Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaTasawufHatim al-Asham; Berpura-pura Tuli Demi Menjaga Kehormatan Perempuan

Hatim al-Asham; Berpura-pura Tuli Demi Menjaga Kehormatan Perempuan

Hatim al-Asham[1]. Beliau memiliki kunyah Abu Abdul Rahman. Tantang nama ayahnya diperselisihkan, satu pendapat menyebutkan; Hatim bin ‘Unwan bin Yusuf, pendapat lain mengatakan; Hatim bin Yusuf. Beliau berasal dari penduduk Balkh yang dikenal sebagai perkampungan sufi. Hatim lama bergaul dengan Syaqiq al-Balkhi dan mengambil riwayat hadits darinya juga dari Syidad bin Hakim al-Balkhi. Di antara murid-murid Hatim adalah Ahmad bin Hadlrawaih, Hamdan bin Dzunnun, Muhammad bin Faris al-Balkhiyan dan lainnya.

Hatim al-Asham adalah salah seorang sufi terkemuka dalam sikap wara’, zuhud, dan tawakal. Di antara yang menunjukkan kebaikan akhlaknya dan kehalusan jiwanya, seperti yang diriwayatkan Bin Khallikan dalam Wafayât al-A’yân, adalah saat beliau kedatangan seorang perempuan yang hendak menanyakan masalah-masalah agama. Tiba-tiba di hadapan Hatim perempuan tersebut mengeluarkan bunyi kentut. Wajah perempuan tersebut menjadi merah karena rasa malu. Ketika perempuan tersebut mulai bicara hendak menyampaikan kepentingannya, Hatim berkata kepadanya: “Keraskan suaramu!”. Maka tenanglah hati perempuan tersebut karena menyangka bahwa Hatim “sedikit tuli” dan tidak mendengar suara kentutnya. Dari peristiwa ini, demi menjaga kehormatan perempuan tersebut, Hatim terus menerus berpura-pura tuli hingga beliau digelari dengan al-Asham (seorang yang tuli).

Hatim datang ke kota Baghdad di masa hidup Ahmad bin Hanbal. Abu Ja’far al-Harawi meriwayatkan bahwa suatu waktu ia bersama Hatim pergi melaksanakan ibadah haji. Pulang dari ibadah haji keduanya lalu ke Baghdad. Hatim berkata kepada Abu Ja’far: “Wahai Abu Ja’far saya ingin bertemu dengan Ahmad bin Hanbal”. Lalu kami bertanya-tanya mencari rumahnya. Setelah bertemu maka Ahmad bin Hanbal menyambut kami dengan hangat. Di tengah pembicaraan Ahmad berkata: “Wahai Hatim beritahukan cara agar aku selamat dari manusia?”. Hatim menjawab: “Itu berada dalam tiga hal; memberikan hartamu kepada mereka dan tidak mengambil sedikitpun dari harta mereka, menunaikan segala hak-hak mereka dan tidak minta ditunaikan hak-hakmu oleh mereka, menanggung orang yang dibenci oleh mereka dan tidak membenci karena suatu apapun dari mereka”. Ahmad bin Hanbal lalu menundukkan kepala, seraya berkata: “Perkara yang berat wahai Hatim”. Kemudian Hatim berkata berulang-ulang mendoakan Ahamad bin Hanbal hingga tiga kali: “Semoga engkau selamat”.

Baca juga: Jika pengembalanya itu adalah seekor srigala, lalu siapakah sebenarnya yang akan menggembala kambing-kambing?!

Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah al-Auliyâ meriwayatkan bahwa suatu ketika Hatim ditanya seseorang: “Wahai Hatim, di atas dasar apakah sikap tawakalmu dibangun?”. Hatim menjawab: “Di atas empat perkara; aku mengetahui bahwa rizkiku tidak akan dimakan oleh orang lain maka hatiku menjadi tenang, aku mengetahui bahwa pekerjaanku tidak akan dikerjakan oleh orang lain maka aku menyibukkan diri dengannya, aku mengetahui bahwa kematian bisa datang secara tiba-tiba maka aku mempersiapkan diri untuk itu, dan aku mengetahui bahwa aku tidak akan lepas dari penglihatan Allah maka aku merasa malu dari-Nya”.

Tentang sikap tawakalnya, suatu saat Hatim ditanya seseorang: “Wahai Hatim saya dengar engkau melewati lautan padang pasir dan tempat-tempat yang membahayakan tanpa bekal, bagaimana itu?”. Hatim menjawab: “Justru aku melewati itu semua dengan bekal. Ada empat bekal yang aku bawa; aku mengetahui bahwa setiap jengkal dunia ini adalah milik Allah, aku mengetahui bahwa seluruh makhluk ini adalah para hamba Allah, aku mengetahui bahwa setiap rizki makhluk berada di bawah kekuasaan Allah, dan aku mengetahui bahwa setiap apa yang ditentukan Allah di muka bumi ini akan terjadi”. Orang yang bertanya kemudian berkata: “Sebaik-baiknya bekal adalah bekalmu wahai Hatim dan dengan bekalmu itu engkau akan melewati segala kesulitan di akhirat kelak”.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Hatim berkata: “Kami suatu ketika di tengah peperangan melawan pasukan Turki, tiba-tiba seorang tentara turki melemparku dengan tombak hingga aku terjatuh dari kuda dalam posisi terlentang. Tentara tersebut lalu menginjak dadaku sambil menarik janggutku. Ia mengeluarkan pisau hendak menyembelihku. Yang ada di dalam pikiranku saat itu bukan tentara tersebut dan pisaunya yang sudah terhunus. Aku hanya berfikir tentang ketentuan Allah, maka aku katakan kepada diriku: “Ya Allah jika engkau telah menentukan bahwa aku mati tersembelih di sini maka saya adalah milik-Mu dan hamba-Mu”. Dalam keadaan demikian tiba-tiba melesat sebuah anak panah yang dilempar orang-orang Islam persis menancap di lehernya”.
Abu Abdul Rahman al-Sullami dalam Thabaqât ash-Shûfiyyah meriwayatkan bahwa Hatim berkata: “Setiap pagi pasti ada setan yang mengganggu dengan berkata kepadaku: “Apa yang akan engkau makan? Pakaian apa yang akan engkau kenakan? Di mana engkau akan tinggal?”, maka aku menjawabnya: Makananku adalah kematian, pakaianku adalah kain kafan, dan tempat tinggalku adalah kuburan”.

Di antara nasehat yang dikemukakan Hatim al-Asham adalah: “Hendaklah bagi siapapun yang ingin masuk dalam jalan kami ini (tasawuf) menjadikan empat kematian pada dirinya; mati putih, mati hitam, mati merah, dan mati hijau. Mati putih adalah lapar, mati hitam adalah menahan segala kesusahan, mati merah adalah menundukkan hawa nafsu, dan mati hijau adalah membuat tambalan-tambalan pakaian (kefakiran)”.

Baca buku: Mengenal Tasawuf Rasulullah

Di antara nasehat lainnya, bahwa beliau berkata: “Jihad terbagi kepada tiga bagian; jihad dalam kesendirinmu melawan setan hingga mengalahkannya, jihad secara terang-terangan dalam mengerjakan segala kewajiban, dan jihad di medan perang dalam memerangi musuh-musuh Allah dari orang-orang kafir”.

Hatim al-Asham wafat tahun 237 Hijriah, sebagaimana disepakati kebanyakan para ulama, seperti adz-Dzahabi dalam Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Bin Khallikan dalam Wafayât al-A’yân, dan lainnya.

Amaddanâ Allah Min Amdâdih.

_______________

[1] Biografi Hatim al-Asham lebih lengkap lihat al-Qusyairi, ar-Risâlah, h. 393-394, as-Sulami, Thabaqât, h. 86-90, adz-Dzahabi, Siyar, j. 11, h. 484, Abu Nu’aim, Hilyah, j. 8, h. 77, al-Khathib al-Baghdadi, Târikh, j. 8, h. 236-239, Bin Khallikan, Wafayât, j. 2, h. 26-28, asy-Sya’rani, ath-Thabaqât, j. 1, h. 93, Bin al-‘Imad, Syadzarât,j. 2, h. 87

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru