Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaAhlussunnah Wal Jama'ahHadits-Hadits Menyebutkan Keutamaan Kaum Asy’ariyyah

Hadits-Hadits Menyebutkan Keutamaan Kaum Asy’ariyyah

Siapakah Ahlussunnah Wal Jama'ah Yang Sebenarnya? (Bagian 8)

Sangat banyak hadits Rasulullah yang secara langsung menyebutkan keutamaan kaum Asy’ariyyah. Beberapa di antaranya dikutip oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahîh-nya. Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî menuliskan sub judul tentang ini yang ia menamakannya dengan:

باب ذكر ما رزق أبو الحسن الأشعري رحمه الله تعالى من شرف الأصل وما ورد في تنبيه ذوي الفهم على كبر محله في الفضل

“Bab dalam menyebutkan tentang karunia yang telah diraih oleh al-Imâm Abul Hasan dari kemuliaan kakek-kakeknya terdahulu, dan penjelasan para ulama tentang keluhuran kedudukan dan keutamaan al-Imâm Abul Hasan”.[1]

Kemudian al-Imâm Abu Asakir menuliskan beberapa hadits yang terkait dengan sub judul tersebut lengkap dengan seluruh sanad masing-masing. Al-Imâm al-Bukhari sendiri dalam kitab Shahîh-nya menuliskan satu sub judul yang beliau namakan dengan “Bab tentang kedatangan kaum Asy’ariyyah dan para penduduk Yaman”.

Sub judul ini berisi beberapa hadits yang menerangkan tentang keutamaan-keutamaan para sahabat Rasulullah dari kaum Asy’ariyyah dan penduduk Yaman yang hijrah ke Madinah hingga meraka menjadi orang-orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah. Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut ini.

Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari Dan Muslim Dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari

Dari sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari -semoga ridla Allah selalu terlimpah baginya- dari Rasulullah bersabda:

إنّ الأشْعَرِيّيْنَ إذَا أرْمَلُوْا فِي الْغَزْوِ أوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِيْنَةِ جَمَعُوْا مَا عِنْدَهُمْ فِي آنِيَةٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوْهُ بَيْنَهُمْ بِالسّوِيّةِ، فَهُمْ مِنِّي وَأنَا مِنْهُمْ (رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya orang-orang Asy’ariyyah apa bila mereka telah turun ke medan perang, atau apa bila persediaan makanan mereka di Madinah sangat sedikit maka mereka akan mengumpulkan seluruh makanan yang mereka miliki dalam satu wadah, kemudian makanan tersebut dibagi-bagikan di antara mereka secara merata. Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).[2]

Baca juga: Ahlussunnah Wal Jama’ah Adalah Kelompok Mayoritas

Sabda Rasulullah ini memberikan penjelasan tentang sifat-sifat para sahabatnya dari kaum Asy’ariyyah, yaitu para sahabat yang datang dari wilayah Yaman. Dalam hadits ini Rasulullah memuji mereka, bahkan hingga beliau mengatakan “Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. Anda perhatikan dan resapi sabda Rasulullah bagian terakhir ini. Ucapan beliau pada penggalan terakhir tersebut adalah bukti yang sangat kuat tentang keutamaan orang-orang Asy’ariyyah dari kalangan sahabat Rasulullah. Ini menunjukan bahwa moyang al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari dan kaumnya adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Rasullah, mereka semua telah benar-benar mendapatkan tempat dalam hati Rasulullah. Tentu sabda Rasulullah ini tidak hanya berlaku bagi kaum Asy’ariyyah dari para sahabat saja, namun juga mencakup bagi kaum Asy’ariyyah dari generasi berikutnya yang berasal dari keturunan mereka, karena sebagaimana telah kita jelaskan di atas bahwa doa dan berkah dari Rasulullah bagi seseorang akan mengenai keturunan-keturunan orang itu sendiri.

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî setidaknya dari dua jalur sanad yang berbeda. Selain oleh Ibn Asakir, hadits ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadits lainnya, di antaranya oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam dua kitab Shahîh-nya[3]. Dengan demikian telah nyata bagi kita bahwa hadits ini adalah Hadits Sahih yang sedikitpun tidak diperselisihkan.

Hadits Riwayat at-Tirmidzi Dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari

Dalam hadits lain dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari berkata: Telah bersabda Rasulullah:

نِعْمَ الْحَيُّ الأزدُ والأشْعَرِيّوْنَ لاَ يَفِرُّوْنَ فِي اْلقِتَالِ وَلاَ يَغْلُوْنَ هُمْ مِنِّي وَأنَا مِنْهُمْ (رواه البخاري والترمذي وأحمد وغيرهم)

“Sebaik-baiknya perkumpulan orang adalah kabilah Azad dan kaum Asy’ariyyah. Mereka adalah orang-orang yang tidak kenal mundur dari medan perang, dan mereka adalah kaum yang tidak berlebih-lebihan. Mereka adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari mereka”. (HR. al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).[4]

Pujian Rasulullah terhadap orang-orang Asy’ariyyah dalam hadits ini memberikan penjelasan yang nyata bagi kita tentang keutamaan kaum Asy’ariyyah. Seperti pada hadits nomor satu di atas sebelumnya, dalam hadits ini Rasulullah juga mengatakan “Mereka adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari mereka”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Asakir setidaknya dengan empat jalur sanad yang berbeda yang satu sama lainnya saling menguatkan. Dalam salah satu riwayat dari empat sanad tersebut bermakna demikian: “Kaum Azad dan kaum Asy’ariyyah adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari mereka. Mereka adalah kaum yang tidak berlebih-lebihan dan bukan kaum pengecut”.[5]

Selain oleh Ibn Asakir hadits ini telah diriwayatkan pula oleh para ahli hadits lainnya dalam banyak karya mereka, di antaranya oleh al-Imâm at-Tirmidzi dalam as-Sunan dan oleh lainnya.

Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari Dan Muslim Dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari

Dalam hadits lain dengan sanad-nya yang juga dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah telah bersabda:

إنّي لَأعْرِفُ أصْوَاتَ رُفْقَة الأشْعَريّينَ بالقُرءَان وإنْ كُنْتُ لَمْ أرَ مَنَازلَهُم حِيْنَ نَزَلُوا بالنّهَارِ وأعْرِفُ مَنَازِلَهُم مِنْ أصْوَاتِهِمْ بالقُرْءَانِ باللّيْلِ وَمِنْهُمْ حَكِيْمٌ إذَا لَقِيَ الْخَيل أوْ قَالَ اْلعَدوّ قَالَ لَهُمْ إنّ أصْحَابِي يأمُرُونَكُمْ أنْ تَنْتَظِرُوْهُمْ (رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya saya benar-benar telah mengetahui suara-suara -indah- dari orang-orang Asy’ariyyah dalam bacaan al-Qur’an mereka, sekalipun saya tidak mengetahui di manakah rumah-rumah yang mereka singgahi di siang hari. Dan aku menjadi tahu rumah-rumah tempat tinggal mereka karena dari suara indah mereka dalam membaca al-Qur’an di malam hari. Di antara mereka ada Hakim (seorang bijak) yang apa bila bertemu dengan segerombolan penunggang kuda atau sekelompok musuh ia akan berkata kepada mereka: Sesungguhnya sahabat-sahabatku memerintahkan kepada kalian untuk menunggu mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)[6]

Baca juga: Memahami Ijtihad Dan Taqlid

Hadits ini mengandung beberapa intisari terkait dengan keutamaan kaum Asy’ariyyah, di antaranya sebagai berikut:

(Satu): Kaum Asy’ariyyah sejak zaman Rasulullah dikenal sebagai orang-orang yang memiliki suara indah dalam membaca al-Qur’an. Bahkan secara khusus Rasulullah berkata kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari: “Laqad Ûtîta Mizmâran Min Mazâmîr Dâwûd”. Artinya bahwa Abu Musa al-Asy’ari adalah salah seorang yang telah diberi karunia suara yang indah, seakan indahnya suara Nabi Dawud.

(Dua): Dari hadits di atas kita dapat memahami bahwa Rasulullah memiliki perhatian khusus terhadap kaum Asy’ariyyah. Beliau tidak hanya memiliki perhatian terhadap suara indah mereka, namun juga beliau mengetahui secara persis rumah-rumah atau tempat tinggal mereka.

(Tiga): Hadits ini memberikan pemahaman bahwa membaca al-Qur’an dengan suara keras di malam hari adalah sesuatu yang baik, tentunya dengan catatan suara tersebut tidak mengganggu aktifitas orang lain, juga tentunya bacaan tersebut bukan untuk tujuan sombong atau agar dipuji oleh orang lain.

(Empat): Penyebutan Hakîm” dalam redaksi hadits di atas memiliki dua kemungkinan makna. Satu pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud adalah sifat bagi salah seorang dari kaum Asy’ariyyah tersebut. Secara garis besar dapat diartikan sebagai seorang yang bijak, atau salah seorang terkemuka di antara mereka. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud Hakîm” adalah nama salah seorang dari mereka[7].

(Lima): Perkataan: Hakîm” (seorang yang bijak) apa bila bertemu dengan segerombolan penunggang kuda atau sekelompok musuh: “Sesungguhnya sahabat-sahabatku memerintahkan kepada kalian untuk menunggu” memiliki dua pengertian.

(Pertama): dalam pengertian berhadapan dengan musuh; bahwa hakim ini bukan seorang pengecut, dengan kebulatan tekad dan keberaniannya ia balik menantang mereka dengan mengatakan kepada mereka untuk tidak meninggalkan tempat dan bahwa teman-temannya berharap bisa berhadapan dengan mereka.

(Kedua): Dalam pengertian bertemu dengan segerombolan penunggang kuda dari orang-orang Islam yang hendak turun ke medan perang, di mana Hakîm ini berkata kepada mereka: “Sesungguhnya sahabat-sahabatku meminta kepada kalian untuk menunggu -karena mereka akan ikut bersama kalian-”. Artinya bahwa kaum Asy’ariyyah adalah seorang yang selalu siap siaga untuk turun ke medan perang bersama[8].

Kualitas hadits ini shahih, telah diriwayatkan oleh para ahli hadits terkemuka, di antaranya oleh al-Imâm Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam kitab Shahîh masing-masing. Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî setidaknya mengutip empat jalur sanad berbeda dalam menyebutkan hadits ini[9]. Sebagaimana diketahui, telah dinyatakan para ahli hadits bahwa suatu hadits jika memiliki jalur sanad yang banyak maka kualitas hadits tersebut bertambah kuat, termasuk salah satunya hadits ini. Namun demikian sudah lebih dari cukup bagi kita akan kualitas kebenaran hadits ini bahwa ia telah diriwayatkan oleh asy-Syaikhân; al-Bukhari dan Muslim. Bahkan di antara hadits dalam bab ini adalah sabda Rasulullah sebagai berikut:

إنِّي لَأَعْرِفُ أصْواتَ رُفْقَةِ الأشْعَرِيِّينَ بالقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ باللَّيْلِ، وأَعْرِفُ مَنازِلَهُمْ مِن أصْواتِهِمْ بالقُرْآنِ باللَّيْلِ (رواه البخاري ومسلم)

“sungguh benar-benar aku mengetahui suara perkumpulan orang-orang Asy’ariyyah dengan bacaan al-Qur’an mereka di malam hari, dan aku mengetahui rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka dengan bacaan al-Qur’an mereka di malam hari”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).[10]

Hadits Sahih Riwayat al-Bukahri Dan Muslim Dari Sahabat ‘Imran ibn al-Hushain

Dalam sebuah Hadits Sahih dari sahabat Imran ibn al-Hushain berkata: Suatu ketika aku mendatangi Rasulullah, aku ikatkan untaku di belakang pintu, lalu aku masuk. Tiba-tiba datang sekelompok orang dari Bani Tamim, lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Terimalah kabar kembira wahai Bani Tamim!”. Lalu Bani Tamim menjawab: “Engkau telah banyak memberi kabar gembira kepada kami, berilah kami yang lain!”. Setelah itu kemudian datang datang sekelompok orang dari Yaman. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena saudara-saudaramu dari Bani Tamim tidak mau menerimanya”. Kemudian orang-orang dari peneduduk Yaman tersebut menjawab: “Kami menerimanya wahai Rasulullah, dan sesungguhnya kami datang kepadamu untuk belajar tentang agama, juga hendak bertanya kepadamu tentang permulaan alam ini bagaimanakah kejadiannya?”. Lalu Rasulullah menjawab:

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ كَتَبَ فِي الذّكْرِ كُلَّ شَيءٍ ثُمّ خَلَقَ السّمَوَاتِ وَالأرْضَ (رواه البخاري وغيره)

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan (Azaly), tidak suatu apapun pada azal selain Dia. Dan adalah arsy-Nya berada di atas air. Kemudian Dia menuliskan di atas adz-Dzikr (al-Lauh al-mahfuzh) segala sesuatu, lalu Dia menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi”. (HR. Al-Bukhari dan lainnya)[11]

Ada penjelasan yang sangat penting terkait dengan hadits ini, sebagai berikut:

(Satu): Kualitas hadits ini shahih diriwayatkan oleh banyak ahli hadits, di antaranya al-Imâm al-Bukhari, al-Imâm al-Bayhaqi, al-Imâm Ibn al-Jarud dan lainnya. Cukup bagi kita tentang ke-shahih-annya bahwa hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahîh-nya. Bahkan al-Bukhari mengutip hadits ini dari berbagai jalur sanad dari al-A’masy, yang tentunya seluruh jalur sanad tersebut adalah shahih. Al-Imâm al-Bukhari sendiri meletakan hadits ini dalam kitab Shahîh-nya pada urutan pertama dalam sub judul “Bab tentang kedatangan kaum Asy’ariyyah dan para penduduk Yaman”.

(Dua): Pertanyaan orang-orang Asy’ariyyah kepada Rasulullah tentang permulaan alam bagaimanakah kejadiannya, memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebenarnya unsur-unsur Ilmu Kalam sudah berkembang sejak zaman Rasulullah. Dengan demikian sama sekali tidak berdasar pendapat yang mengatakan bahwa Ilmu Kalam sebagai ilmu yang tercela atau bid’ah sesat yang tidak pernah ada di masa Rasulullah dan para sahabatnya.

(Tiga): Pertanyaan orang-orang Asy’ariyyah kepada Rasulullah tentang permulaan alam memberikan petunjuk kepada kita bahwa Ilmu Kalam semacam itu yang telah mereka wariskan kepada anak cucu mereka dalam membahas segala permasalahan-permasalahan yang terkait dengan Ilmu Kalam itu sendiri. Artinya bahwa tradisi memperdalam Ilmu Kalam sudah dimulai oleh para sahabat Rasulullah, terutama oleh kaum Asy’ariyyah yang kemudian tradisi tersebut turun temurun di antara mereka hingga kemudian datang Imam Ahlussunnah; yaitu al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari yang telah berhasil memformulasikan Ilmu Kalam secara menyeluruh.

(Empat): Pertanyaan kaum Asy’ariyyah kepada Rasulullah tentang bagaimanakah kejadian alam memberikan pemahaman kepada kita bahwa dasar akidah yang telah diyakini sepenuhnya oleh kaum Asy’ariyyah adalah bahwa alam; atau segala sesuatu selain Allah adalah makhluk Allah yang semua itu memiliki permulaan. Artinya, sebelum mereka menghadap Rasulullah mereka sudah memiliki keyakinan kuat bahwa alam ini memiliki permulaan (hâdits), karena itu mereka bertanya bagaimana permulaan kejadian alam tersebut. Keyakinan ini; bahwa alam ini baru adalah dasar akidah yang telah diyakini dan diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Di kemudian hari, akidah ini; bahwa alam baharu adalah akidah yang gigih diperjuangkan oleh al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari saat beliau berhadapan dengan kaum filsafat, Dahriyyah, dan kelompok sesat lainnya..

(Lima): Hadits ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa segala sesuatu adalah makhluk Allah. Sebelum Allah menciptakan makhluk-makhluk tersebut tidak ada apapun selain-Nya. Tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada kursi, tidak ada arsy, tidak ada waktu, tidak ada tempat, dan tidak ada apapun, bahwa yang ada hanya Allah saja. Artinya, bahwa hanya Allah yang tidak memiliki permulaan (Azalyy). Dengan demikian hadits ini merupakan bantahan atas kaum filsafat yang mengatakan bahwa alam ini tidak bermula (Qadîm).

(Enam): Hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena tempat dan arah adalah makhluk Allah. Sebelum menciptakan tempat dan arah Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, maka demikian pula setelah menciptakan tempat dan arah Allah tetap ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena Allah tidak membutuhkan kepada ciptaan-Nya sendiri.

Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari Dan Muslim Dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari

Dalam Hadits Sahih dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari berkata:

“Telah sampai berita kepada kami tentang hijrahnya Rasulullah, dan kami saat itu berada di Yaman. Lalu kami keluar dari Yaman untuk hijrah kepada Rasulullah. Saya bersama dua orang saudara saya, dan saya adalah yang paling muda; keduanya adalah Abu Burdah dan Abu Ruhm. Bersama kami saat itu adalah kaumku (Asy’ariyyah) dalam rombongan sekitar lima puluh orang lebih. Kami menaiki perahu yang kemudian perahu tersebut membawa kami ke arah raja an-Najjasyi di negeri Habasyah. Di Habasyah kami bertemu dengan Ja’far ibn Abi Thalib. Lalu kami menetap beberapa saat di sana sebelum kemudian kami keluar besama-sama menuju Rasulullah. Dan kami sampai serta menghadap Rasulullah di Madinah ketika tanah Khaibar dibuka. (Seluruh orang yang hadir saat pembukaan tanah Khaibar tersebut masing-masing mendapatkan bagian harta rampasan yang telah dibagi-bagikan oleh Rasulullah. Sementara yang tidak hadir saat pembukaan Khaibar tersebut tidak mendapatkan suatu apapun, kecuali Rasulullah telah menyisihkan untuk Ja’far ibn Abi Thalib dan orang-orang yang hijrah di atas perahu bersama kami). Beberapa orang yang lebih dahulu telah sampai bersama Rasulullah (ke Madinah) berkata kepada kami: “Kami telah sampai dalam hijrah ini lebih dahulu dari pada kalian”. Dan adalah Asma’ binti Umais salah seorang dari kami (Asy’ariyyah) datang berziarah ke Hafshah; isteri Rasulullah, lalu tiba-tiba Umar masuk ke tempat Hafshah seraya berkata -karena melihat Asma’ bersamanya-: “Siapakah perempuan ini?” Hafshah menjawab: “Ia adalah Asma’ binti Umais”. Umar berkata: “Inikah perempuan dari Habasyah itu? Inikah perempuan laut itu?”. Asma’ menjawab: “Benar”. Lalu Umar berkata: “Kami telah mendahuli kalian dalam hijrah, maka kami lebih berhak terhadap Rasulullah dari pada kalian”. Tiba-tiba Asma’ marah sambil berkata: “Tidak demikian, demi Allah. Kalian hijrah bersama Rasulullah, dan Rasulullah sendiri yang memberi makan kepada orang yang lapar di antara kalian, dia yang memberi pelajaran kepada orang yang bodoh di antara kalian. Sementara kami berada di negeri yang sangat jauh dan banyak musuh (Habasyah), padahal hijrah yang kami lakukan ini tidak lain hanya karena Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah saya tidak akan makan dan tidak akan minum hingga saya mengadukan apa yang telah engkau katakan tersebut kepada Rasulullah, karena sesungguhnya dalam hijrah ini kami telah disakiti dan telah ditakut-takuti. Akan aku ceritakan ini semua kepada Rasulullah dan akan aku tanyai ia, demi Allah saya tidak akan berdusta, tidak akan berlebih-lebihan dan tidak akan aku tambah-tambahi”. Lalu ketika Rasulullah datang, Asma’ berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Umar berkata begini dan begini…”. Rasulullah berkata: “Lalu engkau menjawab apa?”. Asma’ berkata: “Aku menjawab begini dan begini…”. Rasulullah berkata: “Dia (Umar) tidak lebih berhak terhadap diriku dari pada kalian. Dia (Umar) bersama para sahabatnya hanya mendapatkan hijrah satu kali, sementara kalian (kaum Asy’ariyyah dan yang bersama mereka yang menaiki perahu) mendapatkan hijrah dua kali (yaitu hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Rasulullah di Madinah). Asma’ berkata: “Aku melihat Abu Musa dan saudara-saudaranya yang bersama dia di perahu mendatangiku sekelompok demi sekelompok menanyaiku tentang perkataan Rasulullah ini. Dan sesungguhnya tidak ada suatu apapun di dunia ini yang lebih dapat membuat mereka senang dan lebih agung di banding pernyataan Rasulullah tersebut bagi mereka”.  (HR. al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).[12]

Hadits Sahih Dari Sahabat Abu Umamah

Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah, berkata: Sesungguhnya Ka’ab ibn Ashim al-Asy’ari telah berkata kepadaku: “Suatu ketika, di masa Rasulullah masih hidup aku membeli gandum putih (kualitas kurang baik), lalu aku bawa ke isteriku. Tiba-tiba isteriku berkata: “Engkau meninggalkan gandum coklat yang lebih baik, malah engkau membeli gandum semacam ini?! Demi Allah, saya ini adalah orang yang telah dikawinkan oleh Rasulullah kepadamu, padahal engkau adalah orang yang tidak memiliki kata-kata baik, tidak memiliki tubuh yang menarik, dan bahkan tidak memiliki kekuatan”. Kemudian gandum tersebut aku olah sendiri menjadi roti. Setelah selesai aku hendak memanggil sahabat-sahabatku kaum Asy’ariyyah dari Ahli Suffah untuk makan bersamaku. Saat itu aku berkata kepada diriku: “Apakah layak aku dalam keadaan kenyang sementara saudara-saudaraku kelaparan?!”. Tiba-tiba isteriku mendatangi Rasulullah mengadukan perbuatanku tersebut. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, lepaskanlah aku dari orang yang telah engkau kawinkan kepadaku”. Lalu Rasulullah mengutus seseorang untuk memanggil Ka’ab ibn Ashim untuk mempertemukan dia dengan isterinya dan hendak menyampaikan pengaduan isterinya tersebut. Rasulullah berkata kepada perempuan tersebut: “Adakah hal lain yang hendak engkau sampaikan tentang suamimu selain hal itu?”. Perempuan tersebut menjawab: “Tidak ada”. Lalu Rasulullah berkata kepadanya: “Jika demikian apakah engkau menginginkan meminta cerai darinya hingga engkau kelak akan menjadi seperti bangkai keledai?! Ataukah engkau menginginkan seorang kaya yang pelit padahal dari setiap arahnya ia selalu dikelilingi oleh setan yang duduk bersamanya?! Apakah engkau tidak ridla bahwa aku telah menikahkanmu dengan seseorang yang berasal dari suatu kaum terbaik di mana matahari tidak akan pernah terbit terhadap kaum yang lebih baik dari mereka?!”. Kemudian perempuan tersebut berkata: “Wahai Rasulullah, sekarang aku telah ridla dengan pilihanmu”. Lalu perempuan tersebut berdiri dan menciumi kepala suaminya, seraya berkata: “Dari mulai sekarang aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku selamanya”[13].

Baca buku: Risalah Menjelaskan Kebathilan Pendapat Nur Muhammad Sebagai Makhluk Pertama

Anda perhatikan perkataan Rasulullah dalam hadits ini. Beliau mensifati kaum Asy’ariyyah sebagai sebaik-baiknya kaum, bahkan beliau mengatakan bahwa matahari tidak akan pernah terbit di atas suatu kaum yang lebih baik dari pada Asy’ariyyah. Fakta ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa hati Rasulullah sangat dekat kaum Asy’ariyyah. Lebih dari cukup bagi kita untuk membuktikan keutamaan kaum Asy’ariyyah adalah ketika Rasulullah berkata: “Hum Minnî Wa Anâ Minhum”, seperti yang telah kita sebutkan dalam hadits di atas.

Dengan demikian, atas dasar apa sebagian orang, terutama kaum Wahhabiyyah sekarang, dengan sangat membeci dan memerangi kaum Asy’ariyyah?! Tidakkah mereka sadar bahwa membenci kaum Asy’ariyyah, sekalipun yang dibenci generasi cucu-cucu mereka, sama saja dengan membenci kakek-kakek mereka yang notabene para sahabat Rasulullah?! Bukankah membenci sahabat Rasulullah sama saja dengan membenci Rasulullah?!

_____________________
[1] Ibnu ‘Asakir, Tabyîn Kadzib al-Mufatrî, h. 57
[2] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits nomor 2486, dan Muslim, Shahih Muslim, hadits nomor 2500.
[3] Ibnu ‘Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h. 57
[4] Al-Bukhari, at-Tarikh al-Kabir, 9/56, Ahmad, Musnad Ahmad, hadits nomor 17166, dan at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, hadits nomor 3947.
[5] Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Mufatri, h. 57-59
[6] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits nomor 4232, dan Muslim, Shahih Muslim, hadits nomor 2499.
[7] Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri, j. 7, h. 559
[8] Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri, j. 7, h. 559
[9] Ibnu ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Mufatri, h. 61-63
[10] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits nomor 4232, Muslim, Shahih Muslim, hadits nomor 2499
[11] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits nomor 3191, Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hibban, hadits nomor 6142, dan lainnya.
[12] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits nomor 4230, Muslim, Shahih Muslim, hadits nomor 2502, al-Bayhaqi, Dala-il an-Nubuwwah, 2/300, dan lainnya.
[13] Tabyîn Kadzib al-Muftarî dengan sanad yang cukup panjang dari hadits Abu Umamah, h. 68-69

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru