Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaPondasi ImanHadits JibrilHADITS JIBRIL; IMAN KEPADA PARA MALAIKAT

HADITS JIBRIL; IMAN KEPADA PARA MALAIKAT

IMAN KEPADA MALAIKAT

Dalam al-Qur’an tentang keberadaan para Malaikat, Allah berfirman:

وَإنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِيْنَ كِرَامًا كَاتِبِيْنَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (الانفطار: 10-12)

“Sesungguhnya atas kalian ada (Malaikat-Malaikat) yang mengawasi (segala perbuatan), yang mulia dan selalu mencatat(perbuatan-perbuatan tersebut). Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan (baik perbuatan maupun perkataan yang baik dan buruk)”. (QS. al-Infithar:10-12)

Diantara Ushul al-Iman as-Sittah adalah kewajiban beriman kepada para Malaikat Allah. Beriman kepada para Malaikat artinya meyakini bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang mulia. Para Malaikat tersebut bukan sebagai bintang atau planet-planet yang berada di arah langit. Tetapi mereka adalah para makhluk Allah yang termasuk dari Hajm Lathif (tidak dapat dipegang oleh tangan). Mereka bukan dari jenis laki-laki ataupun perempuan, mereka tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak nikah, serta tidak berketurunan. Mereka tidak pernah berbuat dosa kepada Allah sedikitpun. Mereka selalu menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah atas mereka. Allah berfirman:

لاَ يَعْصُونَ اللهَ مَا أمَرَهُم وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُوْنَ .(التّحريم: 6)

“Mereka tidak pernah bermaksiat (durhaka) kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. at-Tahrim: 6)

Allah menjadikan tabi’at para Malaikat tersebut hanya untuk selalu taat kepada-Nya. Namun begitu, mereka taat bukan karena terpaksa (Majbur), karena mereka memiliki ikhtiar. Akan tetapi ikhtiar mereka, -dengan kehendak Allah-, hanya dalam ketaatan-ketaatan kepada-Nya saja. Maka sama sekali tidak ada ikhtiar pada diri mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Dan mereka sama sekali tidak merasa bosan atau lelah dalam beribadah kepada Allah.

Para Malaikat tersebut tidak boleh disebut sebagai pembantu-pembantu Allah (A’wan Allah). Karena Allah Maha Kaya atas seluruh alam ini. Allah yang menciptakan segala sesuatu maka Allah tidak membutuhkan kepada siapapun dari makhluk-makhluk-Nya ini. Allah berfirman:

فَإنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ العَالَمِيْنَ (ءال عمران :97)

“… maka sesungguhnya Allah Maha Kaya atas seluruhalam”. (QS. Ali ‘Imran: 97).

Allah menciptakan para Malaikat bukan untuk mendapatkan bantuan atau mengambil manfa’at dari mereka. Allah menciptakan para Malaikat dengan tujuan berbagai hikmah, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak. Di antara hikmahnya adalah bahwa para Malaikat tersebut adalah sebagai bukti akan keluasan rahmat-rahmat Allah. Karena sebagian di antara para Malaikat tersebut ada yang mengemban tugas dengan tujuan kemaslahatan dan mempermudah bagi urusan-urusan manusia. Di samping itu, Allah  menciptakan para Malaikat tersebut adalah untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Allah menciptakan para Malaikat dari cahaya. Rasulullah  bersabda:

خُلِقَتِ المَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلقَ ءَادَمُ مِمَّا وُصفَلَكُم (رَوَاهُ مُسْلمٌ)

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api -murni- tidak berasap, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian”. (HR Muslim)

Allah menciptakan para Malaikat dalam bentuk dan ukuran yang sangat besar, serta memiliki sayap-sayap. Malaikat Jibril misalnya, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau mempunyai 600 sayap. Satu sayap Malaikat Jibril ini dapat menutupi ufuk langit, dari sebelah timur hingga sebelah barat. Artinya, satu sayap Malaikat Jibril tersebut dapat menutupi alam dunia ini.

Dijelaskan pula dalam sebuah hadits tentang gambaran besarnya para Malaikat Hamalah al-‘Arsy, yaitu Malaikat-Malaikat pengangkat ‘arsy, bahwa jarak antara cuping telinga dan pundak mereka adalah jarak perjalanan 700 tahun dengan kecepatan terbang seekor burung yang sangat cepat.

Pemimpin secara keseluruhan dari para Malaikat Allah adalah Malaikat Jibril. Beliau adalah Malaikat yang paling mulia. Selain Jibril, pemimpin para Malaikat lainnya (Ru-asa’ al-Mala’ikah) adalah Mika-il, ‘Azra-il dan Israfil.

Dari uraian sifat-sifat Malaikat diatas dapat kita ketahui beberapa hal berikut:

Pertama:

Cerita yang tersebar mengenai Harut dan Marut, bahwa keduanya turun ke bumi, kemudian terpesona oleh kecantikan seorang wanita bernama al-Zuhrah, lalu keduanya menggoda wanita tersebut, hingga akhirnya berbuat zina dengannya, atau cerita yang menyebutkan bahwa Harut dan Marut terlebih dahulu minum khamr, kemudian berzina dengan wanita tersebut hingga melahirkan seorang anak yang kemudian dibunuh, adalah cerita bohong belaka. Karena sifat-sifat buruk semacam ini bukan sifat-sifat para Malaikat Allah, yang notabene selalu menjalankan perintah-Nya dan tidak pernah durhaka kepada-Nya.

Cerita keji ini bersumber dari orang-orang Yahudi yang memang sangat membenci para Malaikat. Cerita seperti ini jelas bertentangan dengan al-Qur’an, serta menyalahi akal sehat. Karena itu, para ulama kita mengatakan bahwa cerita ini sama sekali tidak berdasar dan boleh diyakini kebenarannya. Pembahasan ini semua telah dijelaskan oleh para ulama tafsir, seperti al-Imam al-Mufassir al-Fakhrurrazi, al-Mufassir al-Baidlawi, al-Mufassir Abu as-Su’ud, al-Mufassir al-Khazin dan lain-lain. Juga telah dijelaskan oleh para ulama hadits, seperti al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab al-Musnad dan kitab ad-Durr al-Mantsur, asy-syekh Muhammad Hut al-Bairuti dalam kitab Asna al-Mathalib, dan oleh para ulama terkemuka lainnya.

Kedua:

Bahwa Iblis bukan termasuk golongan Malaikat. Karena dzat dan sifat-sifat Iblis berbeda dengan sifat-sifat Malaikat. Bahkan sifat-sifat Iblis ini bertolak belakang dengan sifat-sifat Malaikat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

  1. Iblis adalah termasuk golongan Jin. Allah berfirman:

إلاَّ إبْليْس كَانَ مِنَ الجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أمْرِ رَبِّهِ (الكهف: 50)

“…kecuali Iblis, dia adalah dari golongan jin, makaia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS al-Kahfi: 50)

2. Iblis adalah makhluk kafir,seperti pernyataan jelas dalam al-Qur’an:

إلاَّ إبْلِيسَ أبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِيْنَ (البقرة :34)

“…kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan iatermasuk golongan yang kafir”. (QS al-Baqarah: 34)

3. Iblis memiliki keturunan, sebagaimana firman Allah:

أفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَتَهُ أوْلِيَاءُ مِنْ دُوْنِي (الكهف:50)

“…patutkah kamu menjadikannya dan keurunan-keturunannya sebagai pemimpin selain Aku…” (QS al-Kahfi: 50)

 

4. Iblis mengaku bahwa dirinya diciptakan oleh Allah dari api, seperti dijelaskan dalam al-Qur’an:

قَالَ أنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ (الاعراف: 12)

“Iblis berkata: Aku lebih baik darinya (Adam), Engkau mencipakanku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan ia dari tanah”. (QS.al-A’raf: 12)

Dengan demikian jelaslah bahwa Iblis bukan termasuk golongan Malaikat, karena ia kafir kepada Allah, ia berketurunan, dan ia diciptakandari api, sementara Malaikat diciptakan dari cahaya.

Ketiga:

Pernyataan yang mengatakan bahwa para Malaikat sebagai dari jenis perempuan adalah merupakan perkataan orang-orang kafir. Sebagaimana halini dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur’an:

إنَّ الّذِيْنَ لاَيُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ المَلاَئِكَةَ تَسْمِيَةَ الأنْثى (النجم:27)

 “Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat (artinya orang-orang kafir), mereka benar-benar menamakan Malaikat dengan nama perempuan”. (QS. an-Najm: 27)

Dengan demikian Malaikat bukan dari jenis laki-laki dan bukan pula dari jenis perempuan.

Tugas-Tugas Para Malaikat

Jumlah para Malaikat sangat banyak. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka secara pasti kecuali Allah sendiri. Allah berfirman:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ (المدثر: 31)

“Dan tidak ada yang mengetahui akan bala tentara (para Malaikat) Tuhanmu (Wahai Muhammad) kecuali Dia sendiri”. (QS al-Mudatsir: 31)

Jumlah para Malaikat lebih banyak dari seluruh jumlah manusia, jin, kerikil, dedaunan dan bahkan lebih banyak dari setiap tetes air hujan. Mereka adalah para penduduk langit, dari mulai langit pertama hingga langit ke tujuh. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

مَا فِي السَّمَوَاتِ مَوضِع أرْبَع أصَا بع إلاَّ وَفِيْهِ مَلَكٌ قَائِمٌ أَوْ رَاكِعٌ أوْ سَاجِدٌ. (رَوَاهُالتّرمِذيّ)

“Tidaklah ada tempat -kosong- dengan ukuran empat jari tangan di semua lapisan langit, kecuali pada tempat tersebut ada Malaikat yang sedang berdiri, ruku’ atau sujud (artinya semuanya dalam keadaan beribadah kepada Allah)”. (HR Tirmidzi).

Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa setiap lapis langit dipenuhi oleh para Malaikat Allah. Dengan demikian mustahil jika Allah berada di dalam langit seperti yang diyakini oleh kaum Musyabbihah, atau kaum Wahhabiyyah di masa sekarang. Karena bila demikian maka berarti Allah berdesak-desakan dengan para Malaikat-Nya, dan berarti Allah membutuhkan kepada langit yang notabene sebagai makhluk-Nya sendiri. Na’udzuBillah.

Dari beberapa ayat al-Qur’an dan hadits Nabi di atas dapat disimpulkan bahwa para Malaikat mempunyai tugas yang beragam. Malaikat Jibril misalnya, ditugaskan untuk menyampaikan wahyu Allah  kepada para Nabi dan Rasul-Nya serta menyampaikan perintah-perintah Allah kepada para Malaikat lainnya. Beliau juga ditugaskan mengatur angin, dan membantu para Nabi Allah. Malaikat Mika-il diperintahkan untuk mengatur hujan dan memelihara tumbuh-tumbuhan. Malaikat ‘Azra-il bertugas mencabut nyawa. Malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala (at-Tsur). Malaikat Malik sebagi penjaga (Khazin) Neraka. Ada sebagian Malaikat yang bertugas mancatat amal baik dan amal buruk manusia. Ada pula yang bertugas menanyai manusia di kubur, yaitu Malaikat Munkar dan Nakir. Ada yang bertugas menjaga manusia dari gangguan jin. Ada yang bertugas menyampaikan shalawat dan salam umat orang Islam kepada Nabi Muhammad. Ada yang bertugas menjaga surga, membantu orang mukmin dalam peperangan seperti yang terjadi dalam perang Badr, mengatur gunung-gunung, menghibur hati orang-orang mukmin yang berada dalam kesedihan dan kesusahan. Ada pula Malaikat pembawa adzab atau siksa, dan adapula yang membawa rahmat.

Ketika Rasulullah Mi’raj, beliau menyaksikan al-Bait al-Makmur di langit ke tujuh. Al-Bait al-Ma’mur ini adalah rumah yang dimuliakan bagi para penduduk langit (para Malaikat), seperti halnya Ka’bah sebagai rumah yang dimuliakan bagi para penduduk bumi (Manusia dan Jin). Setiap harinya, al-Bait al-Ma’mur dimasuki oleh 70.000 Malaikat. Para Malaikat  tersebut melaksanakan shalat di dalamnya. Setelah itu kemudian mereka keluar dan tidak akan pernah kembali lagi ke dalamnya selamanya. Artinya para Malaikat dengan jumlah tersebut dalam setiap harinya terus-menerus bergantian.

Kesimpulannya, bahwa Allah menciptakan para Malaikat bukan karena membutuhkan bantuan dari mereka. Dengan demikian tidak boleh dikatakan: “Jika Allah maha kuasa atas segala sesuatu mengapa Dia memerintahkan para Malaikat untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut?”. Karena Allah melakukan terhadap apa yang Ia kehendaki. Allah tidak dipertanyakan kepada-Nya “apa yang Ia berbuat”?! atau “kenapa berbuat demikian”?! Sebaliknya, seluruh hamba yang akan ditanya dan diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing.

Benar, segala perbuatan Allah tidak lepas berbagai hikmah, baik hikmah yang kita ketahui ataupun tidak. Di antara hikmah pemberian tugas-tugas terhadap para Malaikat tersebut adalah untuk mengangkat derajat mereka. Karena dengan selalu berbuat ketaatan-ketaatan kepada-Nya maka setiap makhluk akan semakin tinggi kemuliaan dan derajatnya bagi Allah.

Kemudian dari pada itu, sesungguhnya para Malaikat hanya mengatur dalam perkara-perkara tertentu saja. Seperti mengatur hujan, angin, tumbuh-tumbuhan atau lainnya. Artinya bahwa para Malaikat tidak mengatur segala sesuatu secara mutlak. Karena pengaturan terhadap segala sesuatu secara mutlak hanya milik Allah saja. Inilah di antara makna yang dimaksud oleh salah satu nama Allah “al-Qayyum”. Artinya, hanya Allah yang mengatur secara mutlakakan segala urusan makhluk-makhluk-Nya. Karena itu, pengaturan para Malaikat terhadap perkara-perkara tertentu tersebut berada dibawah kemutlakan pengaturan dan pengawasan Allah.

Kemudian para Malaikat tersebut oleh Allah diberi kemampuan untuk beralih rupa menjadi bentuk laki-laki yang tampan, tetapi tanpa alat kelamin. Namun mereka tidak akan menjelma menjadi perempuan, atau bentuk-bentuk yang buruk. Selain itu, Allah juga memberi mereka kekuatan yang sangat dahsyat. Tentang Malaikat Jibril, misalkan dinyatakan dalam al-Qur’an:

ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي العَرْشِ مَكِيْن (التكوير:20)

“(Dia Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai derajat yang agung menurut Allah”. (QS at-Takwir: 20)

Malaikat Jibril ini dengan hanya satu helai sayapnya pernah mengangkat empat atau lima kota dengan seluruh penduduk yang ada di dalamnya, yaitu kota kaum Nabi Luth. Beliau mengangkat seluruh kota-kota tersebut beserta isinya sampai jauh tinggi hingga mendekati langit pertama, kemudian beliau membalikannya, menjadikan arah bawahnya sebagai arah atas. Semua ini beliau lakukan tanpa rasa lelah dan tanpa kesulitan. Serta masih banyak contoh-contoh lainnya.

Kaedah Penting

Seseorang tidak dibenarkan mancaci maki para Malaikat Allah, baik Malaikat ‘Izra-il maupun Malaikat lainnya. Menghina, merendahkan, melecehkan para Malaikat dapat mengakibatkan kufur, keluar dari Islam (Riddah). Karena seluruh para Malaikat Allah adalah hamba-hamba yang senantiasa saleh dan bertaqwa kepada-Nya. Mereka semua adalah para kekasih Allah (Auliya’ Allah,Ahbab Allah). Seorang muslim yang dicintai oleh Allah adalah yang mencintai para Malaikat-Nya dengan setulus hati, tidak seperti orang-orang Yahudi yang membenci dan memusuhi para Malaikat tersebut.

Semoga Allah menggolongkan kita sebagai hamba-hambanya yang saleh bersama para Nabi-Nya, para Malaikat-Nya dan parawali-Nya. Amin 

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru