Minggu, September 24, 2023
spot_img
BerandaAllah Ada Tanpa TempatJawaban Atas Kerancuan Faham Musyabbihah Dalam Pengingkaran Mereka Terhadap Tafsir Istawâ Dengan...

Jawaban Atas Kerancuan Faham Musyabbihah Dalam Pengingkaran Mereka Terhadap Tafsir Istawâ Dengan Istawlâ (Bag. 7)

Jawaban Atas Kerancuan Faham Musyabbihah Dalam Pengingkaran Mereka Terhadap Tafsir Istawâ Dengan Istawlâ

Kerancuan Ke Tujuh:

Salah seorang pemuka Wahhabiyyah dalam salah satu tulisannya mengatakan sebagai berikut: “Tidak ada aqidah yang lebih buruk dan tidak masuk akal dari keyakinan orang yang mengatakan bahwa Allah menguasai arsy-Nya sebagaimana Bisyr ibn Marwan mengusai negara Irak”[1].

Jawab:

Justru kalian yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Kalian berkeyakinan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Keyakinan kalian ini jelas merupakan aqidah tasybîh dan tajsîm. Bahkan di antara kalian ada yang secara jelas mengatakan bahwa Allah duduk di atas arsy. Keyakinan demikin itu persis seperti keyakinan kaum Yahudi.

Pengutipan bait syair ”Qad Istawâ Bisyr…” sama sekali bukan untuk menyerupakan kekuasaan Allah dengan kekuasaan Bisyr ibn Marwan seperti yang dipahami oleh pemuka Wahhabi tersebut. Pengutipan bait syair di sini hanya untuk membuktikan bahwa penggunaan kata Istawâ dalam bahasa Arab biasa dipakai dalam pengertian Istawlâ, Qahara, dan Ghalaba. Tujuan kita sangat jelas, yaitu untuk membuktikan penggunaan kata Istawâ dalam bahasa Arab, sementara tuduhan yang dilemparkan pemuka Wahhabi tersebut sangat dibuat-buat, benar-benar keluar dari akar permasalahan. Itulah kebiasaan orang yang dibutakan mata hatinya oleh Allah, selalu membuat-buat pernyataan di mana Ahl al-Haq terbebas dari pernyataan tersebut.

Pendekatan dalam apa yang kita maksudkan dalam pengutipan bait sya’ir tentang Bisyr ibn Marwan di atas adalah seperti sebuah hadits Rasulullah yang telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

إنّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ (رَوَاه البُخَاريّ)

”Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama” (HR. al-Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah menyerupakan penglihatan orang-orang mukmin terhadap Allah di akhirat kelak dengan penglihatan mereka terhadap bulan; bukan dalam pengertian bahwa Allah seperti bulan, memiliki bentuk buat dan bersinar, juga bukan berarti Allah di dalam surga. Sedikitpun bukan makna ini yang dimaksud. Tapi yang dimaksud adalah dalam ketiadaan keraguan. Artinya kelak orang-orang mukmin di akhirat nanti akan melihat Allah dan bahwa mereka sama sekali tidak meragukan hal itu, sebagaimana kita di dunia ini di saat bulan purnama bersinar tanpa ada awan yang manghalanginya, kita sama sekali tidak meragukan bahwa bulan tersebut adalah bulan purnama. Adapun pendapat yang mengatakan dengan dasar hadits ini bahwa Allah adalah benda bulat dan bercahaya seperti bulan maka ini pendapat yang hanya timbul dari orang-orang yang sangat bodoh dan tolol.
__________________
[1] al-Kalimât al-Hisân, h. 264

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Most Popular

Recent Comments

×

 

Assalaamu'alaikum!

Butuh informasi dan pemesanan buku? Chat aja!

× Informasi dan Pemesanan Buku