Senin, November 28, 2022
spot_img
BerandaBukti Kebenaran Aqidah Asy'ariyyahPemahaman Hadits al-Jariyah Yang Benar Menurut Para Ulama

Pemahaman Hadits al-Jariyah Yang Benar Menurut Para Ulama

Rasulullah bertanya kepadanya: “Aina Allah?” Budak tersebut menjawab: “Fi as-sama’”

Ada sebuah hadits yang dikenal dengan hadits al-Jariyah. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, bahwa seorang sahabat datang menghadap Rasulullah menanyakan prihal budak perempuan yang dimilikinya. Sahabat tersebut berkata: ”Wahai Rasulullah, tidakkah aku merdekakan saja ia?”. Rasulullah berkata: ”Datangkanlah budak perempuan tersebut kepadaku”. Setelah budak perempuan tersebut didatangkan, Rasulullah bertanya kepadanya: “Aina Allah?”. Budak tersebut menjawab: “Fi as-sama’”. Rasulullah bertanya: “Siapakah aku?”. Budak menjawab: “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata –kepada pemiliknya–: “Merdekakanlah budak ini, sesungguhnya ia seorang yang beriman”[1].
Makna hadits ini bukan berarti bahwa Allah bertempat di langit, seperti yang dipahami oleh sebagian orang bodoh, tetapi maknanya ialah bahwa Allah Maha Tinggi sekali pada derajat dan keagungan-Nya. Pemaknaan teks semacam ini sesuai dengan pemahaman bahasa, seperti perkataan an-Nabighah al-Ju’di dalam sa’irnya, menuliskan: “Balaghna as-Sama’ Majduna Wa Sana-una, Wa Inna Lanarju Fawqa Dzalika Mazh-haran” [2]. Artinya; “Kemuliaan dan kebesaran kami telah mencapai langit, dan sesungguhnya kita mengharapkan hal tersebut lebih tinggi lagi dari pada itu”. Pemahaman bait syair ini bukan berarti bahwa kemuliaan mereka bertempat di langit, tetapi maksudnya bahwa kemuliaan mereka tersebut sangat tinggi.
Kemudian dari pada itu, sebagian ulama hadits telah mengkritik hadits al-Jariyah ini, mereka mengatakan bahwa hadits tersebut sebagai hadits mudltharib, yaitu hadits yang berbeda-beda antara satu riwayat dengan riwayat lainnya, baik dari segi Sanad maupun matan-nya. Kritik mereka ini dengan melihat kepada dua segi berikut;
Pertama:
Bahwa hadits ini diriwayatkan dengan matan yang berbeda-beda.
Di antaranya dalam matan Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya diriwayatkan dari asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi, sebagai berikut: ”Aku (asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi) berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku berwasiat kepadaku agar aku memerdekakan seorang budak atas nama dirinya, dan saya memiliki seorang budak perempuan hitam”. Lalu Rasulullah berkata: “Panggilah dia!”. Kemudian setelah budak perempuan tersebut datang, Rasulullah berkata kepadanya: “Siapakah Tuhanmu?”, ia menjawab: “Allah”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”, ia menjawab: “Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata: “Merdekakanlah ia karena ia seorang budak perempuan yang beriman” [3].
Sementara dalam matan riwayat al-Imamal-Bayhaqi bahwa Rasulullah bertanya kepada budak perempuan tersebut dengan mempergunakan redaksi: “Aina Allah?”, lalu kemudian budak perempuan tersebut berisyarat dengan telunjuknya ke arah langit [4].
Kemudian dalam riwayat lainnya, masih dalam riwayat al-Imam al-Bayhaqi, hadits al-Jariyah ini diriwayatkan dengan redaksi: “Siapa Tuhanmu?”. Budak perempuan tersebut menjawab: “Allah Tuhanku”. Lalu Rasulullah berkata: “Apakah agamamu?”. Ia menjawab: “Islam”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”. Ia menjawab: “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliki budak: “Merdekakanlah!”[5].
Dalam riwayat lainnya, seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Malik, disebutkan dengan memakai redaksi: “Adakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau beriman dengan kebangkitan setelah kematian?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliknya: “Merdekakanlah ia”[6].
Riwayat al-Imam Malik terakhir disebut ini adalah riwayat yang sejalan dengan dasar-dasar akidah, karena dalam riwayat itu disebutkan bahwa budak perempuan tersebut sungguh-sungguh datang dengan kesaksiannya terhadap kandungan dua kalimat syahadat (asy-Syahadatayn), hanya saja dalam riwayat al-Imam Malik ini tidak ada ungkapan: “Fa Innaha Mu’minah” (Sesungguhnya ia seorang yang beriman)”. Dengan demikian riwayat al-Imam Malik ini lebih kuat dari pada riwayat al-ImamMuslim, karena riwayat al-Imam Malik ini sejalan dengan sebuah hadits mashur, bahwa Rasulullah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah” [7].
Riwayat al-Imam Malik ini juga sejalan dengan sebuah hadits riwayat al-Imam an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra dari sahabat Anas ibn Malik bahwa suatu ketika Rasulullah masuk ke tempat seorang Yahudi yang sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah berkata kepadanya: “Masuk Islamlah engkau!”. Orang Yahudi tersebut kemudian melirik kepada ayahnya, kemudian ayahnya berkata: “Ta’atilah perintah Rasulullah”. Lalu orang Yahudi tersebut berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Lalu Rasulullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari api neraka dengan jalan diriku” [8].
Ke dua; Bahwa riwayat hadits al-Jariyah yang mempergunakan redaksi “Aina Allah?”, adalah riwayat yang menyalahi dasar-dasar akidah, karena di antara dasar akidah untuk menghukumi seseorang dengan keislamannya bukan dengan mengatakan “Allah Fi as-sama’”.
Perkataan semacam ini jelas bukan merupakan kalimat tauhid, sebaliknya perkataan “Allah Fi as-sama’” adalah kalimat yang biasa dipakai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, juga orang-orang kafir lainnya dalam menetapkan keyakinan mereka. Akan tetapi tolak dasar yang dibenarkan dalam syari’at Allah untuk menghukumi keimanan seseorang adalah apa bila ia bersaksi dengan dua kalimat syahadat sebagaimana tersebut dalam hadits mashur di atas.
(Masalah):
Jika seseorang berkata: Bagaimana mungkin riwayat al-Imam Muslim yang menyebutkan dengan redaksi “Aina Allah?”, yang kemudian dijawab “Fi as-sama’”, sebagai hadits yang tertolak, padahal bukankah seluruh riwayat al-ImamMuslim dalam kitab Shahih-nya disebut dengan hadits-hadits shahih?
(Jawab):
Terdapat beberapa ulama hadits telah menolak beberapa riwayat Muslim dalam kitab Shahih-nya tersebut. Dan andaikan hadits al-Jariyahtersebut tetap sebagai hadits shahih, hal itu bukan berarti maknanya bahwa Allah bertempat di langit seperti yang dipahami oleh sebagian orang bodoh, tetapi maknanya adalah bahwa Allah Maha tinggi sekali derajat dan keagungannya. Dan di atas dasar makna inilah sebagian ulama Ahlussunah yang tetap menerima hadits al-Jariyah dari riwayat al-Imam Muslim ini. Artinya, bahwa mereka tidak memaknai hadits al-Jariyah ini dalam pemahaman makna zhahirnya yang seakan menetapkan bahwa Allah berada di langit. Hal ini berbeda dengan kaum Musyabbihah yang mamahami hadits tersebut sesuai makna zhahirnya, hingga mereka menjadi sesat.
Yang mengherankan, kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah berada di langit, pada saat yang sama mereka juga mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy. Artinya, mereka menetapkan Allah di dua tempat; langit dan arsy. Namun ada pula di antara kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa pengertian Allah di langit adalah Allah berada di atas arsy, karena arsy berada di atas langit. Kita katakan dengan tegas bahwa pernyataan kaum Musyabbihah ini adalah pernyataan sesat dan batil, karena dengan demikian mereka telah menetapkan adanya keserupaan bagi Allah. Dalam hal ini mereka menyamakan Allah dengan sebuah kitab yang terletak di atas arsy. Kitab ini bertuliskan “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku”. Dengan demikian kaum Musyabbihah ini telah menyamakan Allah dengan kitab tersebut; mereka menetapkan bahwa keduanya membutuhkan tempat di atas arsy. Keyakinan semacam ini jelas mendustakan firman Allah QS. asy-Syura: 11 yang telah tegas menetapkan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya.
Kemudian dari pada itu, di atas dasar keyakinan kaum Musyabbihah yang menetapkan bahwa Allah bertempat di atas arsy, maka berarti mereka telah menjadikan Allah tidak lepas dari tiga kemungkinan; bisa jadi sama besar dengan arsy, atau lebih kecil dari arsy, atau bisa jadi lebih besar dari arsy itu sendiri. Kemudian pula di atas dasar keyakinan mereka ini, maka berarti Allah tidak lepas dari kemungkinan berbentuk segi empat, sebagaimana arsy itu sendiri berbentuk segi empat, ini jika mereka berkeyakinan seperti keyakinan Ibn Taimaiyah yang mengatakan bahwa Allah memenuhi arsy. Padahal segala sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran pasti ia membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan ukurannya tersebut. Dalam hal ini Allah berfirman: “Segala sesuatu bagi Allah memiliki bentuk dan ukuran”. QS. Ar-Ra’ad: 8. Artinya, bahwa segala sesuatu –selain Allah– adalah makhluk Allah, dan seluruh makhluk tersebut pasti memiliki bentuk dan ukuran. Maka Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan bentuknya masing-masing tidak meyerupai segala sesuatu tersebut; artinya bahwa Allah bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran.
Al-Hafizh al-Faqih al-Lughawi Muhammad Murtadla al-Zabidi mengatakan bahwa barang siapa menetapkan adanya bentuk dan ukuran bagi Allah maka orang tersebut telah menjadi keluar dari Islam. Karena sesuatu yang memiliki tubuh dan ukuran merupakan tanda-tanda kebaruannya. Dari mana kita tahu secara akal bahwa matahari tidak layak untuk dituhankan? Tidak lain, adalah dari segi bahwa matahari tersebut memiliki bentuk dan ukuran. Dengan demikian, maka matahari membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan ukurannya tersebut. Lalu seandainya Allah memiliki bentuk dan ukuran maka berarti Ia sama dengan matahari. Dan bila demikian maka berarti Allah tidak layak dituhankan, seperti halnya matahari tidak layak untuk dituhankan. Seandainya seorang penyembah matahari menuntut kaum Musyabbihah untuk mendatangkan dalil akal untuk menetapkan bahwa matahari tidak layak untuk dituhankan, maka kaum Musyabbihah tersebut tidak akan bisa menjawab; mereka tidak memiliki dalil akal. Kemunginan puncak dalil kaum Musyabbihah untuk ini adalah dengan mengutip firman Allah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu” (QS. al-Zumar: 62). Dan jika kaum Musyabbihah mengutip firman Allah ini, maka penyembah matahari akan berkata: ”Kami tidak percaya dengan kitabmu, berikan kami dalil akal bahwa matahari tidak layak untuk dituhankan!”. sampai di sini kaum Musyabihah tersebut akan membisu tidak memiliki jawaban sama sekali.
Wa Allahu A’lam Bi ash-Shawab.
_______________________
[1] Lihat Shahih Muslim; Kitab al-Masajid Wa Mawadli’ ash-Shalat; Bab Tahrim al-Kalam Fi ash-Shalat.
[2] Lihat Taj al-‘Arus, j. 3, h. 374. Lihat pula Lisan al-‘Arab,j. 4, h. 520
[3] al-Ihsan Bi Tartib Shahih Ibn Hibban, j. 1, h. 206 dan j. 6, h. 256
[4] al-Sunan al-Kubra, j. 7, h. 388
[5] Ibid, j. 7, h. 388
[6] al-Muwaththa’; Kitab al-‘Itaqah Wa al-Wala’; Bab Ma Yajuz Min al-‘Itq Fi al-Riqab al-Wajibah.
[7] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman; Bab: “Fa In Tabu Wa Aqamu al-Shalat”. Lihat pula Shahih Muslim; Kitab al-Iman, Bab: “al-Amr Bi Qital al-Nas Hatta Yasyhadu…”
[8] al-Sunan al-Kubra, j. 5, h. 173
Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru