Selasa, Maret 5, 2024
spot_img
BerandaIlmu KalamKisah Perdebatan Abu Hanifah dan Orang Atheis

Kisah Perdebatan Abu Hanifah dan Orang Atheis

Dikisahkan di zaman Hammad ibn Abi Sulaiman, salah seorang guru terkemuka al-Imam Abu Hanifah, ada seorang atheis menantang siapapun dari para ulama untuk berdebat dengannya. Tantangannya ini ia sebar ke seluruh pelosok negeri. Tapi banyak ulama saat itu yang enggan menghadapi orang atheis tersebut, dengan banyak alasan. Salah satunya untuk menghidari fitnah yang dikhawatirkan menjadi lebih besar.

Sanga atheis menantang: “Adakah tersisa di antara kalian orang yang kalian anggap paling alim?”

Salah satu tokoh terkemuka di masa itu adalah Hammad. Maka banyak orang menganggap bahwa orang yang pantas menghadapi orang atheis itu adalah Hammad. Padahal Hammad adalah sosok ulama sepuh. Sementara untuk menghadapi pemuda atheis yang sangat optimis tersebut membutuhkan energy yang cukup besar dan pikiran yang fresh. Sang atheis berkata: “Wahai Khalifah, hadirkan orang yang benama Hammad itu di hadapanku. Kita akan lihat siapa sesungguhnya orang yang berada di atas kebenaran?”.

Lalu, atas nama Khalifah, Hammad dipanggil. Beliau diminta kesiapannya untuk menghadapi sang atheis. “Sanggupkan engkau?”, tanya Khalifah. Sang Imam menjawab: “Berilah tempo bagiku malam ini untuk mengambil keputusan”.

Esok harinya, masih cukup pagi, datanglah murid sang Imam, seorang pemuda usia tanggung dengan perawakan kecil. Namun pemuda ini nyatanya seorang yang sangat cerdas, dan sangat dekat dengan sang Imam. Dialah Abu Hanifah. Sang murid heran melihat wajah gurunya, terlihat sangat muram dan Nampak menyembunyikan gelisah yang sangat.

Baca juga: Dalil-Dalil Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit

Abu Hanifah bertanya: “Wahai Syekh, apa yang membuatmu gelisah?”.

Sang guru: “Bagiamana aku tidak gelisah. Aku telah dipanggil Khalifah untuk menghadapi orang atheis, untuk berdebat dengannya di hadapa para ulama dan orang banyak”.

Abu Hanifah: “Lantas apa yang Syekh khawatirkan?”.

Sang guru: “Malam tadi aku lihat dalam mimpiku sesuatu yang buruk. Aku lihat ada suatu perkampungan yang sangat luas, subur dan sangat indah. Di wilayah tersebut ada satu pohon besar, rindang, dan berbuah. Tiba-tiba dari salah satu arah kampong tersebut datanglah seekor babi. Ia menggerogoti akar pohon besar itu, dan memakan buah-buahnya, juga memakan daun-daunya. Tidak ada yang tersisa dari pohon besar tersebut kecuali hanya batang pokoknya saja. Tiba-tiba dari dalam pohon tersebut keluarlah harimau besar yang sangat kuat, ia menerkam babi itu dan membunuhnya”.

Abu Hanifah berkata: “Allah telah memberi pemahaman kepadaku tentang takwil mimpi semacam itu. sesungguhnya mimpi ini pertanda baik bagi kita dan buruk bagi musuh kita”.

Sang guru: “Wahai Nu’man, jelaskan apa takwil mimpi itu!”.

Abu Hanifah: “Perkampungan yang sangat luas, subur dan indah itu adalah agama Islam, pohon besar itu adalah para ulama, akar pohon yang digerogoti babi itu adalah engkau, dan babi itu adalah orang atheis yang menantangmu berdebat”.

Sang guru: “Lantas siapakah harimau yang membunuh babi tersebut?”.

Abu Hanifah: “Harimau itu adalah aku sendiri, Nu’man. Akulah yang membunuh babi itu. Dengan berkah ilmu darimu akan menundukan orang atheis itu, akan aku patahkan setiap argumennya. Aku akan tampil berdebat dengan orang atheis itu di hadapanmu dan di hadapan orang banyak”.

Demi mendengar ucapan sang murid yang dicintainya, Hammad menjadi sangat senang. Hammad tahu betul kecerdasan Abu Hanifah dan keberanianya. Maka keduanya menyampaikan kesiapan acara debat dimaksud kepada Khalifah. Lalu ditentukanlah, hari, tanggal dan tempat untuk helatan besar tersebut.

Pada hari yang telah ditentukan dua orang, guru dan murid ini datang. Helatan besar itu dihadiri Khalifah. Tentu juga ramai disaksikan oleh banyak orang. Dua kursi besar diletakan berhadapan untuk kontetas dalam acara debat tersebut. Hammad duduk di salah satu kursi itu. Sementara Abu Hanifah duduk di samping kursi Hammad di bawahnya sambil memegang sandalnya dan sandal sang guru. Abu Hanifah benar-benar nampak seperti seorang pembantu, atau hamba sahaya di samping majikannya.

Orang atheis yang sudah siap berdebat itu datang. Di hadapan orang banyak ia berkata: “Siapakah di antara kalian yang sanggup menjawab pertanyaanku?”.

Semua orang terdiam. Hening. Tiba-tiba Abu Hanifah menjawab: “Janganlah engkau berlaku anggkuh, jika engkau memiliki pertanyaan silahkan engkau sampaikan pertanyanmu itu, mungkin di sini ada yang mampu menjawab pertanyaamu. Tidak dengan petantang-petenteng seperti ini”.

Baca buku: Membongkar Kesesatan Ibnu Taimiyah

Si orang atheis geram. Ia naik darah. Karena yang menanggapi ucapannya hanyalah seorang anak kecil, belum berumur, dengan keadaan duduk dengan memegangi sandal. Si orang atheis merasa terhinakan.

Ia menghardik berkata: “Hai anak muda, siapa engkau? Engkau sungguh berani berbicara seperti itu kepadaku. Tidakkah engkau tahu bahwa ada banyak orang yang jauh lebih tua darimu, mereka berpakaian seperti orang yang kalian anggap berilmu, nyatanya mereka semua takluk di tanganku!”.

Abu Hanifah menjawab: “Allah tidak menjadikan kemuliaan dan ketinggian ilmu itu pada orang-orang yang bersorban besar diikatkan di kepalanya, tidak pula pada mereka yang berpakaian mewah dengan tangan baju yang sangat besar. Tetapi ilmu itu dikaruniakan oleh Allah kepada para ulama. Mereka itulah yang ditinggikan derajatnya oleh Allah”.

Orang atheis semakin geram. Ia berkata: “Jika demikian maka engkau yang menjadi lawanku, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku!”.

“Siap, aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan taufiq dan pertolongan Allah”, dengan tegas Abu Hanifah balik menantang.

Orang atheis memulai pertanyaannya, berkata: “Apakah Allah itu ada?”.

“Tentu, Allah maha ada”, jawab Abu Hanifah.

“Di mana Dia?”, lanjut si orang atheis.

“Allah ada tanpa tempat”, tegas Abu Hanifah.

“Bagaimana kalian mengatakan Allah maha ada, namun kalian mengatakan Dia ada tanpa tempat?!”, sanggah si atheis.

“Dalam dirimu sendiri terdapat bukti yang dapat memberikan jawaban sebagai pendekatan seumpama demikian itu. Itu dapat memecahkan ketidakpahamanmu”, Abu Hanifah menjawab.

“Apakah itu?”, desak si atheis.

Abu Hanifah balik bertanya: “Di mana ruhmu dalam tubuhmu itu? Apakah ia di kepala, di perut, di kaki, atau di bagian mana?”.

Si atheis kaget, tercengang mendapatkan pertanyaan demikian. Pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah ia duga akan disodorkan kepadanya. Beberapa lama tidak dijawab, maka Abu Hanifah menunjuk air susu yang ada di hadapan sang guru, sambil berkata: “Lihat air susu ini, bukankah dalam air susu ini ada lemaknya?”.

“Benar”, sahut si atheis.

“Beritahukan kepadaku di bagian mana lemak tersebut dari air susu ini?”, Tanya Abu Hanifah.

Orang atheis tersebut semakin tercengang. Ia bimbang dengan jawaban yang harus ia ungkapkan. Maka ia memilih untuk tidak menjawab.

Lalu Abu Hanifah melanjutkan: “Terhadap ruh yang ada pada tubuh, dan terhadap lemak yang ada dalam susu akalmu tidak dapat meraih akan tempatnya, maka terlebih lagi tentang Allah yang menciptakan tempat, tentulah Dia maha ada dan tidak membutuhkan kepada ciptaannya. Dia tidak membutuhkan kepada tempat dan arah”.

Sampai di sini orang atheis itu tidak memiliki argument, maka ia mengajukan pertanyaan lain: “Pertanyaan berikutnya, apa sesuatu sebelum Allah dan apa sesuatu setelah Allah?”.

Abu Hanifah menjawab: “Allah ada tanpa permulaan da nada tanpa penghabisan”.

“Bagaimana bisa digabarkan pada akal bahwa Dia ada tanpa permulaan dan juga tanpa penghabisan?”, sanggah si atheis.

Dengan tenang Abu Hanifah menjawab: “Dalam tubuhmu pula ada jawaban bagi pertanyaan seperti demikian itu”.

“Apa itu?”, sergah si atheis.

“Engkau memiliki lima jari bagi tanganmu. Ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking. Pertanyaanku: Jari apakah sebelum ibu jari? Dan jari apakah setelah jari kelingking?”

“Tidak ada jari apapun sebelum ibu jari, juga tidak ada jari apapun setelah jari kelingking”, jawab si atheis.

Maka abu Hanifah dengan tegas berkata: “Terlebih lagi Allah, Dia tidak didahului oleh suatu apapun, juga tidak disudahi oleh suatu apapun. Allah tidak tidak terikat oleh waktu. Allah yang menciptakan waktu, maka Dia tidak terikat oleh ciptaan-Nya”.

Si orang atheis dapat menerima argument Abu Hanifah. Ia tidak memiliki bantahan untuk itu. Lalu ia berkata: “Tersisa bagiku satu pertanyaan untukmu”.

“Aku bisa menjawabnya In sya Allaah”, tegas Abu Hanifah.

Si atheis berkata: “Apa yang sedang dikerjakan Allah sekarang?”, seakan ia merasa akan menundukan Abu Hanifah.

Abu Hanifah menjawab datar: “Engkau terus bertanya kepadaku. Dan aku menjawab setiap pertanyaamu. Seharusnya posisi si-penanya berada di bawah, seperti pada tempat dudukku ini, dan si-penjawab seharusnya di posisi atas, duduk di kursi itu. dan jika engkau mau bertukar posisi denganku, aku di atas, engkau di bawah, maka aku akan menjawab pertanyaanmu”.

Mendapat sindiran demikian, juga karena penasaran dengan jawaban bagi pertanyaan yang telah ia ajukan maka si atheis mengalah. Ia turun dari kursi, duduk di bawah, dan Abu Hanifah menggantikan posisinya, duduk di atas kursi tersebut. Ia berkata: “Benarkah engkau ingin mengetahui apa yang diperbuat Allah sekarang?”.

“Iya”, tegas si atheis.

Maka Abu Hanifah menjawab: “Yang diperbuat oleh Allah sekarang adalah menundukan yang batil dan mengangkat yang hak, yaitu sama dengan menjadikan posisiku di atas dan posisimu di bawah”.

Si atheis terdiam mati kutu, ia tidak memiliki kata-kata untuk diungkapkan. Ia kalah berdebat dan kalah argument.

 

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments

Abou Qalby on Cahaya di Kegelapan
×

 

Assalaamu'alaikum!

Butuh informasi dan pemesanan buku? Chat aja!

× Informasi dan Pemesanan Buku