Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaKisah TeladanLawanlah Hawa Nafsu Kita!

Lawanlah Hawa Nafsu Kita!

“kalau ada orang mencacimu dengan sesuatu yang tidak dia ketahui darimu, jangan anda balas dengan cacian yang anda ketahui (keburukan) darinya”

Lawanlah Hawa Nafsu Kita! Rasúlulláh mengajarkan dan menunjukan kepada kita bahwa didalam pergaulan sesama manusia ketika dia berbuat buruk kepada kita, hendaknya kita membalasnya dengan kebaikan.

Suatu ketika sahabat Jábir Ibn Sulaim berkata kepada Rasúlulláh: “ajarilah kepadaku apa yang Allah ajarkan kepadamu”, kemudian Rasúlulláh menjawab: “kalau ada orang mencacimu dengan sesuatu yang tidak dia ketahui darimu, jangan anda balas dengan cacian yang anda ketahui (keburukan) darinya”.

Kemudian sahabat mulia ini ketika mendengar hadits ini dari mulut mulia Rasúlulláh tidak pernah mencaci seorangpun sampai akhir hidupnya, para sahabat sangatlah cepat didalam menerapkan apa yang Alláh dan Rasul-Nya perintahkan kepada mereka.

Baca juga: Aku Mencintaimu Karena Allah

Abu Daud didalam sahihnya, bahwa Rasúlulláh bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ مَنْ غَلَبَ النَّاسَ وَلَكِنّ الشَّدِيْد مَنْ غَلَبَ نَفْسَهُ

Maknanya: “orang kuat bukanlah mereka yang mengalahkan banyak orang, akan tetapi mereka yang menundukan hawa nafsunya”. HR. Abu Daud.

Dalam sebuah hadits, bahwa Rasúlulláh hidup diantara dua orang tetangga yang buruk akhlaknya Uqbah Ibn Abu Múait dan Abu Lahab mereka melemparkan kotoran manusia didepan pintu Rasúlulláh, akan tetapi Rasul sangat sabar terhadap perlakuan mereka, walaupun Rasúlláh shallallahu ‘alaihi wa sallam  seorang yang paling pemberani dan kuat, Allah berikan kekuatan empat puluh orang laki-laki, akan tetapi beliau memaafkan atas apa yang mereka lakukan.

Al-Baihaqi didalam kitab al-Adab, bahwa Rasúlulláh berkata kepada Uqbah Ibn Aámir ketika ditanya tentang jalan keselamatan? Rasúllulláh shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab, “Menyambung tali silaturahim yang telah putus, memberi kepada mereka yang tidak memberi kepadamu, dan memaafkan orang yang menzolimimu”.

Ketiga akhlak mulia ini merupakan akhlak terpuji Rasúlulláh, dan tidak ada akhlak lebih terpuji melebihi akhlak Rasúlulláh, karena membiasakan nafsu untuk senantiasa sabar ketika disakiti orang lain merupakan jalan meraih ketinggian derajat[1], maka sabarlah ketika marah, betapa banyak perbuatan kejahatan disebabkan karena marah, betapa banyak orang yang memutus tali silaturahim karena marah, begitu juga betapa banyak talak terjadi dalam hubungan rumah tangga karena disebabkan marah.

Dan diantara bahaya yang paling menakutkan ketika seseorang marah adalah terjatuh kedalam kekufuran, seperti sebagian orang yang mencaci maki Alláh disebabkan karena pemikiran istrinya tidak sejalan dengan dirinya, atau disebabkan anaknya tidak menjalankan dan menuruti perintahnya.

Maka ketika datang permasalahan didalam kehidupan sehari-hari kita, baik itu dirumah, dalam perkerjaan, di perjalanan, atau ditempat-temat lainnya hindari sebisa mungkin sifat marah, tahanlah, dan jagalah lisan dari mengucapkan perkataan buruk, maafkanlah orang yang menyakitimu.

Lihatlah bagaimana Nabi Nuh hidup Sembilan ratus lima puluh tahun bersama kaumnya, menyeru mereka untuk masuk kedalam agama islam, mengajak mereka untuk mendapatkan kenikmatan syurga, akan tetapi mereka mendustakannya. Bahkan tidak cukup sampai disitu mereka juga memukuli Nabi Nuh sampai beliau terpingsan, tapi meskipun demikian Nabi Nuh tidak pernah berhenti menyeru kaumnya untuk masuk kedalam agama islam, beliau membalas keburukan yang dilakukan kaumnya dengan kebaikan.

Baca juga: Makhluk Paling Mulia Merapihkan Sendiri Sandalnya

Dan beginilah keperibadian setiap para nabi, menyeru kaumnya untuk beribadah kepada Alláh, menyelamatkan mereka dari kekufuran dan siksa api Neraka yang kekal, tetapi orang-orang kafir membalasnya dengan cacian, meski demikian para Nabi pun tetap sabar dan senantiasa berbuat baik kepada mereka.

Maka orang yang menginginkan derajat yang tinggi hendaknya mengikuti jalan para Nabi dan tidak mengikuti hawa nafsunya, memaafkan dan tidak membalas suatu keburukan dengan keburukan lainnya, akan tetapi membalasnya dengan kebaikan, maka dia telah menempuh jalan para Nabi.

Imam Ahmad ar-Rifa’i adalah seorang yang sangat rendah hati, ketika orang lain berbuat buruk kepada dirinya, beliau pun membalas dengan menampakkan kepada orang tersebut sifat lembut dan kasih sayang, suatu ketika beliau berjumpa dengan seorang yahudi, sebelumnya yahudi tersebut mendengar bahwa Imam Ahmad ar-Rifa’i seorang sosok yang penuh dengan kerendahan hati sehingga dia hendak menguji kerendahan hatinya, yahudi tersebut bertanya, “wahai Sayyid, manakah yang lebih mulia? Anjing ini ataukah dirimu?”. Imam ar-Rifa’i pun menjawab, “kalau aku selamat dari melewati shirot[2] maka aku lebih mulia”. Yahudi tersebut pun menangis dan masuk kedalam agama Islam beserta keluarganya.

_________________

[1] Sebagian ulama berkata: memerangi hawa nafsu adalah merupakan obat penawar bagi nafsu itu sendiri,

[2] Jembatan yang membentang diatas neraka jahannam, salah satu ujungnya berada di bumi yang telah diganti dan yang lainnya disuatu tempat sebelum masuk kedalam syurga.

Khotibul Umamhttps://darulquransubang.ponpes.id
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Dan Kajian Kitab-Kitab Ilmu Agama Islam Darul Qur'an Subang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru