Jawaban Atas Kerancuan Faham Musyabbihah Dalam Pengingkaran Mereka Terhadap Tafsir Istawâ Dengan Istawlâ (Bag. 10)

0
144

Jawaban Atas Kerancuan Faham Musyabbihah Dalam Pengingkaran Mereka Terhadap Tafsir Istawâ Dengan Istawlâ

Kerancuan Ke Sepuluh:

Sebagian pemuka kaum Wahhabiyyah mengklaim bahwa memalingkan suatu teks dari makna zahirnya dengan tanpa dalil adalah perkara yang tercela. Mereka mengatakan bahwa pekerjaan semacam itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang menyelewengkan sifat-sifat Allah, di antara tulisan mereka tentang hal ini sebagai berikut:

“Contohnya dalam firman Allah: ”ar-Rahmân ‘Alâ al-’Arsy Istawâ” (QS. Thaha: 5), zahir makna ayat ini adalah bahwa Allah bertempat dan berada di atas arsy. Maka bila seseorang berkata bahwa makna Istawâ adalah Istawlâ, kita katakan kepadanya: ”Apa yang kamu lakukan ini adalah pentakwilan ayat dari makna zahirnya, dan hal itu jelas merupakan penyelewengan makna bagi ayat itu sendiri karena tidak ada dalil yang menuntut keharusan takwil tersebut. Bahkan sebaliknya, terdapat dalil yang menuntut ayat tersebut tidak boleh ditakwil”.

Jawab:

Penyebutan Mujassim di atas bahwa kaum Ahlussunnah yang mentakwil ayat Istawâ dengan Istawlâ telah melakukan penyelewengan terhadap ayat adalah tuduhan yang didasarkan kepada hawa nafsu belaka. Sebagaimana maklum, kaum Wahhabiyyah adalah kaum yang sangat anti terhadap takwil yang oleh karena itu pemahaman mereka terhadap teks-teks mutasyâbihât selalu di dasarkan kepada makna-makna zahirnya saja, hingga pemahaman mereka terhadap satu ayat dengan lainnya saling bertentangan. Tentunya pemahaman terparah dari sikap anti takwil ini adalah bahwa mereka telah mensifati Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, seperti bersemayam, bertempat, bahkan sebagian mereka mengatakan duduk, bergerak, turun, naik, bernafas, memiliki kaki, tangan, jari-jari dan anggota badan lainnya. Hanya saja untuk mengelabui orang-orang awam mereka selalu berkata: “Sifat-sifat itu semua tidak menyerupai makhluk-Nya”, atau mereka berkata: “Sifat-sifat itu semua tidak seperti yang kita bayangkan di dalam akal pikiran”.

Pemahaman mereka ini berbeda dengan Ahlussunnah yang telah menjadikan takwil sebagai salah satu metodologi dalam memahami teks-teks mutasyâbihât, selama takwil tersebut sejalan dengan kaedah-kaedah bahasa Arab. Karena itu metode takwil dalam memahami teks-teks mutasyâbihât telah diberlakukan oleh para ulama Salaf terdahulu seperti sahabat Abdullah ibn Abbas yang notabene sahabat Rasulullah yang telah mendapatkan doa langsung dari Rasulullah sendiri hingga beliau menjadi seorang yang sangat ahli tafsir atau takwil al-Qur’an, juga diberlakukan oleh Imam Mujahid; murid dari sahabat Abdullah ibn Abas, Imam al-Bukhari, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Sufyan at-Tsauri dan lainnya. Silahkan baca kembali pembahasan bahwa para ulama Salaf telah melakukan takwil terhadap teks-teks mutasyâbihât dari buku ini.

Para ulama tauhid di kalangan Ahlussunnah tidak berbicara tentang Allah dan sifat-sifat-Nya dengan didasarkan hanya kepada akal semata, tetapi mereka menjadikan akal sebagai media bagi bukti kebenaran segala apa yang dibawa oleh Rasulullah. Karena itu para ulama tauhid menjadikan akal sebagai bukti bagi kebenaran syari’at bukan sebagai dasar bagi ajaran agama. Hal ini berbeda dengan kaum Musyabbihah Wahhabiyyah, mereka sama sekali tidak mengikatkan antara potensi akal dengan ajaran-ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah. Mereka tidak menghiraukan potensi akal untuk dijadikan media dalam membuktikan kebenaran ajaran-ajaran syari’at. Ahlussunnah sebaliknya, mereka memandang bahwa akal sehat tidak akan keluar dan tidak akan pernah bertentangan dengan segala ajaran yang ada dalam syari’at, karena sesungguhnya setiap ajaran dalam syari’at tidak akan pernah datang kecuali sejalan dengan pandangan akal sehat.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here