Selasa, September 27, 2022
spot_img
BerandaPondasi ImanHadits JibrilHADITS JIBRIL; IMAN DENGAN KITAB-KITAB ALLAH

HADITS JIBRIL; IMAN DENGAN KITAB-KITAB ALLAH

Di antara Ushul al-Iman al-Sittah, setelah iman kepada Allah dan iman kepada Malaikat adalah iman kepada kitab-kitab-Nya. Iman kepada kitab-kitab Allah artinya mempercayai dan membenarkan bahwa Allah telah menurunkan beberapa Kitab sebagai wahyu kepada beberapa orang Nabi-Nya. Didalam hal ini, tidak ada keterlibatan, baik dari Nabi yang bersangkutan maupun dari para Malaikat, dalam penyusunan kalimat-kalimat maupun makna-makna bagi kitab-kitab tersebut.

Jumlah kitab-kitab Samawi yang diturunkan kepada para Nabi Allah adalah sebanyak 104 kitab. Sebanyak 50 kitab diantaranya diturunkan kepada Nabi Syits. Beliau adalah putra Nabi Adam yang diangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul setelah Nabi Adam wafat. Sebanyak 30 kitab diturunkan kepada Nabi Idris, 10 kitab kepada Nabi Ibrahim, 10 kitab kepada Nabi Musa sebelum diturunkan kitab at-Taurat, kemudian kitab at-Taurat kepada beliau, kitab az-Zabur kepada Nabi Dawud, kitab al-Injil kepada Nabi ‘Isa dan kitab al-Qur’an di turunkan kepada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad.

Adapun para Rasul yang tidak diturunkan kitab-kitab kepada mereka, Allah menurunkan bagi mereka ash-Shuhuf (lembaran-lembaran). Wahb ibn Munabbih, salah seorang ulama kaum Yahudi yang masuk Islam setelah Rasulullah wafat, berkata: “Aku telah membaca tujuh puluh kitab dari kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah”.

Seluruh para Nabi dan para Rasul Allah menyerukan ajaran tauhid. Menyerukan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.  Dan agama seluruh para Nabi tersebut hanya satu, yaitu agama Islam. Semua Nabi tersebut menyeru hanya kepada agama yang satu ini. Tentang hal ini Rasulullah bersabda:

الأنْبِيَاءُ إخْوَةٌلِعَلاَّتٍ دِيْنُهُمْ وَاحِدٌ وَأمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَأحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُمْ)

“Para Nabi (ibarat) saudara seayah, -artinya- agama mereka satu, dan ibu-ibu mereka (artinya syari’at-syari’at mereka) berbeda-beda”. (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad ibn Hanbal, Ibn Hibban dan lainnya).

Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang di turunkan. Ia adalah kitab yang membawahi kitab-kitab sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah QS. al-Ma’idah: 48. Artinya bahwa al-Qur’an menetapkan kebenaran isi kitab-kitab sebelumnya, sekaigus menjelaskan penyelewengan isi dan perubahan lafazh yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap kitab-kitab terdahulu tersebut.

Al-Qur’an, tidak seperti kitab-kitab sebelumnya yang telah banyak mengalami penyelewengan-penyelewengan pada isi (makna) dan perubahan-perubahan pada lafazh (at-Tahrif Wa at-tabdil). Kemurnian dan kebenaran al-Qur’an selalu terjaga. Hal ini sebagaimana dijanjikan Allah dalam firman-Nya:

إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذّكْرَ وَإنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ (الحجر:9)

“Sesungguhnya Kami (Allah) yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami (pula) yang menjaganya”. (QS. al-Hijr: 9)

Adapun kitab at-Taurat dan al-Injil yang sekarang beredar, keduanya telah banyak mengalami penyelewengan makna-makna dan perubahan lafazh-lafazhnya. Orang-orang Yahudi pada awal mulanya hanya merubah dan menyelewengkan makna kitab at-Taurat, tapi pada akhirnya mereka juga merubah dan menyelewengkan lafazh-lafazhnya. Allah  berfirman:

فَوَيْلٌ لِلًّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الكِتَابَ بِأيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً  فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ (البَقَرَةُ:79)

“Maka celaka besar bagi orang-orang yang menulis at-Taurat dengan tangan mereka sendiri lalu mereka menyatakan: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka celaka besar bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan celaka besar bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. al-Baqarah: 79)

Seperti halnya kitab at-Taurat, isi kitab al-Injil-pun telah diselewengkan oleh kaum Nashrani. Hal ini telah dibuktikan dengan banyaknya versi kitab Injil yang beredar. Versi yang satu tidak sama dengan versi lainnya. Bahkan saringkali ditemukan antara satu versi atausatu cetakan bertentangan dalam banyak hal dengan versi atau cetakan lainnya. Kitab-kitab al-Injil yang beragam versi ini antara lain, Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohana dan Injil Barnabas.

Perlu diketahui bahwa para pengikut Nabi Musa dan Nabi ‘Isa adalah orang-orang Islam, sebagaimana juga para pengikut Nabi-nabi lainnya. Adapun kaum Yahudi dinamakan dengan “Yahudi” adalah karena setelah beberapa orang pengikut Nabi Musa menyembah anak sapi yang dibuat dari emas oleh seorang bernama Musa as-Samiri, maka Nabi Musa sangat marah kepada mereka karena telah menyembah selain Allah. Kemudian Nabi Musa memilih tujuh puluh orang dari pengikutnya tersebut untuk melakukan tadharr’u (berserahdiri) kepada Allah. Lalu Nabi Musa dengan kepasrahannya yang total kepada Allah berkata:

إنَّا هُدْنَا إلَيْكَ (الأعْرَافُ:156)

“… sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaEngkau”. (QS. al-A’raf: 156)

Dengan demikian asal nama “Yahudi” diambil dari perkataan Nabi Musa: “Hudna”, yang artinya kami kembali, artinya kami bertaubat.

Sementara kaum Nashrani dinamakan dengan “Nashrani” adalah karena orang-orang muslim dari pengikut Nabi ‘Isa dahulu merupakan orang-orang yang membela Nabi ‘Isa dalam menegakan agama Islam yang dibawa olehnya (Anshar ‘Isa). Tentang hal ini Allah berfirman:

فلَمَّا أحَسَّ عِيْسَى مِنْ هُمُ الكُفْرَ قَالَ مَنْ أنْصَارِيْ إلىَ اللهِ قالَ الحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ أنْصَارُ اللهِ ءَامَنَّا بِاللهِ وَاشْهَدْ بِأنَّا مُسْلِمُوْنَ (ءَالِ عِمْرَانَ: 52)

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran Bani Israil, ia berkata: Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? Para sahabat setianya (al-Hawariyyun) menjawab: Kami adalah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Islam”. (QS. Ali ‘Imran: 52).

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa parapengikut Nabi Musa dahulu yang mendapat sebutan nama Yahudi dan pengikut Nabi ‘Isa dahulu yang mendapat sebutan nama Nashrani, bahwa pada awal mulanya mereka adalah orang-orang Islam. Yaitu ketika mereka masih setia mengikuti ajaran-ajaran Islam yang dibawa Nabi Musa dan Nabi ‘Isa sendiri. Hanya saja beberapa ratus tahun kemudian setelah Nabi Musa wafat, dan setelah nama Yahudi melekat pada diri mereka, banyak dari mereka yang kemudian menyeleweng dari ajaran-ajaran Nabi Musa sendiri.

Demikian pula yang terjadi dengan pengikut Nabi ‘Isa. Setelah lewat sekitar 300 tahun dari diangkatnya beliau oleh Allah ke langit, banyak dari para pengikut Nabi ‘Isa tersebut yang dengan menyandang nama Nashrani telah menyeleweng dari ajaran Nabi ‘Isa sendiri. Dan persisnya, setelah sekitar 500 tahun kemudian orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi ‘Isa ini semuanya telah menyeleweng dari ajaran yang dibawa Nabi ‘Isa. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengikuti ajaran Nabi ‘Isa dengan benar. Karenanya, setelah lewat 500 tahun tersebut tidak ada seorang pun dari mereka yang muslim.

Maka sebelum kemudian Nabi Muhammad diutus oleh Allah sebagai Rasul, secara praktis saat itu tidak ada lagi seorang muslim di atas mukabumi ini. Dengan demikian pengikut murni Nabi Musa yang mendapat sebutan Yahudi dan pengikut murni Nabi ‘Isa yang mendapat sebutan Nashrani sebenarnya mereka adalah orang-orang Islam. Hanya saja ketika sebagian dari mereka atau generasi-generasi setelah mereka menjadi orang-orang kafir kepada Allah, sebutan tersebut masih melekat pada mereka hingga mereka lebih dikenal dengan nama Yahudi dan Nashrani. Karena itu, Ahl al-Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran kitab at-Taurat dan kitab al-Injil namun mereka menyeleweng dari keduanya, mereka semua adalah orang-orang yang kafir kepada Allah. Tentang hal ini Allah berfirman:

يَا أهْلَ الكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَأنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ (ءَالِ عِمْرَانَ:70)

“Wahai Ahl al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), mengapa kalian kufur (mengingkari) ayat-ayat Allah, padahal kalian mengetahui (kebenarannya)”. (QS. Ali ‘Imran: 70)

Dalam beberapa kitab tentang sejarah hidup Rasulullah (Sirah Nabawiyyah) diterangkan bahwa Rasulullah menyeru Ahl al-Kitab untuk masuk ke dalam Islam. Ini artinya bahwa mereka adalah orang-orang kafir, karena Rasulullah tidak akan mengajak orang-orang Islam untuk masuk ke dalam Islam kembali. Rasulullah  bersabda:

مَا مِنْ يَهُوْدِيٍّ وَلاَ نَصْرَانِيٍّ يَسْمَعُ بِيْ ثُمَّ لاَ يُؤْمِنُ بِيْ وَبِمَا جِئْتُ بِهِ إلاَّ كَانَ مِنْ أصْحَابِ النَّارِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Tidaklah seorang Yahudi dan Nashrani yang telah mendengar tentang Aku kemudian tidak beriman kepadaku dan kepada (ajaran) yang aku bawa, kecuali ia akan tergolong penduduk neraka”. (HR. Muslim)

Al-Qur’an Kalam Allah

Ketika kita katakan: “al-Qur’an Kalam Allah”, maka dalam pemaknaannya terdapat dua pengertian:

Pertama: al-Qur’an dalam pengertian lafazh-lafazh yang diturunkan (al-Lafzh al-Munazzal), yang ditulis dengan tinta di antara lebaran-lembaran kertas (al-Maktub Bain al-Masha-hif), yang dibaca dengan lisan (al-Maqru’ Bi al-Lisan), dan dihapalkan didalam hati (al-Mahfuzh Fi ash-Shudur). al-Qur’an dalam pengertian ini maka tentunya ia berupa bahasa Arab, tersusun dari huruf-huruf, serta berupa suara saat dibaca.

Kedua: al-Qur’an dalam pengertian Kalam Allah  ad-Dzati. Artinya dalam pengertian salah satu sifat Allah yang wajib kita yakini, yaitu sifat al-Kalam. Sifat Kalam Allah ini, sebagaimana seluruh sifat-sifat Allah lainnya, tidak menyerupai makhluk-Nya. Sifat Kalam Allah tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, serta tidak menyerupai sifat kalam yang ada pada makhluk. Sifat kalam pada makhluk berupa huruf-huruf, suara dan bahasa. Adapun Kalam Allah  bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa.

 Al-Qur’an dalam pengertian pertama (al-Lafzh al-Munazzal) maka ia adalah makhluk. Dan al-Qur’an dalam pengertian yang kedua (al-Kalam adz-Dzati) maka jelas ia bukan makhluk. Namun demikian, al-Qur’an baik dalam pengertian pertama maupun dalam pengertian kedua tetap disebut “Kalam Allah”. Kita tidak boleh mengucapkan secara mutlak; “al-Qur’an Makhluk”. Sebab pengertian al-Qur’an ada dua; dalam pengertian al-Lafzh al-Munazzal dan dalam pengertian al-Kalam adz-Dzati, sebagaimana di atas.

Al-Qur’an dalam pengertian pertama adalah sebagai ungkapan dari sifat Kalam Allah adz-Dzati. Maka al-Qur’an yang berupa kitab yang kita baca dan kita hafalkan, tersusun dari huruf-huruf, dan dalam bentuk bahasa Arab, bukan sebagai Kalam Allah al-Dzati (sifat Kalam Allah), melainkan kitabtersebut adalah ungkapan (‘Ibarah)  dari Kalam Allah al-Dzati yang bukansuara, bukan huruf-huruf, dan bukan bahasa.

Sebagai pendekatan, apabila kita menulis lafazh “Allah” di papan tulis, maka hal itu bukan berarti bahwa “Allah” yang berupa tulisan itu Tuhan yang kita sembah. Melainkan lafazh atau tulisan “Allah” tersebut hanya sebagai ungkapan (‘Ibarah) bagi adanya Tuhan yang wajib kita sembah, yang bernama “Allah”. Demikian pula dengan “al-Qur’an”, ia disebut “Kalam Allah” bukan dalam pengertian bahwa itulah sifat Kalam Allah; berupa huruf-huruf, dan dalam bahasa Arab. Tetapi al-Qur’an yang dalam bentuk huruf-huruf dan dalam bentuk bahasa Arab tersebut adalah sebagai ungkapan dari sifat Kalam Allah adz-Dzati.

Dengan demikian harus dibedakan antara al-Lafzh al-Munazzal dan al-Kalam adz-Dzati. Sebab apa bila tidak dibedakan antara dua perkara ini, maka setiap orang yang mendengar bacaan al-Qur’an akan mendapatkan gelar “Kalimullah” sebagaimana Nabi Musa yang telah mendapat gelar “Kalimullah”. Tentu hal ini menjadi rancu dan tidak dapat diterima. Padahal, Nabi Musa mendapat gelar “Kalimullah” adalah karena beliau pernah mendengar al-Kalam adz-Dzati yang bukan berupa huruf, bukan suara dan bukan bahasa. Dan seandainya setiap orang yang mendengar bacaan al-Qur’an mendapat gelar “Kalimullah” seperti gelar Nabi Musa, maka berarti tidak ada keistimewaan sama sekali bagi Nabi Musa yang telah mendapatkan gelar “Kalimullah” tersebut.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّه (التوبة: 6)

“Dan apa bila seseorang dari orang-orang musyrik meminta perlidungan darimu (wahai Muhammad) maka lindungilah ia hingga ia mendengar Kalam Allah”. (QS. at-Taubah: 6)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memberikan perlidungan kepada seorang musyrik kafir yang diburu oleh kaumnya, jika memang orang musyrik ini meminta perlindungan darinya. Artinya, Orang musyrik ini diberi keamanan untuk hidup di kalangan orang-orang Islam hingga ia mendengar Kalam Allah. Setelah orang musyrik ini diberi keamanan dan mendengar Kalam Allah, namun ternyata ia tidak masuk Islam, maka ia dikembalikan ke wilayah tempat tinggalnya.

Kemudian, yang dimaksud bahwa orang musyrik tersebut “mendengar Kalam Allah” adalah mendengar bacaan kitab al-Qur’an yang berupa lafazh-lafazh dalam bentuk bahasa Arab (al-Lafzh al-Munazzal), bukan dalam pengertian mendengar al-Kalam adz-Dzati. Sebab jika yang dimaksud mendengar al-Kalam adz-Dzati maka berarti sama saja antara orang musyrik tersebut dengan Nabi Musa yang telah mendapatkan gelar “Kalimullah”. Dan bila demikian maka berarti orang musyrik tersebut juga mendaptkan gelar “Kalimullah”, persis seperti Nabi Musa. Tentunya hal ini tidak bisa dibenarkan.

Diantara dalil lainnya yang menguatkan bahwa al-Kalam adz-Dzati bukan berupa huruf-huruf, bukan suara, dan bukan bahasa adalah firman Allah:

وَهُوَ أسْرَعُ الحَاسِبِيْنَ (الأنْعَامُ:62)

“… dan Dia Allah yang menghisab paling cepat”. (QS.al-An’am: 62)

Pada hari kiamat kelak, Allah akan menghisab seluruh hamba-Nya dari bangsa manusia dan jin. Allah akan memperdengarkan kalam-Nya kepada setiap orang dari mereka. Dan mereka akan memahami dari kalam Allah tersebut pertanyaan-pertanyaan tentang segala apa yang telah mereka kerjakan, segala apa yang mereka katakan, dan apa yang mereka yakini ketika mereka hidup di dunia. Rasulullah  bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنُ أحَدٍ إلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانُ (رَوَاهُ البُخَارِيُّ)

“Setiap orang akan Allah perdengarkan Kalam-Nya kepadanya (menghisabnya) pada hari kiamat, tidak ada penerjemah antara dia dengan Allah”. (HR. al-Bukhari)

Allah akan menghisab seluruh hamba-Nya dalam waktu yang sangat singkat. Seandainya Allah menghisab mereka dengan suara, susunan huruf, dan dengan bahasa, maka Allah akan membutuhkan waktu beratus-ratus ribu tahun untuk menyelesaikan hisab tersebut, karena makhluk Allah sangat banyak. Kaum Ya’juj dan Ma’juj saja jumlah mereka 100 kalilipat dari jumlah seluruh manusia, bahkan dalam satu riwayat disebutkan jumlah mereka 1000 kali lipat dari jumlah manusia. Belum lagi bangsa jin yang sebagian mereka hidup hingga ribuan tahun. Manusia sendiri, sebelum umat Nabi Muhammad ada yang mencapai umurnya hingga 2000 tahun, ada yang berumur hingga 1000 tahun, dan ada pula yang hanya 100 tahun. Kelak mereka semua akan dihisab, bukan hanya dalam urusan perkataan atau ucapan saja, tapi juga menyangkut segala perbuatan dan keyakinan-keyakinan mereka. Seandainya Kalam Allah berupa suara, huruf, dan bahasa maka dalam menghisab semua makhluk tersebut Allah akan membutuhkan kepada waktu yang sangat panjang. Karena dalam penggunaan huruf-huruf dan bahasa jelas membutuhkan kepada waktu. Huruf berganti huruf, kemudian kata menyusul kata, dan demikian seterusnya. Dan bila demikian maka maka berarti Allah bukan sebagai Asra’ al-Hasibin (Penghisab yang paling cepat), tapi sebaliknya; Abtha’ al-Hasibin (Penghisab yang paling lambat). Tentunya hal ini mustahil bagi Allah.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

إنَّمَا أمْرُهُ إذَا أرَادَ شَيْئًا أنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ (يس: 82)

Maknanya ayat ini bukan berarti bahwa setiap Allah berkehendak  menciptakan sesuatu, maka dia berkata: “Kun”, dengan huruf “Kaf” dan “Nun” yang artinya “Jadilah…!”. Karena seandainya setiap berkehendak menciptakan sesuatu Allah harus berkata “Kun”, maka dalam setiap saat perbuatan-Nya tidak ada yang lain kecuali hanya berkata-kata: “kun, kun, kun…”. Hal ini tentu mustahil atas Allah. Karena sesungguhnya dalam waktu yang sesaat saja bagi kita, Allah maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang tidak terhitung jumlanya. Deburan ombak di lautan, rontoknya dedaunan, tetesan air hujan, tumbuhnya tunas-tunas, kelahiran bayi manusia, kelahiran anak hewan dari induknya, letusan gunung, sakitnya manusia dan kematiannya, serta berbagai peristiwa lainnya, semua itu adalah hal-hal yang telah dikehendaki Allah dan merupakan ciptaan-Nya. Semua perkara tersebut bagi kita terjadi dalam hitungan yang sangat singkat, bisa terjadi secara beruntun bahkan bersamaan.

Adapun sifat perbuatan Allah sendiri (Shifat al-Fi’il) tidak terikat oleh waktu. Allah menciptakan segala sesuatu, sifat perbuatan-Nya atau sifat menciptakan-Nya tersebut tidak boleh dikatakan “dimasa lampau”, “di masa sekarang”, atau “di masa mendatang”. Sebab perbuatan Allah itu azali, tidak seperti perbuatan makhluk yang baharu. Perbuatan Allah tidak terikat oleh waktu, dan tidak dengan mempergunakan alat-alat. Benar, segala kejadian yang terjadi pada alam ini semuanya baharu, semuanya diciptakan oleh Allah, namun sifat perbuatan Allah atau sifat menciptakan Allah (Shifat al-Fi’il) tidak boleh dikatakan baharu.

Kemudian dari pada itu, kata “Kun” adalah bahasa Arab yang merupakan ciptaan Allah (al-Makhluk). Sedangkan Allah adalah Pencipta (Khaliq) bagi segala bahasa. Maka bagaimana mungkin Allah sebagai al-Khaliq membutuhkan kepada ciptaan-Nya sendiri (al-Makhluq)?! Seandainya Kalam Allah merupakan bahasa, tersusun dari huruf-huruf, dan merupakan suara, maka berarti sebelum Allah menciptakan bahasa Dia diam; tidak memiliki sifat Kalam, dan Allah baru memiliki sifat Kalam setelah Dia menciptakan bahasa-bahasa tersebut. Bila seperti ini maka berarti Allah baharu, persis seperti makhluk-Nya, karena Dia berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Tentu hal seperti ini mustahil atas Allah.

Dengan demikian makna yang benar dari ayat dalam QS. Yasin: 82 diatas adalah sebagai ungkapan bahwa Allah maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa ada siapapun yang dapat menghalangi-Nya. Dengan kata lain, bahwa bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan segala sesuatu yang Ia kehendaki, sesuatu tersebut dengan cepat akan terjadi, tanpa ada penundaan sedikitpun dari waktu yang Ia kehendakinya.

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru