Selasa, September 27, 2022
spot_img
BerandaPondasi ImanHadits JibrilHADITS JIBRIL; IMAN DENGAN PARA RASUL ALLAH

HADITS JIBRIL; IMAN DENGAN PARA RASUL ALLAH

IMAN DENGAN PARA RASUL ALLAH

Dalamal-Qur’an Alah berfirman:

ءَامَنَ الرّسُولُ بِمَا أنْزِلَ إلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالمُؤمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ (البقرة:285)

“Rasulullah (Muhammad) telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya, (mereka mengatakan), kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya”. (QS. al-Baqarah: 285)

Diantara dasar-dasar iman yang enam (Ushul al-Iman as-Sittah) setelah iman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya adalah iman kepada Rasul-rasul Allah. Iman kepada para Rasul artinya meyakini bahwa Allah telah memilih mereka untuk mengemban tugas kenabian dan menyampaikan misi kerasulan, dan bahwa Allah telah memuliakan mereka dengan wahyu sebagai petunjuk dari-Nya untuk para hamba-Nya, serta meyakini bahwa Allah telah memberikan kepada mereka beberapa kekuatan sebagai mu’jizat sehingga mereka mampu melaksanakan tugas-tugasnya tersebut.

Kemudian yang dimaksud beriman kepada para Rasul Allah artinya mencakup juga beriman kepada para Nabi yang bukan sebagai Rasul. Dengan demikian, iman kepada para Rasul Allah adalah mempercayai utusan-utusan Allah, baik yang sebagai Rasul, maupun yang hanya Nabi saja. Adapun Nabi yang sekaligus sebagai Rasul pertama adalah Adam, dan Nabi serta Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad -‘Alaihimash-Shalah Wa as-Salam.

Para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah merupakan karunia dan rahmat dari-Nya bagi para hamba-Nya. Karena dengan akal semata manusia tidak akan mampu mengetahui perkara-perkara yang bisa menyelamatkannya di akhirat kelak. Maka dengan diutusnya para Nabi dan Rasul, menjadi dapat diperoleh maslahat-maslahat yang pokok bagi manusia, karena memang manusia sangat membutuhkan kepada kehadiran para Nabi dan para Rasul.

Kenabian (An-Nubuwwah)

Kata an-Nubuwwah berasal dari kata an-naba’ yang berarti kabar atau berita, karena kenabian adalah penyampaian berita atau pemberitaan dari Allah. Atau kata tersebut berasal dari kata an-Nabwah yang bererti ar-Rif’ah yang berarti ketinggian, karena memang derajat para Nabi sangat tinggi dan mulia. Kerasulan adalah derajat yang paling tinggi dan mulia. Tidak ada derajat amal ibadah, keta’atan, kemuliaan, dan kehormatan menurut Allah yang melebihi diatas kerasulan.

Kenabian tidak dapat diperoleh dengan jalan ibadah yang sungguh-sungguh, dengan memperbanyak amal saleh, maupun dengan memperindah akhlak. Kenabian bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan jalan usaha dan upaya (Ghair Muktasab). Kenabian adalah murni pemilihan dan pemberian Allah kepada beberapa hamba-Nya yang Ia kehendaki. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

يُؤْتِي الحِكْمَةَمَنْ يَشَاءُ (البقرة: 269)

“Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa saja yang Ia kehendaki”.(QS. al-Baqarah: 269).

Yang dimaksud al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah “an-Nubuwwah Wa ar-Risalah”, artinya kenabian dan kerasulan. Demikian ditafsirkan oleh sahabat ‘Abdullah ibn Mas’ud, sebagaimana dikutip oleh al-Imam Ibn Furak kitab al-Mujarrad.

Para Nabi dan para Rasul pasti lebih sempurna dan lebih unggul dari pada para umat Nabi dan Rasul itu sendiri (Mursal Ilaihim), baik dalam segi kecerdasan, keutamaan, pengetahuan, kesalehan, sifat iffah (kejauhandari maksiat), keberanian, kedermawanan, kezuhudan, dan dalam berbagai hal lainnya. Allah  berfirman:

إنَّ اللهَ اصْطَفَى ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إبْرَاهِيْمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى العَالَمِيْنَ  (ءال عمران: 33)

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat”. (QS. Ali Imran: 33)

Nabi tidak ada yang seorang perempuan, atau yang berstatus sebagai budak atau hamba sahaya. Seorang Nabi harus sempurna memiliki panca indra, karena hal ini sangat perlu dalam mengemban tugas risalah dan segala hal yang berkaitan dengannya. Rasulullah  bersabda:

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إلاّ حَسَنَ الوَجْهِ حََسَنَ الصَّوْتِ وَإنَّ نَبِيَّكُمْ أحْسَنُهُمْ وَجْهًا وَأحْسَنُهُمْ صَوتًا (رَوَاهُ التِّرمذِيُّ)

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan ia bagus wajahnya, dan indah suaranya, dan sesungguhnya Nabi kalian (Muhammad) adalah yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya diantara mereka”. (HR. at-Tirmidzi).

Perbedaan Nabi Dan Rasul

Nabi dan Rasul sama-sama menerima wahyu dari Allah, dan kedua diperintah untuk menyampaikan wahyu tersebut. Artinya, baik Nabi maupun Rasul wajib bertabligh. Adapun perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah sebagai berikut:

A. Rasul ialah seorang yang menerima wahyu dari Allah yang menghapus (Nasikh) sebagian hukum-hukum syari’at Rasul sebelumnya, atau ia membawa hukum-hukum yang baru sama sekali. Artinya membawa hukum-hukum yang belum pernah dibawa oleh Rasul-Rasul sebelumnya. Sedangkan seorang Nabi yang bukan Rasul ialah seorang yang menerima wahyu dari Allah dan datang dengan mengikuti syari’at Rasul sebelumnya.

Keduanya, baik Rasul maupun yang Nabi saja wajib bertabligh kepada umat. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

الأنبيَاءُ إخْوَةٌ لِعَلاّتٍ دِيْنُهُمْ وَاحِدٌ وَأمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (رَوَاهُ الشّيْخَان)

“Para nabi (bagaikan) saudara seayah, -artinya- agama mereka satu (yaitu Islam) dan ibu-ibu mereka (artinya syari’at-syari’at mereka) berbeda-beda”. (HR. al-Bukhari, Muslim, Ibn Hibban, Ahmad ibn Hanbal dan lainnya).

Contoh perbedaan hukum-hukum syari’at; di dalam syari’at Nabi Ya’qub diperbolehkan seorang laki-laki menikahi dua perempuan bersaudara sekaligus. Sedangkan hal ini diharamkan di dalam syari’at Nabi Muhammad.

B. Kerasulan berlaku di kalangan manusia dan Malaikat, sedangkan kenabian hanya berlaku dikalangan manusia saja. Allah berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ (الحج: 75)

“Allah memilih utusan-utusan-Nya (para Rasul-Nya) dari kalangan Malaikat dan dari kalangan manusia”. (QS. al-Hajj: 75)

Rasuldari kalangan Malaikat di antaranya seperti Jibril. Beliau bertugas untuk menyampaikan perintah-perintah Allah kepada para Malaikat lainnya, di samping manyampaikan wahyu-wahyu Allah kepada para Nabi dan para Rasul dari kalangan manusia.

Seperti halnya para Rasul, para Nabi juga diperintah untuk bertabligh. Artinya diperintah untuk menyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah kepada mereka bagi segenap manusia. Dengan demikian bukan hanya para Rasul saja yang wajib bertabligh, tapi juga para Nabi. Inilah pemahaman yang sesuai dengan nash-nash al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah. Karena di antara hikmah diangkatnya seseorang menjadi Nabi adalah untuk menyebarkan petunjuk yang ia terima kepada umat. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukan bahwa para Nabi diperintahkan untuk bertabligh. Diantaranya firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (الأعراف: 94)

“Kami (Allah) tidak-lah mengutus seorang Nabi-pun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu) melainkan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendah kandiri”. (QS al-A’raf: 94)

Makna “al-Irsal” (pengutusan) terhadap seorang Nabi yang disebutkan dalam ayat di atas artinya pengutusan untuk bertabligh dan menyeru kepada segenap umat untuk menyembah Allah.

Dari sini kita dapat tarik kesimpulan bahwa sebagian definisi tentang Nabi dan Rasul yang berkembang di sebagian masyarakat kita, mengatakan: “Seorang Rasul mendapatkan wahyu dan wajib atau diperintah bertabligh, sedangkan seorang Nabi menerima wahyu tetapi tidak diperintah dan tidak wajib untuk bertabligh” adalah definisi yang tidak sejalan dengan nash-nash al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah.

Dalam ayat lain Allahberfirman:

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ، وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (الزخرف: 6-7)

“Alangkah banyak Nabi-Nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat terdahulu. Dan tidak ada seorang Nabi-pun yang datang kepada mereka kecuali mereka selalu memperolok-oloknya”. (QS. az-Zukhruf: 6-7).

Ayat ini dengan jelas memberikan pemahaman bahwa para Nabi wajib melakukan tabligh. Yaitu wajib menyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah kepada mereka bagi segenap umat. Selain dua ayat ini, masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukan hal tersebut. Seperti di antaranya dalam QS. al-Hajj: 52, QS. Saba’:34, dan lainnya.

Inilah keterangan tentang perbedaan antara Nabi dan Rasul yang telah ditegaskan oleh para ulama Muhaqqiqin, seperti al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam Kitab Ushuluddin [1], al-Imam al-Baidlawi dalam Tafsir al-Baidlawi [2], al-Imam al-Qunawi dalam Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah [3], al-‘Allamah al-Bayyadli dalam kitab Isyarat al-Maram Min ‘Ibaratal-Imam [4], al-Imam al-Munawi dalam kitab al-Faidl al-Qadir [5], dan oleh para ulama terkemuka lainnya.

Ini adalah pemahaman yang sesuai bagi derajat kenabian. Karena itu kita meyakini sepenuhnya bahwa semua Nabi diperintah untuk mengemban tugas kenabian dan mereka semua telah menunaikan tugas tersebut dengan sangat baik dan sempurna. Bukankah termasuk di antara sifat-saifat para Nabi adalah tabligh?! Bila seorang muslim biasa saja, -yang bukan sebagai Nabi juga bukan seorang Rasul-, telah diwajibkan dan diperintah untuk bertabligh, yaitu mengajak kepada perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah (al-Ma’ruf) dan mencegah dari perkara-perkara yang dilarang oleh Allah (al-Munkar), maka terlebih lagi bagi seorang yang diangkat menjadi Nabi, tentunya kewajiban bertabligh tersebut sudah pasti ada.

Jumlah Para Nabi Dan Rasul

Para ulama berbeda pendapat tentang menetapkan jumlah bagi para Nabi dan Rasul, sebagai berikut:

  1. Sebagian ulama berpendapatbahwa jumlah para Nabi adalah 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) Nabi. Dan sebanyak 313 orang dari jumlah tersebut adalah sekaligus memiliki predikat sebagai Rasul. Keterangan ini berdasarkan kepada sebuah hadits riwayat Ibn Hibban dari sahabat Abu Dzarr, dari Rasulullah.
  2. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang benar kita tidak harus memastikan jumlah tertentu bagi jumlah para Nabi tersebut. Karena dengan menentukan jumlah tertentu dikhawatirkan akan memasukkan yang bukan bagian dari mereka, atau sebaliknya, tidak memasukkan yang sebenarnya bagian dari mereka. Adapun hadits riwayat Ibn Hibban di atas menurut pendapat kedua ini adalah hadits yang masih diperselisihkan tentang keshahihannya (Mukhtalaf Fi Shihhatih).

Nabi dan Rasul pertama adalah Nabi Adam, dan Nabi serta Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad -‘Alaihim ash-Shalah Wa as-Salam-. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa  Adam bukan seorang Nabi dan Rasul, atau mengatakan bahwa Adam adalah seorang Nabi saja, bukan seorang Rasul, adalah pendapat sesat dan batil [6].

Secara umum para Rasul lebih utama dari pada Nabi yang bukan Rasul. Ada lima orang Nabi yang paling utama, mereka  adalah; Muhammad, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Nuh. Dan yang paling utama diantara mereka adalah Nabi Muhammad. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sahabat Abu Hurairah berkata:

خِيَارُ الأنْبِيَاءِ خَمْسَةٌ مُحَمَّدٌ وَإبْرَاهِيْمُ وَمُوْسَى وَعِيْسَى وَنُوْحٌ وَخِيَارُهُمْ مُحَمَّدٌ (صَلّى اللهُ عَليه وسَلّم)

“Para Nabi pilihan (diantara nabi yang lain) adalah Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh (dengan urutan seperti ini) dan yang paling utama diantara mereka adalah Muhammad”.

Kelima Nabi tersebut dikenal dengan sebutan ‘Ulul ‘Azmi al-Khamsah. Disebut demikian karena mereka telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan dalam memegang teguh ajaran-ajaran Islam dan dalam berdakwah kepadanya. Adapun mengutamakan sebagian Nabi atas sebagian yang lainnya tanpa didasarkan kepada nash-nash yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan hadits maka hal itu tidak dibenarkan.

Kemudian, dua puluh lima Nabi yang disebutkan dalam al-Qur’an kebanyakan mereka adalah sebagai Rasul, dan ada beberapa saja yang bukan Rasul.

Pembenaran Terhadap Semua Nabi Dan Rasul

Semua Nabi membawa misi pembenaran terhadap semua Nabi-Nabi Allah sebelumnya. Artinya, semua Nabi dan Rasul datang dengan membawa prinsip dan misi yang sama. Yaitu membawa misi mentauhidkan Allah, dan datang dengan membawa satu agama yaitu agama Islam.Nabi Muhammad bukan sebagai Nabi pertama yang membawa agama Islam, melainkan beliau datang untuk memperbaharui dakwah kepada agama Allah tersebut. Karena itu semua Nabi beragama Islam. Nabi Adam seorang muslim, Nabi Ibrahim muslim, Nabi Musa muslim, Nabi ‘Isa muslim, dan seluruh Nabi Allah adalah orang-orang Islam. Perbedaan diantara para Nabi tersebut hanya pada syari’at yang mereka bawa. Tentang hal ini secara eksplisit al-Qur’an menyebutkan:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (ءال عمران: 67)

“Ibrahim bukanlah seorang yang memeluk agama orang-orang Yahudi dan Nasrani, melainkania adalah seorang muslim, dan tidak-lah ia termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS. Ali ‘Imran: 67)

Atas dasar ini maka kita wajib membenarkan semua para Nabi dan Rasul yang telah diutus oleh Allah. Semua Nabi Allah, yaitu seseorang yang mengaku sebagai Nabi dimasa berlakunya kemungkinan itu yaitu sebelum diutusnya Nabi terakhir; Nabi Muhammad, dibenarkan pengakuannya bila ia menunjukkan mukjizat sebagai bukti kebenarannya, juga mereka semua dibenarkan karena semuanya datang dengan membawa agama Islam. Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi ‘Isa, dan seluruh Nabi lainnya, semuanya wajib dibenarkan sebagai Nabi-Nabi Allah karena semuanya datang dengan membawa agama Islam, yang inti ajarannya adalah mentauhidkan Allah.

Inilah yang dimaksud “persaksian” Nabi Muhammad dan seluruh orang Islam dalam al-Qur’an yang terdapat pada QS. al-Baqarah: 285, yang telah disebutkan pada awal tema ini: “Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya, (mereka mengatakan), kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya”.

Kandungan ayat ini sama sekali bukan merupakan pengakuan, pembenaran, atau legitimasi bagi apa yang diyakini oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani di masa sekarang. Karena mereka telah menyelewengkan agama Islam dan ajara-ajaran yang telah dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Karena itu, menyatukan agama Yahudi, agama Nasrani dan agama Islam di dalam satu rumpun, sebagai “Agama Monotheisme”, atau sebagai agama-agama yang menyeru kepada mentauhidkan Allah, adalah pendapat yang sama sekali tidak berdasar. Karena pada kenyataannnya hanya agama Islam saja yang masih murni dan konsisten menyeru kepada mentuhidkan Allah.

Dengan demikian tidak boleh dikatakan bahwa agama samawi ada tiga; Islam, Yahudi, dan Nasrani. Karena agama samawi hanya satu, yaitu agama Islam. Tidak boleh kita mengatakan “al-Adyan as-Samawiyyah” (agama-agama samawi), tetapi yang benar adalah “ad-Dinas-Samawi”, karena hanya agama Islam agama yang diridlai oleh Allah dan dibawa oleh seluruh Nabi dan para Rasul-Nya.

Sifat-sifat Nabi Dan Rasul

Sesungguhnya Allah mengutus para Nabi untuk menyampaikan kepada umat manusia perkara-perkara yang menjadi kemaslahatan manusia itu sendiri, baik kemaslahatan dunia maupun kemaslahatan agama dan akhirat. Para Nabi adalah manusia-manusia panutan dan teladan bagi seluruh manusia. Mengikuti segala teladan dan perbuatan mereka adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena itu sudah pasti Allah telah menganugerahkan kepada mereka sifat-sifat terpuji dan budi pekerti yang mulia. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (الأنعام: 86)

“… dan kepada masing-masing (para Nabi itu) Kami (Allah) lebihkan derajat mereka di atas sekalian alam”. (QS.al-An’am: 86).

Diantara sifat-sifat terpuji yang ada pada diri mereka adalah jujur (as-Sidq), mustahil pada diri mereka terdapat sifat dusta (al-Kidzb). Nabi Muhammad misalkan, sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau sudah terkenal di kalangan penduduk Mekah sebagai orang yang jujur dan terpercaya (ash-Shadiq al-Amin). Kejujuran beliau ini diakui oleh setiap orang yang beriman kepadanya, dan bahkan juga diakui oleh orang-orang kafir yang sangat memusuhinya.

Para Nabi juga memiliki sifat cerdas (al-fathanah). Mustahil pada diri mereka terdapat sifat bodoh dan bebal (al-Ghabawah). Karena seandainya para Nabi sebagai orang-orang bebal dan bodoh maka umat yang merupakan obyek dakwah mereka tidak akan pernah menerima, bahkan akan menyingkir. Para Nabi juga memiliki sifat amanah. Artinya bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat dipercaya. Mustahil pada diri mereka terdapat sifat khianat. Mereka juga memiliki sifat Shiyanahdan ‘Iffah, artinya terjaga dari segala perbuatan tercela. Mustahil mereka memiliki sifat Radzalah, yaitu sifat yang menjadikan seseorang berbuat tercela dan tidak senonoh, seperti mencuri-curi pandang terhadap perempuan yang bukan mahramnya, atau mencuri sebiji anggur, dan semisalnya. Juga mustahil bagi mereka sifat Safahah, seperti berkata-kata dengan keji dan kotor.

Kemudian, para Nabi pasti memiliki sifat Syaja’ah. Artinya bahwa mereka adalah orang-orang yang berani. Mustahil mereka memiliki sifat pengecut (al-jubn). Sebagian sahabat Rasulullah dalam menggambarkan sifat Syaja’ah-nya berkata: “Apa bila kami sedang berada di tengah peperangan berkecamuk, maka kami semua berlindung di belakang Rasulullah”. Allah telah menganugerahkan kekuatan kepada Nabi Muhammad setara dengan kekuatan empat puluh orang laki-laki paling kuat di antara manusia-manusia biasa.

Demikian pula para Nabi memiliki sifat tabligh. Artinya bahwa mereka telah menyampaikan segala perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan kepada umatnya dengan sempurna. Mustahil bagi mereka menyembunyikan apa harus disampaikan (al-Kitman).

Para Nabi mustahil terjangkit penyakit gila, atau penyakit-penyakit yang menyebabkan orang lain tidak mau mendekat dan menyingkir, serta tidak mau mendengar dakwah mereka. Seperti penyakit lepra, borok-borok yang menjijikan hingga mengeluarkan belatung darinya.

Para Nabi juga memiliki sifat Fashahah. Artinya, mereka adalah orang-orang yang sangat fasih dalam berbicara. Tidak ada seorangpun dari mereka yang gagap, atau ta’ta’; yaitu yang selalu terdengar huruf ta’ dalam setiap pembicaraan, juga tidak ada yang alstagh; yaitu seperti yang mengucapkan huruf ra’ menjadi huruf ghain, atau huruf lam menjadi huruf tsa’.

Juga mustahil bagi para Nabi berbicara salah dalam berkata-kata (Sabq al-Lisan; keseleo lidah), baik dalam perkara-perkara syari’at maupun dalam perkara-perkara biasa. Karena bilahal ini terjadi dalam perkataan mereka maka segala kebenaran yang diucapkannya akan diragukan oleh umatnya. Tentu pula umatnya akan berkata kepadanya: “Mungkin ia salah ucap ketika menyampaikannya”. Demikian pula mustahil pulapara Nabi terpangaruh akal mereka oleh sihir.

Kemudian para Nabi juga terpelihara, -baik sebelum diangkat manjadi nabi atau sesudahnya-, dari segala kekufuran, dari dosa-dosa besar, dan dari dosa-dosa kecil yang mengandung kekeruhan dan kerendahan jiwa (al-Khisah Wa ad-Dana’ah). Dosa kecil yang mengandung kerendahan jiwa, seperti mencuri-curi pandang terhadap perempuan yang bukan mahram, atau mencuri sebiji anggur, dan lain sebagainya. Adapun dosa kecil yang tidak mengandung kerendahan dan kekeruhan jiwa, maka pendapat yang kuat dan didukung oleh ayat-ayat al-Qur’an mengatakan bahwa hal tersebut mungkin terjadi pada diri mereka. Akan tetapi mereka langsung diingatkan oleh Allah untuk bartaubat sebelum perbuatan mereka tersebut diikuti oleh orang lain. Contoh dalam hal ini adalah perbuatan Nabi Adam ketika di surga, beliau mamakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah. Perbuatan beliau ini adalah dosa kecil yang sama sekali tidak mengandung kerendahan dan kekeruhan jiwa. Karenanya didalam al-Qur’an Allah berfirman tentang Nabi Adam:

وَعَصَى آَدَمُ (طه: 121)

“Dan Adam telah berbuat maksiat kepada Tuhannya”. (QS. Thaha: 121)

Yang dimaksud “maksiat” dalam ayat ini bukan sebagai dosa besar, juga bukan merupakan dosa kecil yang mengandung kehinaan dan kekeruhan jiwa. Melainkan hanya dosa kecil saja, yang hal itu sama sekali tidak mengandung kerendahan dan kekeruahan jiwa.

Selain memiliki sifat-sifat wajib dan sifat-sifat mustahil sebagaimana telah diuraikan di atas, para Nabi juga memiliki sifat Ja’iz. Yaitu sifat-sifat yang terjadi pada diriumumnya manusia yang hal tersebut sama sekali tidak merendahkan derajat kenabian, seperti makan, minum, tidur, sakit dengan penyakit yang tidak menyebabkan orang lain menjauh dan menyingkir, pingsan yang disebabkan rasasakit, dan meninggal. Termasuk kemungkinan buta beberapa saat; artinya tidak selamanya dan bukan buta sebagai bawaan dari lahir, seperti buta beberapa saat yang terjadi pada diri Nabi Ya’qub, yang kemudian beliau dapat melihat normal kembali seperti sediakala.

Beberapa Cerita Dusta Tetang Sebagian Nabi

Berikut ini akan diuraikan beberapa cerita dusta sekitar para Nabi yang sama sekali cerita tersebut tidak berdasar. Cerita-cerita ini bertentangan dengan penjelasan sifat-sifat para Nabi yang telah kita jelaskan di atas:

  1. Cerita dusta tentang Nabi Ibrahim

Cerita ini menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim sebelum diangkat menjadi Nabi pernah ragu-raguakan adanya Allah beberapa saat lamanya. Dia menyembah bintang, kemudian menyembah bulan, dan kemudian ia menyembah matahari.

Cerita ini bohong belaka. Karena seorang Nabi wajib selalu terpelihara dari kekufuran dan perbuatan syirik, baik sebelum maupun setelah mereka diangkat menjadi Nabi. Nabi Ibrahim sudah mengetahui dari semenjak kecil bahwa bulan, bintang, dan matahari tidak layak untuk disembah dan dijadikan Tuhan. Karena semua itu adalah benda yang memiliki bentuk dan ukuran, serta mengalami perubahan dari satu keadaan kepada keadaan lain. Benda-benda tersebut bergerak, terbit, kemudian terbenam dan lenyap. Segala sesuatu yang berubah pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam perubahan tersebut. Demikian pula segala benda yang memiliki ukuran pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya pada ukuran tersebut. Dan setiap sesuatu yang membutuhkan maka berarti dia itu lemah. Dan setiap yang lemah sangat tidak patut untuk disembah dan dituhankan.

Nabi Ibrahim telah mengetahui dari semenjak kecil bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah. Beliau meyakini bahwa Allah tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya. Beliau juga mengetahui bahwa segala sesuatu selain Allah adalah ciptaan Allah, maka mustahil Allah sama dengan yang diciptakan-Nya. Tentang halini Allah berfirman:

وَلَقَدْ آَتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (الأنبياء: 51)

“Dan sesungguhnya Kami (Allah) telah menganugerahkan kepada Ibrahim akan kebenaran dari dahulu (artinya dari semenjak kecil), dan sungguh Kami mengetahi segala keadaannya”. (QS.al-Anbiya: 51).

Adapun firman Allah dalam QS. al-An’am tentang perkataan Nabi Ibrahim ketika beliau melihat bintang, bulan, dan matahari:

هَذَا رَبِّي (الأنعام: 76، 77، 78)

adalah gaya bahasa dalam pengertian Istifham Inkari. Artinya, sebuah kalimat dalam bentuk pertanyaan tapi untuk tujuan mengingkari, bukan untuk tujuan menetapkan. Dengan demikian makna ayat di atas adalah: “Inikah tuhanku seperti yang kalian (umat Nabi Ibrahim) sangka?”. Artinya, ini bukan tuhanku seperti yang kalian sangka.

2. Cerita dusta tentang Nabi Yusuf

Menurut cerita ini bahwa Nabi Yusuf saat berumur 17 tahun dan tinggal di rumah penguasa Mesir hendak berbuat zina. Na’uzdu Billah. Suatu hari, menurut cerita dusta ini, istri penguasa Mesir tersebut yang bernama Zalikha menggodanya untuk berbuat zina. Kemudian demi melihat kecantikan, timbul keinginan dalam diri Nabi Yusuf untuk menyambut godaan tersebut. Peristiwa semacam ini jelas suatu yang mustahil pada diri seorang Nabi. Benar, saat itu Zalikha yang memiliki keinginan untuk berbuat zina, tapi sama sekali tidak benar kalau Nabi Yusuf memiliki keinginan yang sama.

Adapun firman Allah dalam QS. Yusuf: 24 tidak boleh dipahami bahwa Nabi Yusuf memiliki keinginan untuk berbuat zina. Ayat tersebut ialah:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ (يوسف: 24)

Ayat ini memiliki beberapa penafsiran sebagaiman telah disebutkan oleh para ulama ahli tafsir sendiri. Di antaranya ialah bahwa kalimat jawab dari lafazh “LawLa…” dibuang (mahdzuf). Ini ditunjukan oleh lafazh sebelumnya, yaitu lafazh “Hamma Biha”. Kemungkinan tujuan kalimat (Taqdir al-Kalam) tersebut adalah “Law La An Ra’a Burhana Rabbih Hamma Biha”.

Jelasnya ialah, bahwa Zalikha saat itu benar-benar ingin berbuat zina dengan Nabi Yusuf. Sedangkan Nabi Yusuf, kalau saja beliau tidak mendapatkan petunjuk dari Tuhannya bahwa ia akan menjadi seorang Nabi, dan bahwa seorang Nabi itu pasti terjaga dari berbuat zina, maka dia akan memiliki keinginan yang sama untuk berbuat zina. Dan pada kenyataannya bahwa Nabi Yusuf telah mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, sehingga beliau sama sekali tidak memiliki keinginan untuk berbuat zina, terlebih lagi melakukannya.

Penafsiran lainnya menyebutkan bahwa lafazh “Hamma Biha” artinya “Hamma Bi Daf’iha”. Maksudnya ialah bahwa saat Zalikha hendak merangkul Nabi Yusuf dari arah depannya, Nabi Yusuf memiliki keinginan untuk mendorongnya. Namun Nabi Yusuf melihat petunjuk dari Tuhannya untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena apa bila beliau melakukan itu dan kemudian terjadi sesuatu pada pakaian Zalikha atau pakaian Nabi Yusuf sendiri, maka Nabi Yusuf sendiri yang akan disalahkan. Karena itu beliau tidak melakukan hal tersebut, tapi kemudian beliau lari ke arah pintu hendak keluar.

3. Cerita dusta tentang Nabi Dawud

Cerita ini menyebutkan bahwa Nabi Dawud memiliki 99 orang istri. Suatu ketika beliau terpesona dengan kecantikan istri salah seorang panglima perangnya. Kemudian Nabi Dawud mengutus panglima tersebut ke medan perang supaya ia mati di medan perang tersebut, dengan demikian ia dapat mempersunting perempuan itu.

4. Kisah dusta tentang Nabi Ayyub

Cerita ini menyebutkan bahwa suatu ketika Iblis meniup pada Nabi Ayyub hingga beliau terjangkit penyakit kusta akut hingga mengeluarkan belatung-belatung dari luka-lukanya. Saat belatung-belatung tersebut berjatuhan dari tubuhnya, beliau mengambilnya satu persatu dan meletakannya kembali pada bagian tubuhnya seraya berkata: “Wahai makhluk Tuhanku, makanlah rizki yang telah diberikan Allah kepadamu”.

Cerita ini jelas tidak berdasar sama sekali. Tidak mungkin seorang Nabi memiliki penyakit yang menjijikan seperti itu. Karena penyakit semacam itu akan menghilangkan hikmah-hikmah kenabian. Artinya, tidak ada hikmah seorang Nabi diutus dalam keadaan “berpenyakitan” seperti ini, karena siapapun umatnya akan manjauh dan menghidar darinya. Juga mustahil Nabi Ayyub mengembalikan belatung-belatung tersebut ke tubuhnya agar menyakiti dirinya sendiri dan memakan daging-daging pada tubuhnya. Karena perbuatan semacam ini sama dengan bunuh diri. Allah berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ (البقرة: 195)

“Dan jangalah kalian menjerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan”. (QS.al-Baqarah: 195).

Adapun cerita yang benar tentang Nabi Ayyub, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan dishahihkannya, adalah bahwa beliau ditimpa musibah sakit selama 18 tahun. Namun Nabi Ayyub sabar dalam sakitnya tersebut, karena beliau tahu bahwa hal tersebut dapat meninggikan derajat seseorang. Dalam hadits ini tidak disebutkan macam penyakit yang telah menimpa Nabi Ayyub tersebut. Yang jelas bahwa penyakit tersebut bukan sesuatu yang menjijikan dan merendahkan derajat kenabian.

5. Sebagian kitab menceritakan kisah dusta tentang Nabi Muhammad. Menurut cerita ini bahwa suatu ketika lidah Rasulullah dikuasai oleh setan, kemudian setan berkata-kata dengan lidah beliau: “Tilka al-Gharaniq al-‘Ula Wa Inna Syafa’atahunna Laturtaja…”. (Artinya, itulah berhala-berhala yang agung, dan sesungguhnya pertolongan mereka benar-benar sangat diharapkan). Setelah mendengar perkataan ini orang-orang kafir menjadi sangat gembira. Cerita ini sama sekali tidak memiliki dasar dan benar-benar sebuah kebatilan belaka. Mustahil Allah memberikan kemampuan kepada setan untuk menguasai lidah para Nabi-Nya, terlebih menggunakannya untuk memuji berhala-berhala.

Cerita yang benar tentang ini ialah bahwa suatu ketika Rasulullah membacakan QS. an-Najm. Ketika bacaan beliau sampai kepada ayat 19-20, beliau berhenti sejenak. Ayat tersebut ialah:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى (النجم: (19-20)

Kesempatan diamnya Rasulullah ini kemudian dimanfaatkan oleh setan untuk memperdengarkan suara yang dimirip-miripkan dengan suara Rasulullah kepada orang-orang musyrik yang saat itu berada dekat dengan Rasulullah sendiri. Saat terdengar suara tersebut orang-orang musyrik menganggap bahwa itu adalah suara Rasulullah. Setan itu berkata: “Itulah berhal-berhala yang agung, dan sesungguhnya pertolongan mereka benar-benar sangat diharapkan”. Seketika itu orang-orang musyrik menjadi sangat bersuka-ria. Mereka berkata: “Sebelum hari ini Muhammad tidak pernah memuji-muji tuhan-tuhan kita, dan hari ini ia telah memberikan pujiannya kepada mereka”. Kemudian Allah menurunkan ayat al-Qur’an QS. al-Hajj: 52 yang membantah dan mendustakan perkataan mereka:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آَيَاتِه (الحج: 52)

“Dan Kami (Allah) tidak mengutus sebelum engkau (Wahai Muhammad) seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi, melainkan apa bila ia mengajak kaumnya untuk mengikuti ajarannya maka setan akan menambah-nambahkan perkataan sesat yang bukan perkataan Nabi, dan ia (setan) memberikan sangkaan bahwa Nabi-lah yang mengucapkan perkataan rusak dan sesat tersebut. Maka Allah memberikan penjelasan bahwa perkataan rusak dan sesat itu bukan berasal dari Nabi. Kemudian Allah menguatkan ayat-ayat-Nya”. (QS. al-Hajj: 52)

________________

[1] Kitab Ushuliddin, h. 154
[2] Tafsir al-Baidlawi, j. 4, h. 57
[3] Syarh al-‘Aqidahath-Thahawiyyah Li al-Qunawi, h. 83
[4] Isyarat al-Maram Min ‘Ibaratal-Imam, h.311 dan h. 333
[5] al-Faidl al-Qadir, j. 1, h. 15-16
[6] Sebagian orang dari kaum Wahhabiyyah mengingkari kenabian dan kerasulan Nabi Adam. Mereka mengatakan bahwa Rasul pertama adalah Nuh. Ini adalah pendapat sesat dan menyesatkan. Pendapat ini tertulis dalam buku mereka berjudul “al-Iman Bi al-Anbiya’ Bi Jumlatihim”,h. 15

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru