Minggu, September 24, 2023
spot_img
BerandaBukti Kebenaran Aqidah Asy'ariyyahKesesatan WahabiKedua Orang Tua Rasulullah Penduduk Surga

Kedua Orang Tua Rasulullah Penduduk Surga

Membela Kedua Orang Tua Rasulullah Dari Tuduhan Kelompok Yang Mengkafirkannya

Kedua orang tua Rasulullah selamat, masuk surga, dan tidak bertempat di neraka

Ketetapan ini telah dinyatakan oleh kelompok besar ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan bahkan oleh imam Ahlussunnah sendiri; imam Abul Hasan al-Asy’ari, yang kemudian diyakini oleh mayoritas umat Islam antar generasi, dari masa ke masa. As-Sayyid Ja’far ibn Hasan al-Barzanji dalam Nazham Mawlid al-Barzanji, h. 114 menuliskan;

وَإنّ الإمَامَ الأشْعَرِيَّ لَمُثْبِتٌ … نَجَاتَهُمَا نَصًّا بِمُحْكَمِ تِبْيَانِ

وَحَاشَا إلهُ العَرْشِ يَرْضَى جَنَابُهُ … لِوَالِدَيِ الْمُخْتَارِ رُؤْيَةَ نِيْرَانِ

وَقَدْ شَاهَدَا مِنْ مُعْجِزَاتِ مُحَمَّدٍ … خَوَارِقَ ءَايَاتٍ تَلُوْحُ لأعْيَانِ

Maknanya: “Dan sesungguhnya Imam Abul Hasan al-Asy’ari telah menetapkan catatan yang penjelasan pasti bahwa kedua orang tua Rasulullah selamat”. “Tidak mungkin mungkin Allah, Tuhan pemilik arsy Yang Maha Agung ridla bila kedua orang tua Rasulullah melihat (masuk) ke dalam neraka”, “dan sungguh kedua orang tua Rasulullah telah melihat beberapa mukjizat nabi Muhammad, dari tanda-tanda yang ajaib (agung diluar nalar; khawariq) yang telah nyata pada pandangan mata”.

Dalam Menetapkan Kedua orang tua Rasulullah selamat ada 4 metode

  1. Metode Ketetapan Pertama: “Kedua Orang Tua Rasulullah Tidak Mendapati Dakwah Islam”
  2. Metode Ketetapan Kedua: “Kedua Orang Tua Rasulullah Termasuk Ahlul Fatrah”
  3. Metode Ketetapan Ke Tiga: “Kedua Orang Tua Rasulullah Di Atas Ajaran Nabi Ibrahim”
  4. Metode Ketetapan Ke Empat: “Allah Telah Menghidupkan Kembali Kedua Orang Tua Rasulullah

Bebarapa Dalil Metode Ketetapan Pertama Dan Metode Ketetapan Kedua

  1. Firman Allah:

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا (الإسراء: 15)

Maknanya: “Dan tidaklah Kami (Allah) memberikan siksa hingga kami mengutus seorang Rasul” (QS. Al-Isra: 15).

Ini adalah ayat di mana seluruh imam Ahlussunnah sepakat menjadikannya sebagai dalil bahwa mereka yang hidup di zaman vakum kenabian tidak akan terkena siksa. Ayat ini juga sebagai dalil dalam bantahan terhadap faham Mu’tazilah dan kelompok yang sepaham dengan mereka yang menjadikan akal sebagai dasar dalam cara beragama mereka. Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsir-nya masing-masing meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah di atas, bahwa ia (Qatadah) berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa siapapun hingga telah datang kepada orang tersebut berita (perintah) dari Allah, atau suatu bukti dari-Nya”. (Tafsir ath-Thabari, ath-Thabari, 9/54)

Pesan buku cetak: Kedua Orang Tua Rasulullah Penduduk Surga

  1. Firman Allah:

ذلك أن لم يكن ربك مهلك القرى بظلم وأهلها غافلون (الأنعام: 131)

Maknanya: “Hal itu oleh karena Allah tidak akan penghancurkan suatu penduduk karena kezaliman mereka, sementera mereka dalam keadaan lalai (tidak paham dan mengetahui)” (QS. Al-An’am: 131).

Ayat ini dikutip oleh az-Zarkasyi dalam Syarh Jam’il Jawami’ sebagai dalil bahwa kewajiban bersyukur kepada Yang memberi nikmat (bersyukur kepada Allah) bukan semata-mata didasarkan kepada akal, tetapi karena ketetapan syara’. (Lihat al-Hawi Li al-Fatawi, as-Suyuthi, h. 204, mengutip dari Tasynif al-Masami’ Syarh Jam’il Jawami’ karya Badruddin az-Zarkasyi).

  1. Firman Allah:

ولولا أن تصيبهم مصيبة بما قدمت أيديهم فيقولوا ربنا لولا أرسلت إلينا رسولا فنتبع آياتك ونكون من المؤمنين (القصص: 47)

Maknanya: “Dan kalaulah tidak menimpa mereka oleh suatu musibah karena perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan; maka mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, seandainya Engkau mengutus kepada kami seorang Rasul maka tentulah kami akan mengikuti ayat-ayat-Mu dan kami menjadi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Qashash: 47).

Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsir-nya dalam menafsirkan ayat ini mengutip riwayat dengan sanad hasan dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa ia (Abu Sa’id) berkata: Rasulullah bersabda:

الهالك في الفترة يقول رب لم يأتني كتاب ولا رسول ثم قرأ هذه الآية (ربنا لولا أرسلت إلينا رسولا فنتبع آياتك ونكون من المؤمنين

Maknanya: “Orang yang meninggal di masa fatrah akan berkata: “Wahai Tuhanku, tidak datang kepadaku kitab apapun dan tidak pula seorang rasul-pun”, kemudian berkata dengan membacakan ayat ini: “Wahai Tuhan kami, seandainya Engkau mengutus kepada kami seorang Rasul maka tentulah kami akan mengikuti ayat-ayat-Mu dan kami menjadi orang-orang yang beriman”.

  1. Firman Allah:

ولو أنا أهلكناهم بعذاب من قبله لقالوا ربنا لولا أرسلت إلينا رسولا فنتبع آياتك من قبل أن نذل ونخزى (طه: 134)

Maknanya: “Dan seandainya Kami menghancurkan mereka dengan suatu adzab dari sebelumnya (sebelum datangnya seorang rasul), maka mereka benar-benar akan berkata: “Wahai Tuhan Kami, sendainya Engkau mengutus kepada kami seorang rasul maka tentulah kami akan mengikuti ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan sengsara” (QS. Thaha: 134).

Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsir-nya dalam menafsirkan ayat ini mengutip sebuah riwayat dari Athiyyah al-Awfi, bahwa ia (Athiyyah) berkata: “Orang yang meninggal di masa fatrah akan berkata: “Wahai Tuhanku, tidak datang kepadaku kitab apapun dan tidak pula seorang rasul-pun”, lalu ia berkata dengan membacakan ayat ini: “Dan seandainya Kami menghancurkan mereka dengan suatu adzab dari sebelumnya…”.

Kedua Orang Tua Rasulullah Penduduk SurgaMetode Ketetapan Ke Tiga: “Kedua Orang Tua Rasulullah Di Atas Ajaran Nabi Ibrahim”

Metode ketetapan ke tiga ini memiliki empat dasar;

Dasar Ke Satu:

Kedua orang tua Rasulullah berada di atas ajaran Hanifiyyah.

Dasar ke satu ini memiliki dua prolog;

(Prolog Pertama); Terdapat banyak hadits sahih menunjukan bahwa seluruh moyang Rasulullah, dari semenjak nabi Adam hingga kepada ayahanda Rasulullah adalah orang-orang pilihan Allah dan orang-orang yang paling utama dan terkemuka yang hidup pada zaman-nya masing-masing.

Dalil-Dalil Prolog Pertama, di antaranya:

  1. Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, berkata: Telah bersabda Rasulullah:

بعثت من خير قرون بني آدم قرنا فقرنا حتى بعثت من القرن الذي كنت فيه (رواه البخاري)

Maknanya: “Aku diutus dari setiap kurun terbaik anak Adam, dari setiap abad ke abad, hingga kepada abad aku berada di dalamnya”. (HR. al-Bukhari)

  1. Imam Muslim dan Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits yang telah dinyatakan sahih olehnya dari sahabat Watsilah ibn al-Asqa’, berkata: Telah bersabda Rasulullah:

إن الله اصطفى من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد إسماعيل بني كنانة واصطفى من بني كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم (رواه مسلم والترمذي)

Maknanya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan Isma’il sebagai pilihan dari anak Ibrahim, dan telah menjadikan Bani Kinanah sebagai pilihan dari Isma’il, dan telah menjadikan Quraisy sebagai pilihan dari Bani Kinanah, dan telah menjadikan Bani Hasyim sebagai pilihan dari Bani Kinanah, dan telah menjadikanku sebagai pilihan dari Bani Hasyim”. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

(Prolog Ke dua); Terdapat banyak hadits dan atsar sahih menunjukan bahwa bumi ini dari semenjak masa nabi Nuh, –bahkan semenjak zaman nabi Adam–, hingga diutusnya Rasulullah, dan bahkan hingga datang hari kiamat; tidak akan pernah sunyi dari orang-orang tetap dalam fitrah-nya, menyembah Allah, beribadah kepada-Nya, mentauhidkan-Nya

Dalil-dalil prolog ke dua, di antaranya;

  1. Abdur-Razzaq dalam kitab al-Musannaf meriwayatkan dari Ma’mar ibn Juraij, berkata: Telah berkata Sa’id ibn al-Musayyib: Telah berkata Ali ibn Abi Thalib:

لم يزل على وجه الدهر في الأرض سبعة مسلمون فصاعدا فلولا ذلك هلكت الأرض ومن عليها (رواه عبد الرزاق)

Maknanya: “Akan senantiasa ada sepanjang masa di bumi ini tujuh orang muslim atau lebih, yang kalaulah bukan karena mereka maka bumi ini dan sluruth yang ada di atasnya akan hancur”.  Sanad hadits atau atsar ini sahih sesuai syarat dua imam terkemuka; al-Bukhari dan Muslim. al-Hawi Li al-Fatawi, as-Suyuthi, 2/207, mengutip dari al-Mushannaf, Abdur-Razzaq.

  1. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam kitab Tafsir-nya meriwayatkan dari Syahr ibn Hawsyab, berkata:

لم تبق الأرض إلا وفيها أربعة عشر يدفع الله بهم عن أهل الأرض وتخرج بركتها إلا زمن إبراهيم فإنه كان وحده (رواه ابن جرير)

Maknanya: “Tidak tetap bumi ini kecuali di padanya ada empat belas orang; yang dengan sebab mereka maka Allah menjaga seluruh penduduk bumi [tidak membinasakan mereka] dan mengeluarkan bagi mereka segala berkah yang ada dalam bumi tersebut. Kecuali pada zaman Ibrahim; yang ada hanyalah beliau seorang”. (HR. Ibnu Jarir).

Dasar Ke Dua: 

Terdapat banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an dan berbagai atsar yang menjelaskan tentang orang-orang keturunan (dzurriyyah) nabi Ibrahim bahwa mereka adalah orang-orang mukmin.

Dalil-dalil dasar ke dua ini adalah;

  1. Firman Allah QS. az-Zukhruf: 27, dan ini adalah ayat yang paling jelas terkait dengan bahasan kita ini; bahwa seluruh keturunan nabi Ibrahim sebagai orang-orang mukmin:

وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين وجعلها كلمة باقية في عقبه (الزخرف: 27)

Maknanya: “Dan ketika berkata Ibrahim bagi ayah-nya [yang dimaksud; paman-nya] dan kaum-nya: “Sesungguhnya aku terbebas dari segala apa yang kalian sembah, kecuali dari Dia yang telah menciptakanku [yaitu Allah], maka sesungguhnya Dialah yang akan memberikan petunjuk [artinya menetapkan hidayah] bagiku”, dan Allah telah menjadikan ucapan [Ibrahim] tersebut sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya” (QS. az-Zukhruf: 27).

  1. Firman Allah dalam QS. Ibrahim: 35:

وإذ قال إبراهيم رب اجعل هذا البلد آمنا واجنبني وبني أن نعبد الأصنام (إبراهيم: 35)

Maknanya: “Dan ketika Ibrahim berkata: Wahai Tuhan jadikanlah negeri ini (Mekah) tempat yang aman, dan jauhkan aku dan anaku (keturunanku) dari menyembah berhala-berhala”.(QS. Ibrahim: 35)

Dasar Ke Tiga:

  1. Ada sebuah atsar menyebutkan tentang ibunda Rasulullah secara khusus. Abu Nu’aim dalam kitab Dala-il an-Nubuwwah dengan sanad dla’if dari jalur az-Zuhri, dari Ummu Samma’ah binti Abi Rahm, dari ibunya, berkata: “Aku menyaksikan Aminah, ibunda Rasulullah pada saat beliau sakit yang ia meninggal karena sebabnya, dan Muhammad saat itu adalah seorang anak sekitar umur lima tahun, ia (Muhammad) berada di sisi kepala Aminah. Maka Aminah melihat ke wajah Muhammad, lalu berkata:

بارك فيك الله من غلام  …  يا ابن الذي من حرمة الحمام

نجا بعون الملك المنعام  …  فودى غداة الضرب بالسهام

بمائة من إبل سوام  … أن صح ما أبصرت في المنام

فأنت مبعوث إلى الأنام  …  من عند ذي الجلال والإكرام

تبعث في الحل وفي الإحرام  … تبعث بالتحقيق والإسلام

دين أبيك البر إبراهام  … فالله أنهاك عن الأصنام

أن لا تواليها مع الأقوام

“Engkau adalah seorang anak yang telah diberkahi oleh Allah, wahai anak yang telah selamat dari kematian…”. “Engkau telah selamat dengan pertolongan Yang maha kuasa, Yang maha memberi segala nikmat, engkau telah ditebus dari pukulan pedang…”. “dengan seratus ekor unta yang gemuk, bahwa sungguh benar tentang apa yang telah aku lihat di dalam mimpi [tentang dirimu]…”. “engkau akan diutus kepada segenap makhluk sebagai seorang nabi dari Allah yang maha agung dan maha mulia”. “Engkau diutus di tanah halal dan tanah haram, engkau akan diutus dengan “tahqiq” [kebenaran] dan dengan Islam…”. “Agama moyangmu yang baik; yaitu Ibrahim. Maka demi Allah aku mencegahmu dari segala berhala, janganlah engkau bersandar [menyembah] kepada berhala-berhala tersebut bersama kaum-kaum”. Kemudian Aminah berkata: “Setiap yang hidup akan mati, setiap yang baru akan hancur, setiap yang besar akan punah, dan aku adalah mayit [menghadapi kematian], dan namaku akan tetap dikenang, aku sungguh telah meninggalkan kebaikan, dan aku dilahirkan sebagai seorang yang suci”, maka kemudian Aminah wafat.

  1. Ahmad ibn Hanbal, al-Bazzar, ath-Thabarani, al-Hakim, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari sahabat al-Irbadl ibn Sariyah bahwa Rasulullah telah bersabda:

إني عبد الله لخاتم النبيين وأن آدم لمنجدل في طينته وسأخبركم عن ذلك دعوة أبي إبراهيم وبشارة عيسى ورؤيا أمي التي رأت (رواه أحمد والبزار والطبراني والحاكم والبيهقي)

Maknanya: “Sesungguhnya aku hamba Allah benar-benar penutup para nabi, dan sungguh Adam masih dalam bentuk tanah, dan akan aku beritakan pada kalian tentang itu [artinya bahwa kenabian nabi Muhammad telah ditetapkan oleh Allah sebelum penciptaan Adam]; yaitu doa Ibrahim, dan kabar gembira oleh Isa, dan mimpi ibundaku terhadap apa yang telah ia lihat”.  Lihat Dala-il an-Nubuwwah, al-Baihaqi, 1/80, dari al-‘Irbadl ibn Sariyah. Lihat pula Majma’ az-Zawa-id, 8/226, Shahih Ibn Hibban, nomor 6198.

Dasar Ke Empat:

Di antara yang menguatkan metode bantahan ke tiga di atas adalah bahwa telah sahih (tsabit) atsar yang menyebutkan ada sekelompok orang yang hidup di zaman jahiliyyah dahulu di mana mereka tetap memegang teguh ajaran nabi Ibrahim, dan mereka tidak berbuat syirik. Dengan demikian tidak tercegah bila kedua orang tua Rasulullah termasuk dari kelompok orang-orang tersebut; bahwa keduanya tetap memgang teguh ajaran nabi Ibrahim dan tidak berbuat syirik kepada Allah. Di antaranya Waraqah ibn Naufal, Abdul Mutthalib, Abu Bakr as-Shiddiq, dan lainnya.

Catatan as-Suyuthi tentang hadits “Inna Abi Wa abaka…”

Dalam kitab at-Ta’zhim wa al-Minnah, al-Hafizh as-Suyuthi menuliskan sebagai berikut: “Pasal; Telah nyata bagiku tentang hadits “Inna abi wa Abaka Fin-nar…” memiliki dua cacat. Pertama; dari segi sanad, ialah bahwa hadits itu diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari jalur Hammad ibn Salamah, dari Tsabit, dari Anas, bahwa seseorang berkata: “Wahai Rasulullah di mana ayahku? Rasulullah bersabda: “Di neraka”, lalu setelah orang tersebut berlalu maka Rasulullah memanggilnya dan berkata: “Inna abi wa Abaka Fin-nar…”. Ini adalah hadits yang diriwayatkan secara tafarrud (menyendiri) oleh Muslim dari al-Bukhari, dan sesungguhnya hadits-hadits Muslim yang ia riwayatkan secara tafarrud oleh dirinya (tafarrada bih) banyak yang telah dikritik, dan tentunya tidak diragukan lagi hadits ini termasuk di antaranya.

Baca juga: Jangan Salah Paham, Bukan Allah Yang Turun Di Sepertiga Akhir Malam!

Kesimpulan penjelasan ini semua adalah; bahwa tidak setiap hadits yang ada dalam sahih Muslim harus “ngotot” kita berlakukan segala tuntutan makna harfiahnya, oleh karena bisa saja ada teks-teks lain yang secara zahir berseberangan dengannya, bahkan bisa jadi yang menyalahinya itu berasal dari ayat-ayat al-Qur’an seperti ayat-ayat yang kita kutip di atas.

Lebih dari itu hadits riwayat Imam Muslim di atas dinilai dla’if oleh al-Hafizh as-Suyuthi, sebagaimana penjelasan di atas.

Pandangan Berharga Lainnya Tentang Makna “Ayah-ku”

Ada pendapat dalam memahami hadits riwayat Muslim di atas yang menyebutkan: “Di mana ayahmu?”, lalu jawab Rasulullah, –sebagaimana dalam riwayat dari Anas ibn Malik–; “Ayahku…”; bahwa pemahaman kata “ayahku” adalah dalam makna “pamanku”. Pemahaman seperti ini sebagaimana penafsiran Imam Fakhruddin ar-Razi terhadap firman Allah QS. Al-An’am: 74, tentang nabi Ibrahim bahwa yang kafir kepada Allah adalah paman nabi Ibrahim (yang bernama Azar), bukan ayahandanya, sebagaimana pendapat ini dinukil dari sahabat Abdullah ibn Abbas, Mujahid, Ibn Juraij, dan as-Suddiy

Pendekatan pandangan ini sebagai berikut;

(Pertama); Bahwa penyebutan “ayahku” bagi Abu Thalib biasa dipakai di masa Rasulullah hidup. Karena itu orang-orang kafir Quraisy berkata kepada Abu Thalib: “Katakan kepada anak-mu (yang dimaksud nabi Muhammad) untuk menghentikan caciannya terhadap tuhan-tuhan kami”.

Lalu pernah pula orang-orang kafir Quraisy tersebut berkata kepada Abu Thalib: “Berikan anakmu (yang dimaksud nabi Muhammad) kepada kami supaya kami bisa membunuhnya, dan ambilah anak ini sebagai pengganti anak-mu”, maka Abu Thalib menjawab: “Bagaimana mungkin aku berikan anak-ku untuk kalian bunuh, lalu kalian memberikan anak kalian kepadaku untuk aku asuh??”.

Kemudian pula ketika Abu Thalib pergi ke Syam (wilayah Siria sekarang) yang saat itu ia bersama Rasulullah, saat bertemu dengan Buhaira (salah seorang pemuka Ahli Kitab), Buhaira berkata kepadanya: “Apakah anak ini dari keluargamu?”, Abu Thalib menjawab: “Dia adalah anakku”, Buhaira berkata: “Tidak seharusnya ayah anak ini dalam keadaan hidup

(Kedua); Ada sebuah hadits yang menyerupai pemahaman di atas, –bahwa yang dimaksud dalam neraka oleh Rasulullah adalah pamannya–; yaitu Abu Thalib. [Pemahaman hadits ini menjelaskan hadits riwayat Muslim di atas], Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari Ummu Salamah, bahwa al-Harits ibn Hisyam mendatangi Rasulullah di saat Haji Wada’ (haji terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah sebelum wafat), ia (al-Harits) berkata: “Wahai Rasulullah, engkau telah memerintahkan untuk menyambung tali sillaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, melindungi anak-anak yatim, memberi jamuan kepada para tamu, memberi makan kepada orang-orang miskin; sungguh pekerjaan-pekerjaan baik semacam ini dahulu dilakukan oleh Hisyam ibn al-Mughirah (yaitu ayahnya sendiri), lalu bagaimana pendapatmu tentang dia wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab:

كل قبر لا يشهد صاحبه أن لا إله إلا الله فهو جذوة من النار. وقد وجدت عمي أبا طالب في طمطتم من النار فأخرجه الله لمكانه مني وإحسانه إليّ فجعله في ضحضاح من النار (رواه الطبراني)

Maknanya: “Setiap kuburan yang orang di dalamnya tidak pernah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah maka kuburan tersebut adalah lubang dari neraka, dan sungguh aku telah mendapati pamanku sendiri; Abu Thalib berada di bagian terdalam (kerak) di neraka, maka kemudian Allah mengeluarkannya dari tempat terdalam tersebut karena ia memiliki kedudukan bagiku dan telah berbuat baik kepadaku, maka kemudian Allah menjadikan  tempatnya di dekat dari dasar neraka (fi dlahdlah min an-nar)”. (HR. ath-Thabarani).  Lihat pula al-Haitsami, Majma’ az-Zawa-id, 1/123.

Faedah Penting; Kritik Ulama Terhadap Beberapa Hadits Riwayat Muslim

Ada beberapa hadits dalam kitab Shahih Muslim yang dikritik oleh para ulama. Tentu yang mengkritik-pun adalah imam-imam hadits terkemuka sekelas imam Muslim sendiri, atau bahkan mungkin lebih darinya. Di antaranya hadits “Abi Wa Abaka Fin-nar”, hadits al-Jariyah, dan hadits tentang bacaan Bismillah dalam shalat.

Al-Imam al-Hafizh Abu Abadirrahman Abdullah ibn Muhammad al-Harari dalam kitab karyanya berjudul ash-Shirath al-Mustaqim menuliskan sebagai berikut: “Apabila ada yang berkata: Bagaimana mungkin riwayat Muslim [dengan redaksi] “Aina Allah?”, lalu ia [budak perempuan] menjawab: “Fi as-Sama’”, hingga akhir hadits; sebagai hadits yang ditolak, padahal ia berada dalam kitab Shahih Muslim, dan setiap hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitabnya tersebut maka berarti ia hadits sahih”!!

Jawab; Ada beberapa hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim telah ditolak oleh para ulama ahli hadits yang itu semua mereka sebutkan dalam kitab-kitab karya mereka sendiri, seperti hadits dengan redaksinya yang menyebutkan bahwa Rasulullah berkata kepada seseorang: “Inna Abi Wa Abaka Fi an-Nar” [secara literal bermakna: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka”], juga hadits yang redaksinya mengatakan bahwa setiap orang mukmin di hari kiamat kelak telah diberi jaminan [keselamatannya] dengan [ditukar] setiap orang Yahudi dan orang Nasrani”, demikian pula hadits [yang disebutkan] dari sahabat Anas ibn Malik, bahwa ia (Anas) berkata: “Aku shalat di belakang Rasulullah, Abu Bakr, dan Umar, mereka semua tidak membaca Bismillahirrahmanirrahim”. Hadits pertama dinyatakan dla’if oleh al-Hafizh as-Suyuthi, hadits yang kedua ditolak oleh imam al-Bukhari (guru imam Muslim sendiri), dan yang ketiga dinyatakan dla’if oleh imam asy-Syafi’i dan oleh huffazh al-hadits lainnya.

Metode Ketetapan Ke Empat: “Allah Telah Menghidupkan Kembali Kedua Orang Tua Rasulullah Sehingga Keduanya Beriman”

Sesungguhnya Allah telah menghidupkan kembali kedua orang tua Rasulullah sehingga keduanya beriman kepadanya. Ketetapan ini telah diambil oleh sekelompok ulama, cukup banyak, dari huffazh al-hadits dan lainnya, di antaranya; Ibn Syahin, al-Hafizh Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, as-Suhaili, al-Qurthubi, al-Muhibb ath-Thabari, al-‘Allamah Nashiruddin Ibn al-Munayyir, dan lainnya.

Para Ulama mengambil dalil untuk itu dari hadits yang telah diriwayatkan oleh Ibn Syahin dalam kitab an-Nasikh Wa al-Mansukh, al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab as-Sabiq Wa al-Lahiq, ad-Daraquthniy dan Ibn Asakir dan Ghara-ib Malik dengan sanad dla’if dari Aisyah bahwa ia (Aisyah) berkata:

حج بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع فمر بي على عقبة الحجون وهو باك حزين مغتم فنزل فمكث عني طويلا ثم عاد إلي وهو فرح مبتسم فقلت له فقال ذهبت لقبر أمي فسالت الله أن يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله (رواه ابن شاهين والخطيب البغدادي والدارقطني وابن عساكر)

Maknanya: “Rasulullah bersama kami melaksanakan haji wada’, saat bersamaku melewati putaran di Hajun (pada tempat sa’i) beliau menangis sedih, beliau berhenti (sa’i), beliau menjauh dariku, menyendiri cukup lama, kemudian beliau kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Aku bertanya kepadanya apa yang terjadi, beliau menjawab: “Aku telah pergi ke makam ibuku, aku meminta kepada Allah untuk menghidupkannya kembali; maka Allah menghidupkannya, maka ia beriman kepadaku, lalu kemudian Allah mengembalikannya (mematikannya kembali)”.

Hadits ini berkualitas dla’if sebagaimana disepakati oleh para ahli hadits, bahkan ada pendapat yang mengatakan itu sebagai hadits maudlu’, tetapi yang benar itu hadits dla’if bukan hadits maudlu’. Al-Hafizh as-Suyuthi telah menjelaskan kualitas hadits tersebut sebagai hadits dla’if saja, tidak maudlu’ dalam bahasan tersendiri

Al-Hafizh Syamsuddin Ibn Nashiriddin ad-Damasyqi dalam kitab karyanya berjudul Mawrid ash-Shadi Fi Mawlid al-Hadi, setelah menyebutkan riwayat tentang hidupnya kembali kedua orang tua Rasulullah, beliau menuliskan untaian bait sya’ir berikut ini:

حبا الله النبي مزيد فضل … على فضل وكان به رءوفا

فأحيا أمه وكذا أبوه … لإيمان به فضلا لطيفا

فسلم فالقديم بذا قدير … وإن كان الحديث به ضعيفا

“Allah mengaruniakan bagi nabi kita keutamaan yang lebih; yang keutamaan tersebut terus bertambah di atas keutamaan yang lain, dan sesungguhnya Allah sangat kasih sayang terhadap Rasulullah”

“Maka Allah menghidupkan kembali ibunda Rasulullah, juga ayahandanya; agar keduanya beriman kepada-Nya, dan itu adalah karunia agung dari Allah bagi Rasulullah”.

“Maka terimalah [penjelasan] ini, sesungguhnya Allah yang maha Qadim [Yang tidak bermula] maha Kuasa untuk melakukan itu, walaupun hadits yang menjelaskan ini sebagai hadits dla’if”.

Dalam bait-bait sya’ir di atas al-Hafizh Ibnu Nashiriddin dengan jelas menilai bahwa hadits tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Rasulullah adalah hadits dengan kualitas dla’if saja, bukan hadits maudlu’. Dan sesungguhnya al-Hafizh Ibnu Nashiriddin adalah bagian dari ulama hadits yang telah mencapai derajat huffazh.

Hadits Tentang Dihidupkan Kembali Kedua Orang Tua Rasulullah Bukan Hadits Maudlu’

Huffazh al-hadits berbeda pendapat dalam menilai hadits tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Rasulullah (ihya’ al-abawain), ada sebagian mereka menilainya sebagai hadits maudlu’ (palsu), yaitu; ad-Daraquthni, al-Juzaqani, Ibnu Nashir, Ibnul Jawzi, dan Ibnu Dihyah. Lalu ada pula yang menilainya hanya sebagai hadits dla’if saja, bukan hadits maudlu’, yaitu; Ibnu Syahin, al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu Asakir, as-Suhaili, al-Qurthubi, al-Muhibb ath-Thabari, dan Ibnu Sayyidinnas. Yang harus menjadi catatan penting kita dalam hal ini adalah bahwa walaupun ada sebagian Huffazh al-hadits yang menilai hadits ini maudlu’, namun demikian mereka semua tetap berkesimpulan bahwa kedua orang tua Rasulullah selamat. Sementara itu, al-Hafizh as-Suyuthi mengatakan bahwa pendapat yang benar (dan yang lebih lurus serta moderat) terkait derajat hadits ini adalah hanya dla’if saja, beliau berkata: “Aku telah meneliti hadits ihya’ al-abawain ini dari berbagai pangkalnya, dan kami mendapati bahwa klaim cacat yang dituduhkan kelompok pertama terhadap hadits ini semua itu tidak memberikan pengaruh, karena itu kami menguatkan pendapat kelompok ke dua [bahwa hadits ini hanya dla’if saja]”

Kaedah Dan Syarat-Syarat Mengamalkan Hadits Dla’if

  1. Dalam kisah-kisah, fadla-il al-a’mal, nasehat-nasehat dan lainnya (yang tidak berkaitan dengan keyakinan akidah dan hukum).
  2. Tidak terkait dengan perkara-perkara yang ja-iz dan mustahil bagi Allah, tafsir al-Qur’an, dan hukum-hukum seperti halal dan haram dan lainnya.
  3. Tidak sangat parah kelemahannya (Syadid adl-Dla’f)
  4. Bahwa hadits tersebut masuk dalam asal yang sudah diamalkan berupa keumuman sebuah dalil yang tsabit atau kaedah umum (menurut al-‘Izz ibn Abdis-Salam dan Ibnu Daqiq al ‘Id).
  5. Ketika mengamalkannya bukan karena dasar meyakininya sebagai tsabit.

Para Ulama Membolehkan Meriwayatkan Hadits Dla’if dalam Fadla-il al-A’mal Dan Manaqib

Di antara para ulama dan ahli hadits yang memberikan kelonggaran dalam meriwayatkan hadits dla’if dalam Fadla-il al-a’mal dan Manaqib tanpa perlu menjelaskan kelemahannya; Sufyan ats-Tsawri, Abdullah ibn al-Mubarak, Abdur Rahman ibn Mahdi, Ahmad ibn Hanbal, Abu Zakariyya al-‘Anbari, Al-Hakim, al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu Abdil Barr, Ibnus-Shalah, An-Nawawi, Al-‘Iraqi, Al-Laknawi, al-Harari, dan lainnya.

Hadits Tentang Dihidupkan Kembali Kedua Orang Tua Rasulullah Adalah Hadits Dla’if Yang Boleh Diriwayatkan

Al-Hafizh as-Suyuthi dalam risalah at-Ta’zhim Wa al Minnah fi Anna Abaway Rasulillah fi al Jannah berkata: “Saya telah memfatwakan bahwa hadits yang diriwayatkan bahwa Allah menghidupkan ibunda Nabi untuknya bukanlah hadits maudlu’ sebagaimana dinyatakan oleh sekelompok para ahli hadits melainkan termasuk bagian hadits dla’if yang bisa diriwayatkan dalam fadla-il al-a’mal.

Al-Hafizh as-Suyuthi dalam risalahnya yang lain al-Maqamah as-Sundusiyyah fi an-Nisbah asy-Syarifah al Mushthafayyah mengatakan: “Para ulama dan ahli hadits, dahulu dan sekarang, masih senantiasa meriwayatkan hadits ini dan menganggapnya termasuk keistimewaan dan mukjizat Nabi, mereka memasukkannya dalam wilayah manaqib dan di antara kemuliaan Nabi, mereka berpendapat bahwa kelemahan sanadnya dalam masalah ini ditolelir dan mengutip hadits yang tidak sahih dalam masalah fadla-il dan manaqib bisa dianggap”.

Masalah Redaksi Dalam al-Fiqh al-Akbar Karya Imam Abu Hanifah

al-Kawtsari mengupas tentang adanya penyimpangan al-Fiqh al-Akbar dalam terbitan-terbitan yang beredar di pasaran. Beliau menegaskan bahwa imam Abu Hanifah tidak pernah berkeyakinan bahwa kedua orang tua Rasulullah termasuk orang-orang kafir. Redaksi asli dalam al-Fiqh al-Akbar dari Imam Abu Hanifah, –seperti yang tertulis dalam manuskrip asli di perpustakaan Arif Hikmat di atas–, adalah: “Maa maataa ‘ala al-kufr” (ما ماتا على الكفر), namun redaksi asli ini berubah fatal menjadi “Maataa ‘ala al-kufr” (ماتا على الكفر).

Bagaimana Seharusnya Kita Beradab

  1. Al-Imam al-Qadli Abu Bakr Ibnul Arabi suatu ketika ditanya tentang seorang yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah masuk neraka, beliau menjawab: “Terlaknatlah orang yang berkata demikian, oleh karena Allah telah berfirman: “Sesungguhnya orang yang menyakiti (memusuhi) Allah dan Rasul-Nya dilaknat mereka oleh Allah di dunia dan di akhirat, dan Allah telah menyiapkan bagi mereka siksa yang hina” (QS. al-Ahzab: 57). Lalu Abu Bakr Ibnul Arabi berkata: “Dan tidak ada kata-kata buruk yang dapat meyakiti Rasulullah yang jauh lebih menyakitkan baginya dari pada mengatakan bahwa kedua orang tuanya di neraka”.
  2. Sebuah hadits diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah, berkata: “Suatu ketika datang Subai’ah; putri Abu Lahab menghadap Rasulullah, ia mengadu: “Wahai Rasulullah, sungguh orang-orang telah berkata kepadaku: “Engkau adalah anak dari bahan bakar neraka [yaitu; Abu Lahab]”. Maka kemudian Rasulullah berdiri dalam keadaan sangat marah, beliau berkata: “Mau apa orang-orang itu menyakitiku dengan jalan menyakiti para kerabat keluargaku?! Siapa yang menyakiti kerabatku maka ia telah menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku maka ia telah memusuhi Allah”. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Muhibb ath-Thabari dalam kitab Dakha-ir al-‘Uqba.
  3. Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah al-Awliya’ dari jalur Abdullah ibn Yunus, berkata: “Kami telah mendengar sebagian guru-guru kami menceritakan bahwa suatu ketika khalifah Umar ibn Abdil Aziz didatangkan kepadanya seorang sekretaris yang telah siap untuk bekerja, ia seorang muslim, sementara ayah-nya seorang kafir. Maka khalifah Umar berkata kepada orang yang membawa calon sekretaris tersebut: “Tidakah sebaiknya engkau mendatangkan padaku anak-anak dari kaum Muhajirin?! [Anak-anak dari kaum Muhajirin; jelas ayah-ayah mereka adalah orang-orang Islam, bahkan merupakan sahabat-sahabat Rasulullah]”. Tiba-tiba si-calon sekretaris berkata: “Bukankah ayah Rasulullah sendiri seorang yang … ?”. [al-Hafizh Abu Nu’aim berkata:] “Si-calon sekretaris tersebut berkata-kata yang sangat keji, sengaja aku tidak menuliskannya karena sangat buruk dan tidak beradab”. Mendengar jawaban si-calon sekretaris itu maka Khalifah Umar sangat marah, beliau berkata: “Selamanya, engkau jangan bekerja bagiku!
  4. Syaikhul Islam al-Imam al-Harawi dalam kitab Dzamm al-Kalam meriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Jamilah, berkata: “Berkata Umar ibn Abdil Aziz kepada Sulaiman ibn Sa’ad: Aku mendengar bahwa ayahmu bekerja bagi kita di beberapa tempat, dan dia adalah seorang yang kafir?!”. Sulaiman berkata: “Bukankah ayah Rasulullah seorang yang … ? [al-Imam al-Harawi berkata:] “Ia berkata-kata yang sangat keji, sengaja aku tidak menuliskannya karena sangat buruk dan tidak beradab”. Maka Khalifah Umar sangat murka, dan langsung melepas jabatan Sulaiman dari pekerjaan-nya dalam kesekretariatan.
  5. Al-Qadli Tajuddin as-Subki dalam kitab at-Tarsyih menuliskan: “Berkata asy-Syafi’i dalam beberapa kesempatan-nya, –semoga rahmat Allah selalu tercurah baginya–: “… dan Rasulullah sendiri akan memotong tangan “seorang perempuan mulia” jika terbukti ia mencuri”, lalu asy-Syafi’i diingatkan dengan bahwa yang dimaksud “perempuan mulia” tersebut adalah Sayyidah Fathimah, tapi kemudian asy-Syafi’i hanya berkata: “Jika si-fulanah mencuri…”. [al-Imam as-Subki berkata:] Lihatlah bagaimana asy-Syafi’i hanya berkata: “si-fulanah”, beliau tidak terang-terangan menyebutkan nama “Fatimah”; itu tidak lain hanya untuk tujuan beradab, walaupun sebenarnya Rasulullah dalam haditsnya menyebutkan secara terang nama putri-nya tersebut, oleh karena [ada semacam kaedah] “Sesuatu yang layak diungkapkan oleh seseorang belum tentu layak diungkapkan oleh orang lain.
  6. Al-Hafizh as-Suyuthi berkata: “Adab seperti itulah yang juga telah dipraktekan oleh Imam Abu Dawud, penulis kitab Sunan. Dalam kitab Sunan beliau menuliskan sebuah hadits yang terkait dengan keadaan Abdul Muth-thalib, hanya karena tujuan adab-lah beliau tidak “banyak bicara” prihal keadaannya. Hadits itu sendiri lebih lengkapnya telah diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan an-Nasa-i [dan Abu Dawud bukan tidak mengetahui rincian hadits tersebut]. Sebenarnya, catatan-catatan semacam itu merupakan pelajaran dan petunjuk penting yang telah dicontohkan oleh para imam terkemuka bagi kita semua agar kita tidak mudah berkata-kata buruk dalam menghukumi moyang-moyang Rasulullah karena kita harus menjaga adab terhadap mereka semua

Wasiat

“Tetaplah waspada terhadap ajaran-ajaran di luar Ahlussunnah Wal Jama’ah, terutama terhadap ajaran-ajaran Musyabih yang semakin hari semakin “merasuk” di wilayah kita. Terus jaga dan tetap perhatikan anggota keluarga dan seluruh sanak family kita jangan sampai ada yang menyempal dari barisan Ahlussunnah Wal Jama’ah”.

Wa Allahu A’lam Bi ash-Shawab. Wa al-Hamdu Lillah Rabbil ‘Alamin.

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Most Popular

Recent Comments

×

 

Assalaamu'alaikum!

Butuh informasi dan pemesanan buku? Chat aja!

× Informasi dan Pemesanan Buku