Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaTasawufLandasan Tasawwuf; Menyatukan Antara Ilmu dan Amal

Landasan Tasawwuf; Menyatukan Antara Ilmu dan Amal

Sufi sejati adalah para ulama dan fuqaha’ yang gigih membela kemurnian syari’at

Landasan Tasawwuf; Menyatukan Antara Ilmu dan Amal. Secara garis besar, tuntutan pelaksanaan ajaran-ajaran agama didasarkan kepada dua perkara. Pertama; Melaksanakan hal-hal yang diwajibkan. Kedua; menjauhi hal-hal yang dilarang. Ketentuan inilah yang harus menjadi sandaran setiap muslim. Siapapun yang menyalahi dua ketentuan ini maka ia telah keluar dari jalur kebenaran. Tidak dibenarkan bagi seseorang untuk memperbanyak pekerjaan yang sunnah, semantara ia lalai dari melaksanakan pekerjaan wajib. Karena perkara sunnah secara definitif adalah sesuatu yang boleh ditinggalkan, dan tidak berbuah dosa bila tidak dikerjakan. Sementara hal yang wajib adalah sesuatu yang keharusan mengerjakannya tidak dapat ditawar lagi dan berakibat dosa bila ditinggalkan. Inilah yang dimaksud dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah bersabda, bahwa Allah berfirman:

مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ ءَاذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أحَبّ إلَيَّ مٍمّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيّ بِالنّوَافِلِ حَتىّ أُحِبَّهُ، فَإذَا أحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الّذِيْ يَسْمَعُ بهِ وَبَصَرَهُ الّذِيْ يُبْصِرُ بهِ وَلِسَانَهُ الّذِيْ يَنْطِقُ بهِ وَيَدَهُ الّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الّتِيْ يَمْشِي بِهَا (رَوَاهُ البُخَارِيّ فِي كتَاب الرّقَاق)

“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku telah umumkan kepadanya untuk memeranginya. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan jalan yang lebih Aku cintai dari pada bila ia mengerjakan yang telah Aku wajibkan kepadanya. Bila seorang hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku maka Aku akan mencintainya. Dan bila Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberikan kekuatan pada pendengarannya, kekuatan pada penglihatannya, kekuatan pada lidahnya saat ia berbicara, kekuatan pada tangannya saat ia memukul dengannya dan kekuatan pada kakinya saat ia berjalan dengannya”. (HR. al-Bukhari dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh pada Kitab ar-Riqâq).

Hal pertama bagi seorang yang hendak meningkatkan kualitas takwanya adalah memenuhi kewajiban dalam mempelajari dan mengetahui segala hal yang terkait dengan dua landasan di atas. Kewajiban mempelajari ilmu ini tidak terkecuali bagi siapapun dari seorang muslim mukallaf. Kadar ilmu yang wajib dipelajari ini dikenal dengan ilmu pokok-pokok agama (‘Ilm ad-Dîn adl-Dlarûri). Adalah ilmu-ilmu yang terkait dengan tatacara praktis dalam beribadah; seperti  bersuci, shalat, puasa dan lainnya. Juga ilmu-ilmu yang secara praktis terkait dengan muamalah (hubungan sesama manusia), seperti tatacara jual beli, membuat akad nikah, atau akad-akad perniagaan lainnya. Termasuk juga di dalamnya  ilmu tentang maksiat-maksiat anggota badan, dan cara bertaubat dari maksiat-maksiat tersebut.

Seorang yang konsisten dalam mengerjakan ketentuan-ketentuan syari’at dari mengerjakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah, di tambah dengan memperbanyak hal-hal yang sunnah, maka orang ini adalah seorang wali Allah. Baik tampak terlihat dari dirinya unsur-unsur karamah (sesuatu yang di luar kebiasaan) maupun tidak. Inilah difinisi yang dinyatakan para ulama tentang seorang wali Allah.

Baca juga: Metode Yang Benar Dalam Meraih Ilmu Agama

Dari definisi ini dapat diketahui bahwa tidak ada seorangpun dari kaum sufi sejati yang mengabaikan ketentuan-ketentuan syari’at. Justru sebaliknya, mereka menjadi sampai kepada derajat yang mereka raih dalam kewalian adalah karena konsistensi mereka dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan syari’at. Dengan demikian siapaun yang mengaku dirinya sufi, –walau dengan segala atribut tasawuf ia pakai–, namun bila mengabaikan ketentuan-ketentuan syari’at maka dapat dipastikan bahwa ia bukan seorang sufi sejati, tetapi sufi gadungan. Bahkan seandainya orang ini memiliki keanehan-keanehan di luar jangkauan akal sehat, maka dapat dipastikan bahwa hal-hal tersebut bukan karamah.

Karena itu tidak terdapat seorang sufi-pun yang tidak mengetahui ilmu agama. Sebaliknya kaum sufi sejati adalah para ulama dan fuqaha’ yang gigih membela kemurnian syari’at. Mereka adalah kaum yang menyatukan antara ilmu dengan amal. Kitab Hilyah al-Auliyâ’ yang telah ditulis oleh al-Hâfizh Abu Nu’aim tentang biografi orang-orang sufi, tidak lain mereka adalah orang-orang terkemuka dalam ilmu syari’at. Karena itu al-Hâfizh Abu Nu’aim dalam karyanya tersebut setelah pertama-tama menyebutkan biografi al-Khulafâ’ ar-Rasyidûn sebagai tokoh-tokoh terdepan di kalangan kaum sufi, lalu beberapa di antaranya beliau menyebutkan biografi Imam madzhab yang empat; Imam Abu Hanifah, Imam Malik ibn Anas, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Demikian pula dalam kitab-kitab biografi sufi lainnya, seperti Abdul Wahhab asy-Sya’rani dengan karyanya berjudul ath-Thabaqât al-Kubrâ, para Imam madzhab yang empat tersebut selalu disebut sebagai jajaran sufi terkemuka. Kemudian dari pada itu, bahwa di antara jajaran sufi terkemuka tidak sedikit yang berasal dari kalangan ulama ahli hadits, ulama ahli tafsir, ulama ahli qira’at dan ulama disiplin ilmu lainnya. Sesungguhnya mereka semua adalah  kaum sufi sejati. Tidak ada seorangpun dari kaum sufi sejati (ash-Shûfiyyah al-Muhaqiqûn) yang bodoh tidak memahami ilmu-ilmu syari’at. Mereka adalah para penegak dan pengamal ilmu-ilmu syari’at, bagaimana mungkin mereka orang-orang yang tidak paham ilmu-ilmu syari’at itu sendiri?!

Simak berikut ini pernyataan ulama sufi tentang kewajiban mencari ilmu agama dan keharusan berpegang teguh dengan ajaran-ajarannya. Imam Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir, perintis tarekat ar-Rifa’iyyah, dalam kitab al-Burhân al-Mu-ayyad, berkata:

“Wahai saudarku, agungkanlah kedudukan ulama dan fuqahâ’ seperti kalian mengagungkan kedudukan para wali Allah dan para ‘Ârif Billâh. Karena jalan yang ditempuh adalah satu. Mereka adalah pewaris ilmu-ilmu syari’at dan ajaran hukum-hukumnya yang diamalkan oleh seluruh manusia dan orang-orang yang telah sampai kepada Allah. Karena tidak ada faedah sedikitpun bagi mereka yang beramal di atas jalan yang menyalahi syari’at. Bahkan bila seorang ‘Abid beribadah kepada Allah selama lima ratus tahun dengan jalan yang tidak dibenarkan syari’at maka seluruh amal ibadahnya tersebut tertolak, bahkan ia telah berbuat dosa, dan kelak di hari kiamat ia tidak akan mendapatkan timbangan kebaikan sedikitpun. Maka janganlah kalian meremehkan hak-hak para ulama, hendaklah berbaik sangka kepada mereka semua. Ulama yang bertakwa dari mereka dan konsisten dalam mengamalkan apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka, mereka adalah para wali Allah yang sejati. Hendaklah penghormatan kalian kepada mereka selalu terjaga. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:  “Para ulama adalah pewaris para Nabi”. (HR. at-Tirmidzi Abu Dawud dan lainnya). Maka para ulama adalah para pemimpin manusia, mereka adalah makhluk-makhluk paling mulia, dan mereka adalah para penunjuk kepada kebenaran”.[1]

Dalam kesempatan lain, Imam Ahmad ar-Rifa’i berkata:

“Biarkanlah segala apapun yang mereka (kaum sufi) perbuat, selama hal tersebut tidak menyalahi syari’at. Namun bila mereka menyalahi syari’at, maka tinggalkanlah mereka dan ikutilah syari’at”.

Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:

“Siapa yang tidak hafal al-Qur’an dan tidak mau menulis hadits-hadits Rasulullah maka ia tidak boleh diikuti dalam urusan ini (tasawuf), karena ilmu kita (tasawuf) ini diikat dengan al-Qur’an dan Sunnah”[2].

Imam Abu Hamzah al-Bazzar, salah seorang sufi terkemuka, berkata:

“Siapa yang mengetahui jalan yang benar maka akan mudah baginya untuk menapaki jalan tersebut. Dan tidak ada petunjuk atau jalan menuju Allah kecuali dengan mengikuti Rasulullah dalam setiap keadaannya, setiap perbuatannya, dan setiap perkataannya”[3].

Imam al-Ghazali dalam pembukaan kitab Minhâj al-‘Âbidîn menekankan bahwa seorang yang hendak memasuki gerbang tasawuf pertama-tama adalah berkewajiban belajar ilmu-ilmu pokok agama. Karena segala praktek ibadah dalam bentuk apapun yang yang nanti akan ia lakukan setelah masuk dalam wilayah tasawuf benar-benar hanya didasarkan kepada pondasi ilmu yang ia pelajarinya. Dalam hal ini ilmu diibaratkan pohonan, sementara ibadah diibaratkan buahnya. Tentu pohon ini yang harus didahulukan dan diperbaiki, sebab bila ia tidak ada maka buah apapun yang diharapkan juga tidak akan pernah ada[4].

Baca juga: Mengenal Tasawuf Rasulullah

Masih menurut al-Ghazali, urgensi ilmu agama kaitannya dengan tasawuf paling tidak dilihat karena dua sebab.

Pertama; karena amal ibadah yang benar adalah yang sejalan dengan ketentuan-ketentuan syari’at. Dengan demikian maka ketentuan-ketentuan syari’at ini wajib dipalajari dan diketahui. Kemudian kewajiban menuntut ilmu syari’at ini memiliki tingkatan masing-masing. Ada beberapa di antara ilmu harus didahulukan atas lainnya. Seperti ilmu tauhid, kewajiban mempelajarinya harus didahulukan di atas seluruh ilmu. Karena itu, seorang yang hendak mempelajari tasawuf, pertama-tama harus memiliki akidah yang lurus, mengetahui siapa yang ia sembah, bagaimana menyembah-Nya, mengetahui sifat-sifat yang wajib atas-Nya, perkara-perkara yang mustahil atas-Nya, dan perkara-perkara yang jâ-iz bagi-Nya. Karena bila seorang berkeyakinan rusak dan tidak mengetahui tauhid yang benar maka seluruh amal ibadah yang ia lakukannya menjadi sia-sia belaka. Setelah mempelajari ilmu tauhid, baru kemudian dilanjutkan dengan mempelajari perkara-perkara yang diwajibkan dan perkara-perkara yang diharamkan dalam syari’at. Karena perkara-perkara yang diwajibkan tidak akan dilakukan kecuali oleh orang benar-benar telah mengetahui hakekat kewajiban-kewajiban itu sendiri. Demikian pula perkara yang diharamkan tidak akan dihindari kecuali oleh seorang yang benar-benar telah mengetahui perkara-perkara yang diharamkan itu sendiri, dan mengetahui bagaimana cara menghindarinya, dan cara bertaubat darinya. Di antara kewajiban yang harus dipelajari seperti masalah bersuci, shalat, puasa, dan lainnya. Termasuk mempelajari kewajiban-kewajiban hati (A’mâl al-Qalb) seperti ikhlash, menghindari riya’, sombong, iri, dengki, ingin dipuji orang lain dan lainnya.

Kedua; karena ilmu yang bermanfa’at dapat melahirkan rasa takut kepada Allah. Perasaan takut ini kemudian akan melahirkan sikap taat kepada Allah dengan melakukan setiap perintah-Nya dan menghindari berbagai perbuatan maksiat kepada-Nya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ (فاطر: 28)

“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah adalah para ulama”. (QS. Fathir: 28)

Imam al-Qusyairi dalam pembukaan kitab ar-Risâlah al-Qusyairiyyah menulis satu sub judul dengan nama “Ushûl at-Tauhîd ‘Inda ash-Shûfiyyîn”, berisi pembahasan tentang kemurnian akidah yang diyakini oleh para ulama sufi. Bahwa kaum sufi adalah ahli tauhid dan merupakan orang-orang terdepan di kalangan ulama Ahlussunnah. Mereka adalah kaum yang mensucikan Allah dari keyakinan tasybîh (akidah sesat menetapkan adanya keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya, seperti yang diyakini kaum Musyabbihah). Kaum sufi juga mensucikan Allah dari keyakinan ta’thîl (akidah sesat yang mengingkari Allah atau sifat-sifat-Nya, seperti yang keyakinan kaum Mu’tazilah). Kaum sufi adalah orang-orang yang gigih membela akidah Ahlussunnah yang notabene sebagai keyakinan Rasulullah dan keyakinan para sahabatnya[5].

Imam Abu Bakr al-Kalabadzi dalam kitab at-Ta’arruf Li Madzhab Ahl at-Tasawwuf menuliskan sebagai berikut:

“Ketahuilah bahwa ilmu kaum sufi itu adalah al-Ahwâl. Al-Ahwâl ini adalah adalah tingkatan keadaan pada diri seseorang yang hanya dapat diraih dengan pengamalan syari’at yang benar. Dan pengamalan terhadap syari’at yang benar pertama-tama adalah dengan mengetahui ilmu-ilmunya. Ilmu syari’at mencakup dasar-dasar ilmu fikih seperti shalat, puasa, dan fardlu-fardlu lainnya. Kemudian ilmu ma’amalat seperti nikah, talak, perniagaan, dan seluruh apa yang diwajibkan dan disunnahkan oleh Allah”[6].

Dalam tinjauan Imam al-Kalabadzi bahwa seorang yang hendak menapaki jalan tasawuf (sâlik), sebelum ia memasuki medan tasawuf itu sendiri maka pertama-tama yang harus ia lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu agama dan hukum-hukumnya (‘Ilm al-Furû’), sesuai puncak kemampuan yang ia miliki. Tentu, kewajiban mempelajari Ilm al-Furû’ ini setelah ia benar-benar memahami ilmu tauhid, karena ilmu tauhid merupakan pondasi dari seluruh ilmu. Kewajiban mendahulukan belajar ilmu tauhid di atas ilmu-ilmu lainnya adalah perintah al-Qur’an, Sunnah dan merupakan Ijma’ para ulama Salaf yang saleh. Ilmu tauhid di sini adalah ilmu akidah yang sejalan dengan keyakinan Ahlussunnah Wal jama’ah[7].

Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab al-Anwâr al-Qudsiyyah berkata: “Ilmu-ilmu Ahl Allah tidak lain adalah ilmu-ilmu yang dibawa oleh Rasulullah. Mereka semua terikat dengan tuntunan syari’at, dan mereka semua tidak keluar dari tuntunan syari’at tersebut kepada pendapat pribadi (al-ra’y) dan qiyas, kecuali dalam beberapa hal saja”. Dalam bagian lain dalam kitab yang sama beliau berkata: “Sesungguhnya jalan kaum (sufi) ini diintisarikan dari al-Qur’an dan Sunnah, layaknya emas dan permata sebagai intisari. Dengan demikian siapa yang bukan benar-benar seorang alim maka ia tidak akan pernah menjadi bagian dari kaum ini. Karena setiap gerak dan diam bagi orang-orang yang berada pada kaum ini selalu ditimbang dengan timbangan syari’at. Maka itu mestilah ia mengetahui timbangan-timbangan tersebut sebelum ia berbuat suatu apapun”. Pada bagian lain, mengutip perkataan as-Sayyid Ibrahim ad-Dasuqi, asy-Sya’rani berkata: “Wahai anakku, ikutilah jalan kaum (sufi), karena jalan tersebut adalah jalan para ulama Salaf yang saleh dari para sahabat dan tabi’in. Namun hal ini engkau lakukan setelah engkau mempelajari kewajiaban-kewajiban syari’at”.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayât al-A’yân, mengutip perkataan Imam Abu Yazid al-Bisthami, berkata: “Ia (Abu Yazid) berkata: Jika kalian melihat seseorang memiliki keajaiban-keajaiban hingga ia dapat terbang di udara, janganlah kalian tertipu olehnya dengan hal semacam ini, hingga kalian melihat sendiri bagaimana orang tersebut melakukan segala perintah dan larangan -Allah dan Rasul-Nya-, dan bagaiman ia menjaga ketentuan-ketentuan syari’at”.

Imam Abu al-Hasan asy-Syadzili, perintis tarekat asy-Syadziliyyah dan Imam yang sangat agung di masanya, berkata:

“Jika engkau memiliki kasyf yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah maka tinggalkanlah kasyf-mu itu, berpeganglah dengan al-Qur’an dan Sunnah. Katakanlah kepada dirimu bahwa Allah telah menjamin kebenaran yang dibawa al-Qur’an dan Sunnah, yang jaminan tersebut belum tentu dibawa oleh kasyf, ilhâm atau musyâhadah. Inilah yang telah disepakati oleh para ulama sufi bahwa kasyf, ilhâm atau musyâhadah tidak dijadikan sebagai landasan kecuali setelah dicocokkan kebenarannya dengan al-Qur’an dan Sunnah”[8].

Pemuka kaum sufi dimasanya; Imam Dzunnun al-Mishri, merasa prihatin dengan kenyataan orang-orang Islam pada masanya. Beliau menilai bahwa orang-orang Islam saat itu sudah mulai rusak, orientasi kehidupan mereka hanya untuk kesenangan duniawi belaka, walau sebenarnya bila dibanding dengan kehidupan kita di zaman sekarang maka zaman beliau jauh lebih bagus, karena beliau hidup di masa Salaf. Dalam menyikapi kondisi tersebut Imam Dzunnun berkata: “Pada masa ini, orang-orang ahli ibadah dan ahli qira’at banyak yang menganggap enteng terhadap dosa, mereka terjerumus dalam nafsu perut dan kemaluan, tertutup dari melihat aib-aib yang ada pada diri mereka, hingga mereka menjadi sesat dengan tanpa mereka sadari. Mereka makan makanan haram dan meninggalkan makanan halal, ridla mendapatkan keuntungan dengan menjual ilmu, merasa malu untuk berkata “tidak tahu” ketika ditanya sesuatu yang mereka tidak ketahui. Mereka adalah para hamba dunia bukan ulama syari’at. Karena bila benar mereka ulama syari’at maka mereka akan meninggalkan keburukan-keburukan tersebut. Mereka memakai pakaian-pakaian ala sufi namun hati mereka layaknya hati srigala. Masjid-masjid yang seharusnya dikumandangkan nama-nama Allah di dalamnya, mereka jadikan tempat untuk permainan, mencari kesombongan, dan untuk menceritakan keburukan orang lain. Mereka menjadikan ilmu sebagai alat untuk meraih kesenangan dunia. Janganlah kalian bergaul dengan mereka”[9].

Perintah mempelajari ilmu-ilmu syari’at akan kita dapati pula dalam banyak risalah yang ditulis oleh Ibn Arabi, sebagaimana akan kita lihat nanti dalam kajian tentang karya-karyanya. Di antaranya dalam risalah at-Tanazzulât al-Maushiliyyah, beliau mengatakan bahwa kebahagiaan yang benar-benar merupakan kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih dengan berpegang teguh dengan syari’at dan melaksanakan ketentuan-ketentuannya[10].

_________________

[1] ar-Rifa’i, Maqâlât Min al-Burhân al-Mu’ayyad, h. 50

[2] Lihat al-Qusyairi, ar-Risâlah, h. 431. Lihat pula as-Subki, Thabaqât, j. 2, h. 274 dengan sanad-nya hingga al-Junaid.

[3] al-Qusyairi, ar-Risâlah, h. 395

[4] al-Ghazali, Minhâj al-‘Âbidîn, h. 6-7. Beliau menuliskan berbagai rintangan bagi seorang yang hendak mendalami tasawuf. Judul paling pertama dalam kitabnya ini “’Aqabah al-‘Ilm”. Artinya rintangan paling pertama adalah keharusan mempelajari ilmu agama.

[5] al-Ghazali, Minhâj al-‘Âbidîn, h. 41-49

[6] al-Kalabadzi, at-Ta’arruf, h. 104

[7] al-Kalabadzi, at-Ta’arruf, h. 104

[8] asy-Sya’rani, ath-Thabaqât, j. 2, h. 363

[9] asy-Sya’rani, ath-Thabaqât, j. 1, h. 123

[10] Lihat dalam kajian karya-karya Ibn Arabi pada bab dua dalam kajian risalah at-Tanazzulât al-Lailiyyah.

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru