Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaTauhidMakna Kufur Dalam al-Qur’an

Makna Kufur Dalam al-Qur’an

Iman adalah kebalikan dari kufur. Secara umum jika kata kufur dipakai dalam al-Qur’an maka yang dimaksud adalah keluar dari Islam. Namun kata kufur terkadang juga dipergunakan untuk mengungkapkan dosa besar. Inilah yang dimaksud dengan kufr duna kufr, artinya kufur yang berada di bawah kekufuran. Makna kufur yang kedua ini bukan dalam pengertian kufur yang mengelurkan seseorang dari Islam. Contohnya seperti dalam firman Allah QS. al-Ma’idah, pada ayat 44, 45, dan 47. Kata kufur terkadang juga dipakai untuk mengungkapkan kufur nikmat (juhud an-ni’mah), yaitu lawan dari syukur. Perbedaan makna yang dimaksud sangat tergantung kapada konteks ayat dan dalil-dali lain yang terkait.

Bentuk kekufuran dapat terjadi dengan mengandung syirik atau penyekutuan terhadap Allah. Namun dapat pula terjadi dengan tanpa mengandung syirik. Seorang yang kafir ada kalanya karena dia terlahir dari keluarga yang kafir lalu ia tumbuh dan baligh dalam keyakinan kufur tersebut, orang ini dinamakan kafir ashliyy. Dan ada kalanya ia semula seorang muslim lalu kemudian keluar dari Islam, orang demikian ini dinamakan dengan kafir murtadd. Kekufuran kadang dilakukan secara terang-terangan oleh pelakuanya dan pelaku tersebut mengaku sebagai non muslim (kafir mu’lin li kufrih). Dan ada kalanya kekufuran ini disembunyikan di dalam hati sementara lidahnya mengaku sebagai seorang muslim, orang demikian ini dinamakan kafir munafiq.

Baca juga: Hanya Islam Agama Yang Hak

Seluruh kekufuran pada dasarnya berasal dari salah satu dari tiga macam pintu kufur. Yaitu;

Ta’thil. Yaitu menafikan adanya Allah, atau menafikan salah satu dari sifat-sifat-Nya yang telah disepakati oleh para ulama.

Tasybih. Yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, seperti berkeyakinan bahwa Allah sebagai cahaya, meyakini Allah memiliki anggota badan, seperti muka, tangan, kaki dan lainnya. Termasuk dalam hal ini mensifati Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Takdzib. Yaitu mendustakan Allah dan rasul-Nya, seperti mendustakan salah satu ayat al-Qur’an atau ajaran yang telah diketahui secara pasti keberadaannya, baik oleh orang-orang Islam yang alim maupun oleh orang-orang Islam yang awam. Perkara yang telah diketahui secara pasti semacam ini disebut dengan ma’lum min ad-din bi adl-dlarurah. Seperti orang yang berkeyakinan bahwa kenikmatan di surga tidak dapat dirasakan secara indrawi, atau berkeyakinan bahwa siksa neraka tidak terjadi secara fisik.

Adapun pembagian dari segi macamnya, kekufuran dapat terjadi dengan salah satu dari tiga perkara, sebagaimana disepakati oleh ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah dari empat madzhab, di antaranya; dari ulama madzhab Syafi’i; Imam an-Nawawi dalam kitab Raudlah at-Thalibin dan Imam Taqiyyiddin al-Hushni dalam kitab Kifayat al-Akhyar, dari ulama madzhab Hanafi; Imam Ibn Abidin dalam kitab Radd al-Muhtar ‘Ala ad-Durr al-Mukhtar, dari ulama madzhab Hanbali; Imam al-Buhuti, dan dari madzhab Maliki; Imam Muhammad Illaisy, serta berbagai ulama lainnya. Tiga macam kufur tersebut ialah:

1. Kufur I’tiqadi (kufur keyakinan). Kufur ini letaknya di dalam hati. Seperti menafikan sifat-sifat wajib bagi Allah, (seperti sifat Qudrah, Iradah, sama’, Bashar, dan lainnya), atau berkeyakinan bahwa Allah adalah sinar, atau bahwa Dia adalah ruh. Tentang hal ini Imam ‘Abdul Ghani an-Nabulsi berkata:

مَن اعْتَقَدَ أنّ اللهَ مَلَأَ السّمَوَاتِ وَالأرْضَ أوْ أنهُ جِسْمٌ قَاعِدٌ فَوْقَ العَرْشِ فَهُوَ كَافِرٌ وإنْ زَعَمَ أنهُ مُسْلِمٌ

“Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang memenuhi langit dan bumi atau bahwa Dia adalah benda yang duduk bertempat di atas arsy maka ia adalah seorang yang kafir, sekalipun ia mengaku bahwa dirinya seorang muslim”.

Baca juga: Dosa dan Cara Menghapusnya

Contoh lain dari kufur i’tiqadi; Seorang yang ragu-ragu tentang ketuhanan Allah, ragu-ragu tentang Rasul-Nya, ragu akan kebenaran al-Qur’an, atau hari akhir, atau adanya surga dan neraka, atau adanya pahala dan siksa, dan perkara-perkara yang telah disepakati akan kebenarannya. Menyakini bahwa Allah adalah benda katsif (benda yang dapat disentuh dengan tangan, seperti manusia, binatang, bulan, bintang dan lainnya), atau meyakini bahwa Allah adalah benda lathif (benda yang tidak dapat disentuh dengan tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, udara, dan lainnya). Meyakini halal akan sesuatu yang telah disepakati (ijma’) ke-haramannya, seperti menghalalkan zina, membunuh, mencuri, dan lainnya. Atau meyakini haram akan sesuatu yang telah disepakati (ijma’) akan ke-halalannya, seperti mengharamkan menikah, jual beli, dan lainnya. Atau mengingkari kewajiban yang telah disepakati (ijma’), seperti mengingkari kewajiban shalat lima waktu, zakat, puasa ramadlan, haji, dan lainnya. Atau jika seseorang berniat untuk menjadi kafir di masa mendatang, maka orang ini menjadi kafir saat itu juga (saat ia meletakan niat kufur tersebut). Atau mendustakan para nabi, atau salah seorang dari mereka yang telah disepakati (ijma’) akan kenabiannya. Atau membolehkan adanya nabi setelah nabi Muhammad. Dan lain sebagainya.

Dalil adanya kufur i’tiqadi adalah firman Allah:

إنّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الّذِيْنَ ءَامَنُوْا باللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا (الحجرات: 15)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak ragu”. (QS. Al-Hujurat: 15)

2. Kufur Fi’li (kufur perbuatan), artinya kufur yang terjadi karena perbuatan. Seperti melemparkan al-Qur’an, atau lembaran-lembaran bertuliskan ayat al-Qur’an di tempat yang menjijikan, seperti wc/kamar mandi dan lainnya. Imam Ibn ‘Abidin berkata: “Jika seseorang melakukan demikian maka ia telah menjadi kafir sekalipun ia tidak bertujuan untuk menghinakan, karena perbuatannya tersebut sudah menunjukan penghinaan”. Demikian pula melemparkan lembaran-lembaran yang berisikan ilmu-ilmu syari’at di tempat menjijikan tersebut, atau lembaran yang berisikan nama-nama Allah, apa bila ia mengetahui bahwa lembaran itu memuat hal-hal tersebut. Demikian pula seorang yang menggantungkan lambang-lambang kufur pada dirinya yang bukan karena darurat (seperti salib dan lainnya), jika ia bertujuan dari pada itu untuk mencari berkah, atau untuk mengagungkannya, atau karena manganggap perkara tersebut sebagai sesuatu yang halal, maka orang ini telah menjadi kafir. Termasuk seorang yang bersujud/menyebah berhala, atau sesembahan orang kafir lainnya dengan tujuan beribadah kepadanya.

Dalil dari adanya kufur Fi’li adalah firman Allah:

لاَ تَسْجُدُوْا لِلشّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ (فصلت: 37)

“Janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kalian sujud kepada bulan”. (QS. Fushishlat: 37)

3. Kufur Qauli (kufur perkatan). Artinya kufur yang terjadi karena perkataan. Contoh kufur ini sangat banyak, dan macam kufur ini yang sering terjadi pada masyarakat. Seperti orang yan mencaci maki Allah, mencaci maki para nabi Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, atau segala sesuatu yang yang diagungkan dalam Islam. Imam al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki dalam kitab asy-Syifa Bi Ta’rif Huquq al-Musthafa berkata: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa orang yang mencaci maki Allah telah mnejadi kafir”.

Baca juga:

Contoh; Seorang muslim berkata kepada sesama muslim lainnya: “Wahai kafir…!”, tanpa ada takwil dari yang mengucapkannya. Maka orang yang berkata demikian telah menjadi kafir, karena ia telah menamakan Islam sebagai kekufuran.

Contoh; Seseorang berkata: “Saya sangat rajin shalat, namun rizki saya sangat sulit. Sementara tetangga saya tidak pernah shalat, namun rizkinya sangat luas. Ini berarti Allah telah menzhalimi saya…!”. Maka orang ini telah menjadi kafir.

Contoh; Seorang yang sedang sakit parah berkata: “Jika Allah menyiksa saya karena saya meninggalkan shalat dengan kondisi sakit parah semacam ini, maka berarti Allah telah menzhalimi saya…!. Maka orang ini telah mnejadi kafir.

Contoh; Seorang yang sedang sakit parah, karena ia tidak sabar dalam sakitnya, ia berkata: “Ya Allah matikanlah saya segera, terserah Engkau mau Engkau matikan saya dalam keadaan Islam atau dalam keadaan kafir…”. Maka orang semacam ini telah menjadi kafir.

Contoh; Seseorang berkata: “Untuk apa mengeluarkan zakat, itu hanya membodohi orang-orang malas saja, mereka akan bertambah malas jika mereka di beri harta zakat…!”. Orang yang berkata semacam ini telah menjadi kafir.

Baca buku: Aqidah Imam Empat Madzhab

Dalil dari kufur Qauli adalah firman Allah:

يَحْلِفُوْنَ بِاللهِ مَا قَالُوْا وَلَقَدْ قَالُوْا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوْا بَعْدَ إسْلاَمِهِمْ (التوبة: 74)

“Mereka (orang-orang kafir) bersumpah dengan nama Allah atas apa yang telah mereka ucapkan, padahal mereka telah benar-benar berkata-kata kufur, dan mereka telah menjadi kafir setelah mereka Islam”. (QS. At-Taubah: 74)

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru