Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaBiografi UlamaPemuka Ahlussunnah; al-Hafizh Abu Bakr al-Baihaqi

Pemuka Ahlussunnah; al-Hafizh Abu Bakr al-Baihaqi

al-Hafizh Abu Bakr al-Baihaqi

Beliau bernama Ahmad ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn ‘Abdullah ibn Musa al-Baihaqi al-Khusraujirdi. Memiliki kunyah Abu Bakr. Al-Khusraujirdi nisbat kepada nama perkampungan tempat kelahirannya, Khusraujird. Beliau adalah seorang imam besar, ahli fiqih, teolog dan seorang ahli hadits kenamaan. Gelar al-hafizh yang beliau sandang lebih dari cukup untuk mengenal kompetensinya dalam bidang hadits. Di samping seorang yang sangat alim, al-Baihaqi juga dikenal sebagi seorang sufi, palaku zuhud dan selalu memegang teguh sikap wara’. Dalam teologi, al-Baihaqi adalah seorang yang sangat kompeten dalam madzhab al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, bahkan seorang terkemuka di kalangan ulama Ahlussunnah. Sementara dalam fiqih beliau dikenal sebagai salah satu rujukan pada madzhab Syafi’i. Al-Baihaqi banyak menulis karya dalam berbagai disiplin ilmu, hingga beliau menjadi seorang yang sangat produktif di masanya.

Al-Baihaqi lahir pada tahun 384 di perkampungan Khusraujird. Sebuah perkampungan yang sangat subur di wilayah Baihaq. Sementara Baihaq adalah sebuah wilayah yang cukup besar di daratan Naisafur. Wilayah Baihaq ini membawahi sekitar 321 perkampungan. Saat itu wilayah Baihaq sudah cukup modern dengan memiliki banyak bangunan.

Al-Baihaqi tumbuh pada masa tumbuh suburnya perkembangan ilmu-ilmu agama. Berbagai disiplin ilmu saat itu berkembang sangat signifikan. Hal ini ditandai timbulnya berbagai tokoh terkemuka. Namun demikian pada saat yang sama juga timbul berbagai fitnah dan pergolakan pemikiran yang menyebabkan timbulnya kelompok-kelompok dalam Islam. Di samping itu, pada saat yang sama pula datang berbagai serangan dari orang-orang non Islam. Terjadinya berbagai peperangan di berbagai wilayah perbatasan adalah beberapa usaha yang dilancarkan orang-orang Romawi untuk kembali merebut wilayah kekuasaan mereka. Puncaknya ketika orang-orang Romawi masuk ke daratan Syam yang menyebabkan pecahnya peperangan yang cukup besar.

Baca juga: Biografi Ringkas al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari; Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dalam kondisi sosio politik semacam ini, al-Baihaqi tumbuh dalam kecintaan kepada ilmu. Walaupun stabilitas keamanan saat itu tidak kondusif, namun hal itu tidak menghalanginya untuk melakukan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain untuk mencari ilmu agama. Beberapa daerah di wilayah Irak dan Hijaz beliau kunjungi, bertemu dengan banyak ulama terkemuka saat dan berguru kepada mereka. Diriwayatkan bahwa beliau memiliki lebih dari seratus guru dalam berbagai disiplin ilmu. Di antara guru-guru beliau terkemuka adalah; al-Hakim al-Naisaburi penulis kitab al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain, Abu ‘Abd al-Rahman al-Sullami penulis kitab Thabaqat al-Shufiyyah, Abu Ishaq al-Thusi, ‘Abdullah al-Juwaini ayah dari Imam al-Haramain, Abu Ishaq al-Isfirayini, Abu Dzarr al-Harawi, Abu Bakr ibn Furak, Abu Bakr al-Thusi, Abu al-Thayyib Sahl ibn Muhammad, Abu Manshur al-Baghdadi, dan lain sebagainya.

Dapat kita lihat dari bebepa guru al-Baihaqi tersebut di atas, mereka adalah para pimpinan terkemuka dalam bidang masing-masing ilmu. Karenanya al-Baihaqi di bawah didikan tangan mereka menjadi seorang ilmuwan yang multi disipliner. Beliau di samping seorang muhaddits, juga seorang sufi, faqih, dan teolog terkemuka.

Apresiasi Ulama Terhadap Al-Baihaqi

Banyak sekali ulama-ulama dan para tokoh keilmuan dalam Islam memberikan apresiasi yang sangat besar terhadap al-Baihaqi. Simak di antara mereka dengan komentarnya masing-masing.

Ibn al-Jauzi dalam penulisan biografi al-Baihaqi menyebutkan: “Dia adalah seorang terkemuka pada zamannya dalam masalah hafalan, ketelitian dan dalam penulisan karya. Beliau adalah orang yang memadukan antara hadits dan teologi, dan merupakan orang terdepan di antara sahabat Abu ‘Abdillah al-Hakim”.

Taj al-Din al-Subki dalam Thabaqat al-Syafi’iyyah menyebutkan: “Imam al-Baihaqi adalah imam orang-orang muslim dan penerang bagi orang-orang mukmin, penyeru kepada jalan Allah yang lurus, seorang ahli fikih yang agung, seorang hafizh terkemuka, teolog terdepan, seorang yang zuhud dan wara’, ahli ibadah kepada Allah, penegak kebenaran madzhab Syafi’i dalam usuhul dan furu’, beliau laksana gunung tepancang di antara gunung-gunung ilmu”.

Yaqut al-Hamawi menuliskan pujiannya sebagai berikut: “Beliau adalah seorang Imam, Faqih, hafizh, ahli dalam masalah teologi, seorang yang wara’, terkemuka pada masanya dalam hafalan dan ketelitian, kuat memegang teguh ajaran agama, orang yang paling agung di antara sahabat al-Hakim dan yang paling banyak meriwayatkan hadits darinya, namun demikian beliau melebihi al-Hakim sendiri dalam berbagai disiplin ilmu hingga beliau menjadi orang yang sangat terkemuka pada masanya”.

Ibn Khallikan dalam kitabnya; Wafayat al-A’yan, menuliskan sebagai berikut: “Beliau seorang ahli fikih madzhab Syafi’i, seorang hafizh agung yang sangat terkenal, pemuka masanya, rujukan para ulama dalam berbagai disiplin ilmu, seorang yang paling terkemuka di antara sahabat al-Hakim dalam periwayatan hadits. Namun beliau melebihi al-Hakim sendiri dalam banyak bidang ilmu”.

Al-hafizh Ibn ‘Asakir menuliskan berikut: “Beliau adalah seorang yang hidup dalam ruang lingkup para ulama, terhadap dunia merasa puas walaupun sedikit, kepribadiannya terhiasi dengan sikap zuhud dan wara’, beliau hidup dalam sikap demikian ini hingga beliau meninggal dunia di Nisafur”.

Akidah Imam al-Baihaqi

Tidak disangsikan lagi Imam al-Baihaqi adalah seorang yang beraliran Ahlussunnah dalam akidahnya dengan bermadzhab Asy’ari. Hal ini dapat dibuktikan dengan kesaksian para ulama sendiri, baik dari mereka yang hidup semasa dengan beliau maupun dari mereka yang datang sesudahnya. Hal ini juga dibuktikan dengan berbagai karya yang telah beliau tulis dalam menjelaskan akidah Ahlussunnah, seperti dalam dua kitabnya yang sangat popoler; al-I’tiqad dan al-Asma’ Wa al-Shifat.

Dalam dua kitab tersebut kita mendapati tulisan yang sangat luas dalam penjelasan kesucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya. Bahwa Allah Maha Suci dari tempat dan arah, Dia bukan benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Di natara dalam kitab al-Asma’ Wa al-Shifat, beliau menuliskan sebagai berikut:

Baca juga: Tanzih; Mensucikan Allah Dari Menyerupai Makhluk

“Sebagain sahabat kami –dari ulama Asy’ariyyah Syafi’iyyah– mengambil dalil dalam menetapkan kesucian Allah dari tempat dan arah dengan sabda Rasulullah: “Engkau ya Allah al-Zhahir (yang segala sesuatu menunujukkan akan keberadaan-Nya) tidak ada suatu apapun di atas-Mu, dan Engkau ya Allah al-Bathin (yang tidak dapat diraih oleh akal pikiran manusia) tidak ada suatu apapun di bawah-Mu…”. Dengan demikian bila tidak ada suatu apapun di atas-Nya dan tidak ada suatu apapun di bawah-Nya maka Dia Allah ada tanpa tempat”.

Dalam kitab yang sama, pada halaman lain dalam bab tentang nama-nama Allah yang suci dari keserupaan dengan makhluk-Nya, al-Baihaqi menuliskan sebagai berikut:

“Di antara nama-nama Allah adalah al-Muta’ali. Dalam maknanya Al-Halimi megatakan bahwa Dia Allah yang maha Agung dan Maha suci dari menyerupai segala yang baharu dari makhluk-Nya; seperti memiliki pasangan, anak, anggota badan, memiliki ranjang untuk duduk di atasnya, bersembunyi di balik tirai hingga tidak terlihat dari pandangan mata, berpindah dari satu tempat ke tampat yang lain, dan lain sebagainya. Karena menetapkan adanya sebagian sifat-sifat tersebut bagi Allah berarti sama juga menetapkan adanya penghabisan bagi-Nya. Sebagian sifat-sifat tersebut bahkan adanya menunjukkan kebutuhan kepada lainnya, ada pula yang mengharuskan adanya parubahan. Dan sedikitpun dari sifat-sifat tersebut tdak layak bagi Allah yang Maha Qadim, dan tentu sifat-sifat tersebut mustahil adanya pada Allah”.

Dalam menjelaskan kesucian Allah dari anggota-anggota badan dan sifat-sifat tubuh, seperti gerak dan lainnya, dalam kitab al-I’tiqad, Imam al-Baihaqi menuliskan sebagai berikut:

“Dari firman Allah: “Dia Allah tidak menyerupai segala apapun”. QS. al-Syra: 11, dan dengan argumentasi-argumentasi logis kita mengetahui bahwa makna “’ain” bukan dalam pengertian mata dengan kelopak dan bagian-bagiannya, makna “al-Yadain” bukan dalam pengertian anggota tangan, makna “al-Wajh” bukan dalam pengertian bentuk. Akan tetapi hal-hal tersebut adalah merupakan sifat-sifat Dzat-Nya sebagaimana telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan Sunnah dengan tanpa sedikitpun menyerupai makhluk”.

Dalam kitab yang sama pada halaman lain Imam al-Baihaqi menuliskan sebagai berikut:

“Kesimpulannya; wajib diketahui bahwa makna “Istawa” pada hak Allah bukan dalam pengertian menjadi lurus dari bengkok, juga bukan dalam pengertian menetap pada suatu tempat, juga bukan dalam pengertian menempel pada sesuatu dari makhluk-Nya, akan tetapi Dia Allah “Istawa” pada arsy sebagimana yang Ia khabarkan dengan tanpa mensifatinya dengan sifat-sifat benda (al-kaif), tanpa menetapkan tempat bagi-Nya, karena Dia Allah tidak menyerupai apapun dari makhluk-Nya. Dan makna “Ityan” pada hak Allah bukan dalam pengertian datang dari satu tempat ke tempat yang lain. Makna “Maji’” pada hak Allah bukan dalam pengertian datang dengan bergerak. Makna “Nuzul” bukan dalam pengertian berpindah tempat dari atas ke bawah. Makna “nafs” pada hak Allah bukan dalam pengertian benda. Makna “al-Wajh” bukan dalam pengertian bentuk. Makna “Yad” bukan dalam pengertian anggota tangan. Dan makna “Ain” bukan dalam pengertian kelopak mata.

Kemudian dalam bab pembicaraan tentang bahwa segala perbuatan manusia adalah makhluk Allah, masih dalam kitab al-I’tiqad, Imam al-Baihaqi menjelaskan bahwa segala perbuatan yang timbul manusia, dari segala sesuatu yang baik maupun segala sesuatu yang buruk adalah ciptaan Allah. Dalam pada ini Allah berfirman: “Demikian itulah Allah; Tuhan kalian, Dia Pencipta segala sesuatu”. QS. Ghafir: 62. Masuk dalam pengertian “segala sesuatu” pada makna ayat di atas adalah segala sesuatu dari segala benada dan sifat-sifat benda termasuk segala perbuatan manusia; dari yang baik mapun yang buruk.

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Adakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan tersebut serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: Allah adalah pencipta segala sesuatu”. QS. al-Ra’ad: 16. Dalam ayat ini Allah manafikan adanya pencipta selain diri-Nya dan bahwa segala sesuatu selain-Nya adalah ciptaan-Nya. Artinya bila Allah tidak menciptakan perbuatan manusia maka berarti Allah hanya menciptakan sebagian saja, tidak menciptakan segala sesuatu. Dan bila demikain berarti bertentangan dengan ayat di atas. Padahal, logika kita mengatakan bahwa perbuatan manusia lebih banyak dari pada tubuh-tubuh manusia itu sendiri. Ini artinya bila Allah hanya menciptakan tubuh manusia saja sementara perbuatannya ciptaan manusia sendiri, maka berarti ciptaan manusia lebih banyak dari pada ciptaan Allah. Dan bila demikian berarti manusia sendiri lebih sempurna dan lebih berhak untuk dituhankan dari pada Allah. Ini tentunya sebuah kesesatan yang nyata.

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan Allah yang telah menciptakan kalian dan segala apa yang kalian perbuat”. QS. al-Shaffat: 36. Ayat ini lebih jelas lagi menerangkan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.

Masih dalam kitab al-I’tiqad, Imam al-Baihaqi juga menjelaskan bahwa kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Dzat Allah dengan mata kepala mereka masing-masing. Namun demikain Allah tidak disifati dengan sifat-sifat bentuk; dengan demikian Ia tidak di hadapan mereka, atau atas mereka atau di berbagai arah lainnya. Inilah yang dimaksud dengan “Bila Tasybih Wala Takyif”. Dalam pada ini al-Baihaqi menuliskan sebagai berikut:

“Tidak boleh dipahami dari pada firman Allah: “Ila Rabbiha Nazhirah”. QS. al-Qiyamah: 23 dalam makna pandangan berfikir dan mengambil i’tibar, karena akhirat bukan tempat berfikir dan membuat argumen-argumen –tentang Allah–, tapi akhirat adalah tempat pembalasan. Juga ayat tersebut tidak boleh dimaknai dengan menunggu –terhadap Allah–, karena tidak sedikitpun dari kenikmatan surga yang harus ditunggu-tunggu, juga karena munggu adalah sesuatu yang membosankan dan menyiksa. Dengan demikian makna “nazhirah” dalam ayat tersebut adalah melihat dengan kedua mata –secara hakekat–. Hal ini karena lafazh “nazhara” jika dikaitkan dengan lafazh “al-wujuh” maka yang dimaksud adalah melihat dengan kedua mata”.

Karya-karya al-Baihaqi

Setelah melakukan perjalanan ilmiah yang cukup panjang dalam mencari ilmu hingga al-Baihaqi mendapatkannya dari berbagai sumber dalam berbagai disiplin, beliau kembali ke tampat kelahirannya. Di sanalah beliau mulai menulis berbagai karya dalam bentuk kitab-kitab besar maupun risalah-risalah yang diperkirakan lebih dari seribu juz. Beberapa di antaranya dalam bidang akidah dan teologi, hadits dan ilmu-ilmunya, fikih yang sekaligus dengan periwayatna hadits-haditsnya, dan berbagai karya lainnya.

Baca juga: Terjemah Istihsan al-Khoudl Fi ‘Ilm al-Kalam

Di antara karya-karya al-Baihaqi yang cukup penomenal dalam dunia Islam adalah:

  • al-Sunan al-Kubra; kitab ini adalah karya al-Baihaqi yang paling penomenal dan paling besar yang memberikan kontribusi sangat besar dalam perkembangan hadits-hadits Rasulullah. Dalam kitab ini beliau himpun seluruh perkataan Rasulullah, segala perbuatannya dan ketetapan-ketetapannya. Juga mencakup berbagai hadits mauquf yang sangat banyak dari berbagai sahabat Rasulullah. Kitab ini laksana insilopedi agung dalam megungkap hadits-hadits Rasulullah yang disusun dalam susunan bab-bab fikih. Dalam pujiannya terhadap kitab ini, al-hafizh Taqy al-Din al-Subki berkata: “Tidak ada karya dalam hadits-hadits Rasulullah yang menyerupai karya ini dalam ketelitian, susunan dan kebagusannya”. Sementara al-hafizh al-Sakhawi berkata: “Kitab ini mencakup sangat banyak hadits-hadits ahkam, bahkan sebagaimana pernyataan Ibn al-Shalah kitab sebagus karya al-Baihaqi ini tidak ada bandingannya. Dan karenanya kitab ini lebih berhak untuk didahulukan di atas semua kitab-kitab sunan. Adapaun kitab-kitab tersebut –selain Sunan al-Baihaqi– lebih didahulukan karena para pengarangnya lebih dahulu wafat dari pada al-Baihaqi dan karena kemliaan mereka”.
  • Ma’rifat al-Sunan Wa al-Atsar. Kitab yang mencakup berbagai hukum-hukum yang berlandaskan kepada al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah. Juga dibahas di dalamnya tentang dalil-dalil yang dijadikan landasan oleh Imam al-Syafi’i dalam madzhabnya. Kitab ini ditulis al-Baihaqi setelah beliau mendapati dalam beberapa kitab adanya perbedaan pendapat dalam teks-teks madzhab al-Syafi’i. Penjelasan dalam kitab ini dibuat sedemikian rupa dengan menerangkan riwayat-riwayat dan pendapat-pendapat yang kuat dari al-Syafi’i sendiri.
  • Al-Asma’ Wa al-Shifat. Kitab ini ditulis oleh al-Baihaqi dalam menjelaskan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan didasarkan kepada dalil-dalil al-Qur’an, hadits dan Ijma’ para ulama.
  • Al-I’tiqad. Kitab ini ditulis al-Baihaqi dalam menjelaskan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dalam pembukaan kitab ini beliau menuliskan sebagai berikut: “Ini adalah kitab yang kami himpun di dalamnya tentang akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah dan pendapat-pendapat mereka…”.

 

  • Dala’il al-Nubuwwah Wa Ma’rifat Ahwal Shahib al-Syari’ah. Kitab dalam membahas tentang kelahiran Rasulullah, masa pertumbuhannya, dan penjelasan tentang kemuliaan nasab dan perjalanan hidupnya. Juga dijelaskan di dalamnya tentang sifat-sifat Rasulullah baik akhlak dan kepribadiannya maupun sifat-sifat perawakannya serta berbagi mu’jizatnya.
  • Syu’ab al-Iman
  • Manaqib al-Syafi’i. Kitab dalam membahas tentang Imam al-Syafi’i dalam berbagai aspeknya. Di mulai dengan kelahirannya, masa pertumbuhannya, kehidupan ilmiahnya, karya-karyanya, sifat zuhud, wara’ dan keindahan akhlaknya.
  • Al-Da’awat al-Kabir. Kitab dalam kutipan hadits-hadits Rasulullah yang mencakup do’a-do’a yang biasa dipakai oleh Rasulullah sendiri atau yang diajarkan kepada beberapa orang sahabatnya.
  • Al-Da’awat al-Shagir.
  • Al-Zuhd al-Kabir.
  • Itsbat ‘Adzab al-Qabr Wa Su’al al-Malakain
  • Ahkam al-Qur’an
  • Al-Madkhal Ila Kitab al-Sunan.
  • Al-Ba’ts Wa al-Nusyur.
  • Takhrij Ahadits al-Umm.
  • Al-Khilafiyyat Bain al-Syafi’i Wa Abi Hanifah.
  • Juz al-Qira’ah Khlaf al-Imam
  • Al-Adab
  • Kitab al-Arba’in al-Kubra.
  • Kitab al-Arba’in al-Sughra.

Di samping berbagai karya lainnya.

Baca buku: Penjelasan Lengkap Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah

Tahun Wafat al-Baihaqi

Yaqut al-Hamawi dalam kitab Mu’jam al-Buldan menyebutkan bahwa di akhir hayatnya, al-Baihaqi diminta untuk datang ke Naisafur untuk memperdengarkan dan mengajarkan kitab al-Ma’rifah. Al-Baihaqi memenuhi undangan tersebut dan masuk ke wilayah Naisafur pada tahun 441 H. Setelah itu beliau kembali ke daerah tempat tinggalnya dan menetap di sana hingga meninggal pada bulan Jumada al-Ula tahun 458 H.

Sementara menurut al-Dzahabi dalam kitabnya; Tadzkirah al-Huffazh, pada akhir hayatnya, al-Baihaqi datang ke Naisafur dan meriwayatkan seluruh karya-karyanya di sana dan menetap beberapa saat hingga datang hari wafatnya di tempat tersebut bulan Jumada al-Ula tahun 458 H. Lalu kemudian jasad beliau dibawa ke Baihaq; tempat kelahirannya dan dimakamkan di sana. Semoga Allah merahmatinya.

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru