Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaFiqihNikahMakhluk Paling Mulia Merapihkan Sendiri Sandalnya

Makhluk Paling Mulia Merapihkan Sendiri Sandalnya

Cinta Selamanya | Kiat-Kiat Membangun Rumah Tangga Yang Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah

Rasúlulláh bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْكُمْ لِأَهْلِهِ وَ أَنَا خَيْرِكُمْ لِأَهْلِيْ (رواه الترمذي)

Maknanya: “sebaik-baik kalian adalah yang paling baik di antara kalian (dalam memperlakukan keluarganya), dan aku adalah sebaik-baik dari kalian (dalam memperlakukan) keluargaku, HR. Thirmidzi.

Hadits ini maknanya bahwa Rasúlulláh  adalah orang yang paling banyak berbuat baik terhadap istrinya, dan umatnya yang berperilaku baik dengan istrinya merupakan seorang muslim yang mulia.

Diantara bentuk akhlak mulia Rasúllulláh ketika beliau menginap disalah satu rumah dari istrinya, di pagi harinya beliau mengunjungi setiap rumah dari istrinya hanya untuk mengucapkan salam kepada mereka.

Baca juga: Hati Yang Bersih dan Berserah Diri Kepada Allah

Beliau yang mendatangi pintu setiap rumah dari istrinya untuk mengucapkan salam, tidak menunggu mereka datang kepada Rasúlulláh untuk mengucapkan salam, lihatlah kebahagiaan seperti apa lagi yang masuk kedalam hati para istrinya dengan mendapatkan ucapan salam Rasúlulláh makhluk paling mulia secara mutlak.

Orang yang mencintai Rasúlulláh hendaknya dia memperlakukan istrinya dengan penuh kebaikan, bukan dengan sifat sombong dan angkuh, akan tetapi dengan cinta, kasih sayang, dan kesabaran[1].

Diantara bentuk tawadhu’ Rasúlulláh, beliau berkhidmah (mengerjakan perbuatan) dirumahnya sebagaimana umumnya manusia, ikut serta didalam merapihkan rumahnya, memeras susu kambing, menimba air sumur, merapihkan sandalnya sendiri dengan tangannya yang mulia.

Baca buku: Mengenal Tasawuf Rasulullah

Suatu ketika Aisyah ditanya tentang apa saja yang dikerjakan Rasúlulláh ketika berada didalam rumahnya?, Aisyah pun menjawab: “beliau melakukan sendiri apa yang dilakukan orang pada umumnya ketika berkhidmah”[2].

___________

[1] Kesabaran dengan berbagai macamnya, sabar didalam menjalankan ketatan kepada Allah, sabar didalam meninggalkan perbuatan maksiat, sabar ketika ditimpa musibah merupakan keselamatan dari berbagai kesulitan didunia, maka barang siapa yang menginginkan derajat yang tinggi menurut Allah harus didasari dengan sabar.

[2] Karena orang yang menginginkan derajat yang tinggi, hendaknya dia memulai dengan berkhidmat bagi kepentingan umat islam.

Khotibul Umamhttps://darulquransubang.ponpes.id
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Dan Kajian Kitab-Kitab Ilmu Agama Islam Darul Qur'an Subang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru