HADITS JIBRIL; IMAN DENGAN QADLA DAN QADAR

0
293

Iman kepada Qadla dan Qadar adalah pembahasan akhir dari pembahasan pokok-pokok keimanan yang enam (Ushul al-Iman as-Sittah). Dengan pembahasan ini semoga kita dapat memahami makna Qadla dan Qadar Allah dengan keimanan yang benar-benar kuat. Karena sekarang ini telah timbul beberapa orang bahkan beberapa kelompok yang mengingkari Qadla dan Qadar ini dan berusaha mengaburkannya, baik melalui tulisan-tulisan, maupun di bangku-bangku kuliah. Semoga kita selamat dari kekufuran. Amin.
Tentang kewajiban iman kepada Qadla dan Qadar, dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

الإيْمَانُ أنْ تُؤمِنَ باللهِ وَمَلاَئكِتَهِ وَكُتُبهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرّهِ (رواه مسلم)

“Iman ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hariakhir, dan engkau percaya kepada Qadar Allah, yang baik maupun yang buruk”. (HR.Muslim).

Al-Qadla maknanya al-Khalqu, artinya penciptaan. Dan al-Qadar maknanya at-Tadbir, artinya ketentuan. Secara istilah al-Qadar artinya ketentuan Allah atas segala sesuatu sesuai dengan pengetahuan (al-‘Ilm) dan kehendak-Nya (al-Masyi’ah) yang azali (tidak bermula), di mana sesuatu tersebut kemudian terjadi pada waktu yang telah ditentukan dan dikehendaki oleh-Nya terhadap kejadiannya.

Penggunaan kata “al-Qadar”terbagi kepada dua bagian. Pertama; bisa bermaksud bagi sifat “Taqdir” Allah, yaitu sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang ia kehendakinya. al-Qadar dalam pengertian sifat Taqdir Allah ini tidak boleh kita sifati dengan keburukan dan kejelekan. Karena sifat menentukan Allah terhadap segala sesuatu bukan suatu keburukan atau kejelekan. Tetapi sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya adalah sifat yang baik dan sempurna, sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Sifat-sifat Allah tersebut tidak boleh dikatakan buruk, kurang, atau sifat-sifat jelek lainnya.

Kedua; kata al-Qadar dapat bermaksud bagi segala sesuatu yang terjadi pada makhluk, atau disebut dengan al-Maqdur. Al-Qadar dalam pengertian al-Maqdur ini ialah mencakup segala apapun yang terjadi pada seluruh makhluk ini; dari keburukan dan kebaikan, kesalehan dan kejahatan, keimanan dan kekufuran, ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain. Makna yang kedua inilah yang maksud dengan hadits Jibril di atas, “Wa Tu’mina Bi al-Qadar, Khirihi Wa Syarrihi”, bahwa di antara pokok keimanan adalah beriman dengan al-Qadar, yang baiknya dan yang buruknya. Al-Qadar dalam hadits ini adalah dalam pengertian al-Maqdur.

Pemisahan makna antara sifat Taqdir Allah dengan al-Maqdur adalah sebuah keharusan. Hal ini karena sesuatu yang disifati dengan baik dan juga buruk, atau baik dan jahat, adalah hanya pada makhluk saja. Artinya, siapa yang melakukan kebaikan maka perbuatannya tersebut disebut “baik”, dan siapa yang melakukan keburukan maka perbuatannya tersebut disebut “buruk”. Dan penyebutan “baik dan buruk” seperti ini hanya berlaku pada makhluk saja. Adapun sifat Taqdir Allah, yaitu sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya, maka sifat-Nya ini tidak boleh dikatakan buruk. Sifat Taqdir Allah, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain, adalah sifat yang baik dan sempurna, ia tidak boleh dikatakan buruk atau jahat. Dengan demikian, bila seorang hamba melakukan keburukan, maka itu adalah perbuatan dan sifat yang buruk dari hamba itu sendiri. Adapun Taqdir Allah terhadap keburukan yang terjadi pada hamba itu bukan berarti Allah menyukai dan memerintahkan kepada keburukan tersebut. Begitu pula, Allah yang menciptakan kejahatan, bukan berarti Allah jahat. Inilah yang dimaksud bahwa kehendak Allah meliputi segala perbuatan hamba, terhadap yang baik maupun yang buruk.
Segala perbuatan yang terjadipada alam ini, baik kekufuran dan keimanan, ketaatan dan kemaksiatan, dan berbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan kehendak dan dengan penciptaan Allah. Hal ini menunjukan akan kesempurnaan Allah, serta menunjukan akan keluasan dan ketercakupan kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu. Karena bila seandainya pada makhluk ini terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki kejadiannya oleh Allah, maka berarti hal itu menafikan sifat ketuhanan-Nya, karena dengan demikian berarti kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak makhluk-Nya. Ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Karena itu dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

مَا شَاءَ اللهُ كاَنَ وَمَا لَمْ يَشَأ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)

“Apa yang dikehendaki oleh Allah -akan kejadiannya- pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehandaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian segala apapun yang dikehendaki oleh Allah terhadap kejadiannya maka semua itu pasti terjadi. Karena bila ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka hal itu menunjukkan akan kelemahan. Sedangkan sifat lemah itu mustahil atas Allah. Bukankah Allah maha kuasa?! Maka di antara bukti kekuasaannya adalah bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Oleh karena itu, dari sudut pandang syara’ dan akal, terjadinya segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah adalah perkara yang wajib, artinya wajib adanya dan pasti terjadi. Dalam hal ini Allah berfirman:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ (يوسف: 21)

“Allah maha mengalahkan (menang) di atas segala urusann-Nya”. (Artinya, segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi, tidak ada siapapun yang menghalangi-Nya). (QS.Yusuf: 21)

Allah menghendaki orang-orang mukmin dengan ikhtiar mereka untuk beriman kepada-Nya, maka mereka menjadi orang-orang yang beriman. Dan Allah menghendaki orang-orang kafir dengan ikhtiar mereka untuk kufur kepada-Nya, maka mereka semua menjadi orang-orang yang kafir. Seandainya Allah berkehendak semua makhluk-Nya beriman kepada-Nya, maka mereka semua pasti beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا (يونس: 99)

“Dan seandainya Tuhanmu (Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh yang ada di bumi ini akan beriman”. (QS. Yunus: 99).

Tetapi Allah tidak menghendaki semuanya beriman kepada-Nya. Namun demikian Allah memerintah mereka semua untuk beriman kepada-Nya. Maka di sini harus dipahami, bahwa “kehendak Allah” dan “perintah Allah” adalah dua hal berbeda. Tidak segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh-Nya. Dan tidak segala sesuatu yang diperintah oleh Allah adalah sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya.
Perkataan sebagian orang “Segala sesuatu adalah atas perintah Allah”, atau “Banyak sekali perbuatan kita yang tidak dikehendaki oleh Allah (maksudnya kemaksiatan-kemaksiatan)”, adalah perkataan yang salah. Karena Allah tidak memerintahkan kepada perbuatan-perbuatan maksiat atau kekufuran. Namun demikian, kejadian kemasiatan atau kekufuran tersebut adalah dengan kehendak Allah.

Perkataan yang benar ialah; Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya dan dengan Ilmu-Nya. Kebaikan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, serta kebaikan ini juga dengan perintah-Nya, mahabbah-Nya, dan dengan keridlaan-Nya. Sementara keburukan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, tapi tidak dengan perintah-Nya, tidak dengan mahabbah-Nya, dan tidak dengan keridlaan-Nya. Artinya keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan tidak disukai dan tidak diridlai oleh Allah. Dengan kata lain, segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, akan tetapi tidak semuanya dengan perintah Allah.

Diantara bukti yang menunjukan bahwa perintah Allah berbeda dengan kehendak-Nya adalah apa yang terjadi dengan Nabi Ibrahim. Beliau diberi wahyu lewat mimpi untuk menyembelih putranya; Nabi Isma’il. Hal ini merupakan perintah dari Allah atas Nabi Ibrahim. Kemudian saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ini, bahkan telah meletakan pisau yang sangat tajam dan menggerak-gerakannya di atas leher Nabi Isma’il, namun Allah tidak berkehendak terjadinya sembelihan terhadap Nabi Isma’il tersebut. Kemudian Allah mengganti Nabi Isma’il dengan seekor domba yang bawa oleh Malaikat Jibril dari surga. Peristiwa ini menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara perintah Allah dan kehendak-Nya.

Contoh lainnya, Allah memerintah kepada seluruh hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Akan tetapi Allah berkehendak tidak semua hamba tersebut beribadah kepada-Nya. Ada sebagian yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang-orang beriman, dan ada sebagian yang lain yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang-orang kafir. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)

“Dan tidaklah Aku (Allah)ciptakan manusia dan jin melainkan Aku perintahkan mereka untukmenyembah-Ku”. (QS. adz-Dzariyat: 56).

Makna firman Allah “Illa Li-Ya’budun”, artinya “Illa Li Amurahum Bi ‘Ibadati”. Bahwa Allah menciptakan manusia dan jin tidak lain ialah untuk Dia perintahkan mereka beribadah kepada-Nya. Makna ayat ini bukan “Aku (Allah) ciptakan manusia dan jin melainkan aku berkehendak pada mereka untuk menyembah-Ku”. Karena jika diartikan bahwa Allah berkehendak dari seluruh manusia dan jin untuk beriman atau beribadah kepada-Nya, maka berarti kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak orang-orang kafir. Karena pada kenyataannya tidak semua hamba beriman dan beribadah kepada Allah, tapi ada di antara mereka yang kafir dan menyembah selain Allah. Tentu mustahil jika kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak makhluk-makhluk-Nya sendiri.


Kisah Hikmah

Diriwayat kanbahwa suatu ketika seorang Majusi berbincang-bincang dengan seorang Qadari. Seorang Qadari (pengikut faham Qadariyyah) ialah orang yang berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan manusia sendiri, bukan ciptaan Allah. Kaum Qadariyyah adalah kaum yang ingkar terhadap Qadar Allah. Mereka mengaku sebagai orang-orang Islam, namun pada hakekatnya mereka adalah orang-orang kafir.

al-Qadari berkata kepada al-Majusi: “Wahai orang Majusi, masuk Islam-lah engkau!”.
Al-Majusi ini tahu bahwa Tuhan orang-orang Islam adalah Allah, maka ia menjawab: “Allah tidak berkehendak agar saya masuk Islam…!”.
Al-Qadari berkata: “Tidak begitu. Sesungguhnya Allah berkehendak supaya engkau masuk Islam. Namun engkau sendiri tetap berkehendak dalam kekufuranmu…!”.
Al-Majusi berkata: “Jika demikian, maka berarti kehendakku mengalahkan kehendak Tuhanmu. Karena buktinya sampai saat ini aku tidak berkehendak keluar dari agamaku…!”.

Al-Qadari terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa “menundukkan” orang majusi tersebut karena kesesatannya sendiri. Pertama; al-Qadari sesat karena ia berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan manusia itu sendiri. Kedua; ia sesat kerena ia tidak membedakah antara kehendak Allah (Masyi’ah Allah) dengan perintah Allah (Amr Allah).


Takdir Allah Tidak Berubah

Di atas telah dijelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa bila Allah menghendaki sesuatu akan terjadi pada seorang hamba-Nya, maka pasti sesuatu itu akan menimpanya, sekalipun orang tersebut bersedekah, berdoa, bersilaturrahim, dan berbuat baik kepada sanak kerabatnya; kepada ibunya, dan saudara-saudaranya. Artinya, apa yang telah ditentukan oleh Allah tidak dapat dirubah oleh amalan-amalan kebaikan.
Adapun hadits Rasulullah yang berbunyi:

لَا يَرُدُّ القَضاَءَ شَيءٌ إلّاالدُّعَاءُ (رواه الترمذي)

“Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla kecuali doa”. (HR. at-Tirmidzi).

Yang dimaksud dengan Qadla di dalam hadits ini adalah Qadla Mu’allaq. Disini harus kita ketahui bahwa Qadla terbagi kepada dua bagian: Qadla Mubrab dan Qadla Mu’allaq.

Pertama: Qadla Mubram, ialah ketentuan Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat berubah. Ketentuan ini hanya ada pada Ilmu Allah, tidak ada siapapun mengetahuinya selain Dia. Seperti ketentuan mati dalam keadaan kufur (asy-Syaqawah), dan mati dalam keadaan beriman (as-Sa’adah). Ketentuan dua hal ini tidak dapat berubah. Seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan beriman maka hanya hal itu yang akan terjadi padanya, tidak akan pernah berubah. Sebaliknya, seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan kufur maka pasti hal tersebut akan terjadi pada dirinya, tidak ada siapapun, dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat merubahnya. Allah berfirman:

يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ (النحل: 93)

“Allah menyesatkan terhadap orang yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”. (QS. an-Nahl: 93).

Kedua: Qadla Mu’allaq, yaitu ketentuan Allah yang berada pada lambaran-lembaran para Malaikat. Para Malaikat tersebut mengutipnya dari al-Lauhal-Mahfuzh. Seperti si fulan misalkan, apa bila ia berdoa maka ia akan berumur seratus tahun, atau akan mendapat rizki yang luas, atau akan mendapatkan kesehatan, dan seterusnya. Namun, misalkan si fulan ini tidak mau berdoa, atau tidak mau bersillaturrahim, maka umurnya hanya enam puluh tahun, ia tidak akan mendapatkan rizki yang luas, dan tidak akan mendapatkan kesehatan. Inilah yang dimaksud dengan Qadla Mu’allaq atau Qadar Mu’allaq, yaitu ketentuan-ketentuan Allah yang berada pada lebaran-lembaran para Malaikat.

Dari uraian ini dapat dipahami bahwa doa tidak dapat merubah ketentuan (Taqdir) Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya. Karena mustahil sifat Allah bergantung kepada perbuatan-perbuatan atau doa-doa hamba-Nya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya suatu apapun. Allah maha mengetahui perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulan dan apa yang akan terjadi padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh.

Namun demikian doa ini adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah atas para hamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)

“Dan jika hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalam pengertian jarak), Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memohon terkabulkan doa kepada-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 187)

Artinya bahwa seorang yang berdoa tidak akan sia-sia belaka. Ia pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga kebaikan; dosa yang diampuni, permintaan yang dikabulkan, atau mendapatkan kebaikan yang disimpan baginya untuk di kemudian hari kelak. Semua dari tiga kebaikan ini adalah merupakan kebaikan baginya. Dengan demikian maka tidak mutlak bahwa setiap doa yang dipintakan oleh para hamba pasti dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi ada yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan. Yang jelas, bahwa setiap doa yang dipintakan oleh seorang hamba kepada Allah adalah sebagai kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukan sebuah kesia-siaan belaka. Dalam keadaan apapun, seorang yang berdoa paling tidak akan mendapatkan salah satu dari kebaikan yang telah kita sebutkan di atas.


Allah Pencipta Segala Kebaikan Dan Keburukan

Akidah Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Namun demikian ada beberapa faham yang berusaha mengaburkan kebenaran ini dengan mengutip beberapa ayat yang sering disalahpahami oleh mereka. Di antaranya, mereka mengutip firman Allah:

بِيَدِكَ الْخَيْرُ (ءال عمرا: 26)

“… dengan kekuasaan-Mu (Ya Allah) segala kebaikan”. (QS. Ali ‘Imran: 26).

Mereka berkata: “Dalam ayat ini Allah hanya menyebutkan al-Khair (kebaikan) saja, Dia tidak menyebutkan asy-Syarr (keburukan). Dengan demikian Allah hanya menciptakan kebaikan saja, adapun keburukan bukan ciptaan-Nya?!”.

Jawab:
Kata asy-Syarr (keburukan) tidak disandingkan dengan kata al-Khair (kabaikan) dalam ayat di atas bukan berarti bahwa Allah bukan pencipta keburukan. Ungkapan semacam ini dalam istilah Ilmu Bayan (salah satu cabang Ilmu Balaghah) dinamakan dengan al-Iktifa’. Yaitu meninggalkan penyebutan suatu kata karena telah diketahui padanannya. Contoh semacam ini di dalam al-Qur’an firman Allah:

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ (النحل: 81)

“Dia (Allah) menjadikan bagi kalian pakaian-pakaian yang memelihara kalian dari dari panas”. (QS. an-Nahl:81)

Yang dimaksud ayat ini adalah pakaian yang memelihara kalian dari panas, dan juga dari dingin. Artinya, tidak khusus memelihara dari panas saja. Demikian pula dengan firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran:26 di atas bukan berarti Allah khusus menciptakan kebaikan saja, tapi yang yang dimaksud adalah menciptakan segala kebaikan dan juga segala keburukan.

Kemudian dari pada itu, dalam ayat lain dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ (الفرقان: 2)

“Dan Dia (Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu”. (QS. al-Furqan: 2)

Kata “Syai’”, yang secara hafiyah bermakna “sesuatu”, dalam ayat ini mencakup segala suatu apapun selain Allah. Mencakup segala benda dan semua sifat benda, termasuk segala perbuatan manusia, juga termasuk segala kebaikan dan segala keburukan Artinya, segala apapun selain Allah adalah ciptaan Allah.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ (ءال عمران: 26)

“Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. (QS.Ali ‘Imran: 26)

Dari makna firman Allah: “Engkau (Ya Allah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki”, kita dapat memahami bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan. Allah yang memberikan kerajaan kepada raja-raja kafir seperti Fir’aun, dan Allah pula yang memberikan kerajaan kepada raja-raja mukmin seperti Dzul Qarnain.

Adapun firman Allah:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ (النساء: 79)

Makna ayat ini bukan berarti kebaikan ciptaan Allah, sementara keburukan ciptaan manusia. Pemaknaan seperti ini adalah pemaknaan yang rusak dan merupakan kekufuran. Makna yang benar ialah -sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama- bahwa kata “Hasanah” dalam ayat di atas artinya nikmat, sedangkan kata “Sayyi’ah” artinya musibah atau bala (bencana). Dengan demikian makna ayat di atas ialah: “Segala apapun dari nikmat yang kamu peroleh adalah berasal dai Allah, dan segala apapun dari musibah dan bencana yang menimpamu adalah balasan dari kesalahanmu”. Artinya, amal buruk yang kamu lakukan dibalas oleh Allah dengan musibah dan bala.


Allah Pencipta Sebab Dan Akibat

Di dunia ini ada sesuatu yang dinamakan “sebab” dan ada yang dinamakan “akibat”. Misalnya, obat sebagai sebab bagi -akibat- sembuh, api sebagai sebab bagi -akibat- kebakaran, makan sebagai sebab bagi -akibat- kenyang, dan lain-lain. Akidah Ahlussunnah menetapkan bahwa sebab dan akibat ini tidak berlaku dengan sendirinya. Artinya, setiap sebab sama sekali tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Tapi keduanya, baik sebab maupun akibat, adalah ciptaan Allah dan dengan ketentuan (Taqdir) Allah. Dengan demikian, obat dapat menyembuhkan sakit karena kehendak Allah, api dapat membakar karena kehendak Allah, dan demikian seterusnya. Segala akibat dari segala sebabnya, jika akibat-akibat tersebut tidak dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya maka itu semua tidak akan pernah terjadi.

Dalam sebuah hadits Shahih, Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ خَلَقَ الدّوَاءَ وَخَلقَ الدَّاءَ فَإذاَ أُصِيْبَ دَوَاءُ الدّاء بَرِأ بإِذْنِ اللهِ (رواه ابن حبّان)

“Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala obat dan yang menciptakan segala penyakit. Apa bila obat mengenai penyakit maka sembuhlah ia dengan izin Allah”. (HR. Ibn Hibban).

Sabda Rasulullah dalam hadits di atas: “… maka sembuhlah ia dengan izin Allah” adalah bukti bahwa obat tidak dapat memberikan kesembuhan dengan sendirinya. Dan perkara ini nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering kita melihat banyak orang dengan berbagai macam penyakit, dalam berobat mereka mempergunakan obat yang sama, padahal jelas penyakit mereka bermacam-macam. Dan ternyata, sebagian orang tersebut ada yang sembuh, namun sebagian lainnya tidak sembuh. Tentunya apa bila obat bisa memberikan kesembuhan dengan sendirinya maka pastilah setiap orang yang mempergunakan obat tersebut akan sembuh, namun kenyataan tidak demikian. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullah: “… maka akan sembuh dengan izin Allah”.

Dengan demikian kita bisa mengetahui bahwa adanya obat tersebut adalah dengan kehendak Allah, demikian pula adanya kesembuhan sebagai akibat dari obat tersebut juga dengan kehendak dan ketentuan Allah. Obat dengan sendirinya tidak menciptakan kesembuhan. Demikian pula dengan sebab-sebab lainnya, semua itu tidakmenciptakan akibatnya masing-masing. Kesimpulannya, kita wajib berkeyakinanbahwa sebab tidak menciptakan akibat, akan tetapi Allah yang menciptakan segalasebab dan segala akibat.


Golongan-Golongan Dalam Masalah Qadla Dan Qadar

Dalam masalah Qadla dan Qadar umat Islam terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama disebut dengan golongan Jabriyyah, kedua disebut dengan golongan Qadariyyah, dan ketiga adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Golongan pertama dan golongan ke dua adalah golongan sesat, dan hanya golongan ke tiga yang selamat. Kelompok pertama, yaitu golongan Jabriyyah, berkeyakinan bahwa para hamba itu dipaksa (Majbur) dalam segala perbuatannya. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba sama sekali ia tidak memiliki usaha atau ikhtiar (al-Kasab) dalam perbuatannya tersebut. Bagi kaum Jabriyyah, manusia laksana sehelai bulu atau lakasana kapas yang terbang ditiup angin, ia mengarah ke manapun angin itu membawanya.

Keyakinan sesat kaum Jabriyyah ini bertentangan dengan firman Allah:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: 29)

“Dan kalian tidaklah berkehendak kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”. (QS.at-Takwir: 26).

Ayat ini memberikan penjelasan bahwa manusia diberi kehendak (al-Masyi’ah) oleh Allah. Hanya saja kehendak hamba tersebut dibawah kehendak Allah. Pemahaman ayat ini berbeda dengan keyakinan kaum Jabriyyah yang sama sekali menafikan Masyi’ah dari hamba.

Bahkan dalam ayat lain secara tegas dinyatakan bahwa manusia memiliki usaha dan ikhtiar (al-Kasb). Yaitu dalam firman Allah:

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ (البقرة: 286)

“Bagi setiap jiwa -balasan kebaikan- dari segala apa yang telah ia usahakan – dari amal baik-, dan atas setiap jiwa -balasan keburukan- dari segala apa yang ia usahakan -dari amal buruk-”. (QS. al-Baqarah: 286)

Kebalikan dari golongan Jabriyyah adalah golongan Qadariyyah. Kaum ini memiliki keyakinan bahwa manusia memiliki sifat Qadar (menentukan) dalam melakukan segala amal perbuatannya, tanpa adanya kehendak dari Allah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, tetapi manusia sendiri yang menciptakan perbuatan-perbuatannya tersebut. 

Terhadap golongan Qadariyyah yang berkeyakinan seperti ini kita tidak boleh ragu sedikitpun untuk mengkafirkannya. Mereka sama sekali bukan orang-orang Islam. Karenanya, para ulama kita-pun sepakat dalam mengkafirkan kaum Qadariyyah yang berkeyakinan semacam ini. Mereka telah menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Mereka juga telah menjadikan Allah lemah (‘Ajiz), karena dalam keyakinan mereka Allah tidak menciptakan segala perbuatan hamba-Nya. Padahal di dalam al-Qur’an Allah telah berfirman:

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ (الرعد: 16)

“Katakan (Wahai Muhammad), Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu”. (QS. ar-Ra’ad: 16)

Mustahil bagi Allah tidak kuasa atau lemah untuk menciptakan segala perbuatan hamba-Nya. Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala benda, dari mulai benda paling kecil bentuknya, yaitu adz-dzarrah, hingga benda yang paling besar, yaitu ‘arsy, termasuk tubuh manusia, yang notabene sebagai benda, juga ciptaan Allah. Artinya, bila Allah yang menciptakan segala benda tersebut, maka demikian pula Allah yang menciptakan segala sifat dari benda-benda tersebut, juga segala perbuatan-perbuatannya. Sangat mustahil jika satu benda diciptakan oleh Allah, tapi kemudian sifat-sifat benda tersebut diciptakan oleh benda itu sendiri. Karena itu al-Imam al-Bukhari telah menulis satu kitab berjudul “Khalq Af’al al-‘Ibad”, berisi penjelasan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, bukan ciptaan manusia itu sendiri.

Dengan demikian menjadi sangat jelas bagi kita kesesatan kaum Qadariyyah. Bahwa mereka adalah kaum yang kafir kepada Allah, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Mereka telah menjadikan Allah setara dengan makhluk-makhluk-Nya sendiri. Mereka tidak hanya menetapkan adanya satu sekutu bagi Allah, tapi mereka menetapkan banyak sekutu bagi-Nya. Karena dalam keyakinan mereka bahwa setiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya sendiri, sebagimana Allah adalah Pencipta bagi tubuh-tubuh semua manusia tersebut. Na’udzu Billah.

Golongan terakhir, yaitu Ahluassunnah Wal Jama’ah, adalah golongan yang selamat. Keyakinan golongan ini adalah keyakinan yang telah dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa, antar genarasi ke genarasi. Dan inilah keyakinan yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Mereka menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah. Hanya Allah yang menciptakan semua makhluk, dari segala dzat-dzat atau tubuh-tubuh mereka, hingga segala sifat-sifat dan perbuatannya masing-masing.

Perbuatan manusia terbagi kepada dua bagian. Pertama; Af’al Ikhtiyariyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi dengan inisiatif, dengan usaha, dan dengan ikhtiar dari manusia itu sendiri, seperti makan, minum, berjalan, dan lain-lain. Kedua; Af’al Idlthirariyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi pada diri hamba yang terjadi di luar usaha, dan di luar ikhtiar manusia itu sendiri, seperti detak jantung, aliran darah dalam tubuh, dan lain sebagainya. Seluruh perbuatan manusia ini, baik Af’al Ikhtiyariyyah, maupun Af’al Idlthirariyyah adalah ciptaan Allah.


Kesimpulan

Dari uraian di atas menjadi jelas bagi kita bahwa apapun yang terjadi di alam ini tidak lepas dari Qadla dan Qadar Allah. Artinya bahwa semuanya terjadi dengan penciptaan Allah dan dengan ketentuan Allah. Segala apa yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi pasti terjadi, dan segala apa yang tidak Dia kehendaki kejadiannya maka tidak akan pernah terjadi. Seandainya seluruh makhluk bersatu untuk merubah apa telah diciptakan dan ditentukan oleh Allah, maka sedikitpun mereka tidak akan mampu melakukan itu.
Bagi seorang yang beriman kepada al-Qur’an hendaklah ia berpegang teguh kepada firman Allah:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ (الأنبياء: 23)

“(Dia Allah) tidak ditanya (tidak diminta tanggung jawab) terhadap apa yang Dia perbuat, dan -justru- merekalah (para makhluk) yang akan diminta pertanggungjawaban”. (QS. al-Anbiya:23).

Kita dituntut untuk melaksanakan apa yang telah dibebankan di dalam syari’at. Bila kita melanggar maka kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya, dan bila kita patuh maka kita sendiri pula yang akan menuai hasilnya. Dalam hal ini kita tidak boleh meminta “tanggungjawab” atau “protes” kepada Allah. Kita tidak boleh berkata: “Mengapa Allah menyiksa orang-orang berbuat maksiat dan orang-orang kafir, padahal Allah sendiri yang berkehendak akan adanya kemaksiatan dan kekufuran pada diri mereka?”. Karena Allah tidak ada yang meminta tanggung jawab dari-Nya. Dia berhak melakukan apapun terhadap makhluk-makhluk-Nya karena semuanya adalah milik Allah.

Kita hendaklah bersyukur sedalamnya, bacalah “al-Hamdu Lillah”, pujilah Allah seluas-luasnya, karena Allah telah memberikan karunia besar kepada kita, Dia telah menjadikan kita sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya. al-Hamdulillah Rabbal-‘Alamin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here