محل الحركة والسكون فيكون مُحْدَثًا لا محالة، وإن كان الثاني كان كالمربوط بل كان كالزَّمِن بل أسوأ حالاً منه، فإن الزَّمِنَ إذا شاء الحركة في رأسه وحدقته أمكنه ذلك وهو غير ممكن على معبودهم. ورابعها: هو أن معبودهم إما أن يحصل في كل مكان أو في مكان دون مكان، فإن حصل في كل مكان لزمهم أن يحصل في مكان النجاسات والقاذورات وذلك لا يقوله عاقل، وإن حصل في مكان دون مكان افتقر إلى مخصص يخصِّصه بذلك المكان فيكون محتاجًا وهو على الله محال. اهـ

“Masalah kedua; Kaum Musyabbihah menjadikan ayat ini sebagai rujukan dalam menetapkan keyakinan mereka bahwa Tuhan mereka duduk, bertempat atau bersemayam di atas Arsy. Pendapat mereka ini jelas batil, terbantahkan dengan dalil akal dan dalil naql dari berbagai segi; Pertama: Bahwa Allah ada tanpa permulaan. Dia ada sebelum menciptakan Arsy dan tempat. Dan setelah Dia menciptakan segala makhluk Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, tidak butuh kepada tempat, Dia Maha Kaya dari segala makhluk-Nya. Artinya bahwa Allah Azali -tanpa permulaan- dengan segala sifat-sifat-Nya, Dia tidak berubah. Kecuali bila ada orang berkeyakinan bahwa Arsy sama azali seperti Allah. (Dan jelas ini kekufuran karena menetapkan sesuatu yang azali kepada selain Allah)”. Kedua: Bahwa sesuatu yang duduk di atas Arsy dipastikan adanya bagian-bagian pada dzatnya. Bagian dzatnya yang berada di sebelah kanan Arsy jelas bukan bagian dzatnya yang berada di sebelah kiri Arsy. Dengan demikian maka jelas bahwa sesuatu itu adalah merupakan benda yang memiliki bagian-bagian yang tersusun. Dan segala sesuatu yang memiliki bagian-bagian dan tersusun maka ia pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam susunannya tersebut. Dan hal itu jelas mustahil atas Allah. Ketiga: Bahwa sesuatu yang duduk di atas Arsy dipastikan ia berada di antara dua keadaan; dalam keadaan bergerak dan berpindah-pindah atau dalam keadaan diam sama sekali tidak bergerak. Jika dalam keadaan pertama maka berarti Arsy menjadi tempat bergerak dan diam, dan dengan demikian maka Arsy berarti jelas baharu. Jika dalam keadaan kedua maka berarti ia seperti sesuatu yang terikat, bahkan seperti seorang yang lumpuh, atau bahkan lebih buruk lagi dari pada orang yang lumpuh. Karena seorang yang lumpuh jika ia berkehendak terhadap sesuatu ia masih dapat menggerakan kepada atau kelopak matanya. Sementara tuhan dalam keyakinan mereka yang berada di atas Arsya tersebut diam saja. Keempat: Jika demikian berarti tuhan dalam keyakinan mereka ada kalanya berada pada semua tempat atau hanya pada satu tempat saja tidak pada tempat lain. Jika mereka berkeyakinan pertama maka berarti menurut mereka tuhan berada di tempat-tempat najis dan menjijikan. Pendapat semacam ini jelas tidak akan diungkapkan oleh seorang yang memiliki akal sehat. Kemudian jika mereka berkeyakinan kedua maka berarti menurut mereka tuhan membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam kekhususan tempat dan arah tersebut. Dan semacam ini semua mustahil atas Allah”[27]. [Demikian tulisan al-Fakr ar-Razi].

_______________
[1] An-Nahr al-Madd, j. 2, h. 253
[2] Shahîh al-Bukhâri; Kitâb Bad’i al-Khalq.
[3] Shahîh Muslim; Kitâb adz-Dzikr wa ad-Du’â wa at-Tawbah wa al-Istighfâr.
[4] Al-Asmâ’ Wa ash-Shifât; Bâb Mâ Jâ’a Fî al-‘Arsy Wa al-Kursiy, h. 400
[5] Al Farq Bain al Firaq, h. 333
[6] Al Irsyad, h. 58
[7] Tafsir ar-Razi, populer dengan nama atTafsir alKabir, j. 29, h. 216
[8] Lihat penjelasan beliau terhadap alAqidah athThahawiyyah yang dinamakan dengan Bayan I’tiqad Ahl as Sunnah, h. 45
[9] Ghayah al Maram Fi ‘Ilm al Kalam, h. 194
[10] Thabaqat as Syafi’iyyah al Kubra, Tarjamah Ahmad ibn Yahya ibn Isma’il, j. 9, h. 35
[11] Thabaqat asy-Syafi’iyyah alKubra, dalam biografi Abdirrahman ibn Muhammad ibn al Hasan, j. 8, h. 186
[12] Thabaqat asy-Syafi’iyyah alKubra, j. 8, h. 185
[13] AdDurr atsTsamin, h. 30
[14] Furqan al-Qur’an (Dicetak bersama kitab al Asma’ Wa ash Shifat karya al-Bayhaqi), h. 74
[15] Majalah al-Azhar, Jilid 9, vol 1, h. 17, Muharram t. 1357 H.
[16] Majalah al-Azhar, Jilid 9, vol 1, h. 17, Muharram t. 1357 H.
[17] Furqan al-Qur’an (Dicetak bersama kitab al Asma’ Wa ash Shifat karya al-Bayhaqi), h. 93
[18] Bara’ah al-Asy’ariyyin Min Aqa’id al Mukhalifin, j. 1, h. 79
[19] Izh-har al ‘Aqidah as Sunniyyah, h. 127
[20] Sunan Abi Dawud, Kitab as Sunnah, Bab Syarh as Sunnah.
[21] al-Faqîh Wa al-Mutafaqqih, h. 94
[22] al-Ghunyah Fî Ushûliddîn, h. 73-75
[23] Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, j. 1, h. 128
[24] Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn, j. 2, h. 109
[25] al-Qusyairi, ar-Risâlah al-Qusyairiyyah, h. 6. Al-Imâm Ja’far ash Shadiq adalah Imam terkemuka dalam fiqih, ilmu, dan keutamaan. Lihat ats Tsiqat, Ibn Hibban, j. 6, h. 131
[26] Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah al-Imâm Abu Hanifah tahqîq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syaikh Abdullah al-Harari dalam ad-Dalîl al-Qawîm, h. 54, dan Mulla Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 70.
[27] at-Tafsîr al-Kabîr, QS. Thaha: 5, j. 11, juz. 22, h. 5-6

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru