Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaPondasi ImanPengecualian Dari Kufur Qauli

Pengecualian Dari Kufur Qauli

Ada beberapa pengecualian dari kufur Qauli, sebagai berikut:

  • Dalam keadaan sabqullisan. Artinya “salah ucapan”, ia berkehendak mengucapkan suatu kalimat yang bukan kufur, namun yang keluar adalah kalimat kaufur. Ia sama sekali tidak bertujuan untuk mengucapkan kalimat kufur ini.
  • Dalam keadaan hilang akal. Karena orang semacam ini tidak mukallaf (tidak memiliki beban syari’at), seperti orang yang gila.

Baca juga: Penjelasan Tentang Riddah

  • Dalam keadaan dipaksa dengan pembunuhan. Artinya bila seorang muslim dipaksa dengan ancaman bunuh untuk berkata-kata kufur, maka bila orang ini berkata kufur tersebut ia tidak menjadi kafir. Dengan ketentuan hatinya harus mengingkari apa yang ia ucapkannya.
  • Dalam keadaan menceritakan kata-kata kufur dari orang lain. Artinya orang yang menceritakan kekufuran orang lain ini tidak menjadi kafir, dengan ketentuan ia tidak meridlai atau menyetujui kekufuran tersebut. Juga dengan ketentuan ia harus mengucapkan “adat al-hikayah”. Arti adat hikayat adalah kalimat yang membebaskan drinya dari kekufuran tersebut, contoh; “Si Fulan berkata:….”, atau “Orang Kristen berkata:….”.

Kaedah:

Setiap keyakinan, atau perbuatan, atau perkataan yang menunjukan kepada pengingkaran, mendustakan, penghinaan, cacian, atau merendahkan terhadap Allah, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, para malaikat-Nya, lambang-lambang-Nya, ajaran-ajaran agama-Nya, hukum-hukum-Nya, janji-janji-Nya dan ancaman-ancaman-nya, maka hal itu adalah merupakan kekufuran.

Pengingkaran atau cacian di sini dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, sama saja perkara tersebut terjadi pada orang itu dalam keadaan normal, atau dalam keadaan marah, maupun dalam keadaan bercanda. Juga sama saja hukumnya, baik orang tersebut mengetahui hukumnya atau tidak.

Baca juga: Makna Kufur Dalam al-Qur’an

Seseorang yang jatuh dalam salah satu dari tiga macam kufur (I’tiqadi, Fi’li, Qauli) maka ia menjadi kafir, sama halnya ia berniat keluar dari Islam atau tidak berniat keluar dari Islam. Dan sama halnya hati orang tersebut tenang/menyetujui kekufuran yang terjadi tersebut atau tidak.

Setiap satu dari tiga macam kufur di atas dengan sendirinya mengeluarkan seseorang dari Islam, sekalipun dua macam lainnya tidak terjadi. Artinya jika terjadi kufur Qauli pada diri seseorang maka ia menjadi kafir, sekalipun ia tidak jatuh dalam kufur I’tiqadi dan kufur Fi’li.

Faedah:

Seorang yang jatuh dalam salah satu dari tiga macam kufur di atas wajib atasnya untuk kembali masuk Islam dengan segera, yaitu dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat. Tidak cukup baginya hanya dengan mengucapkan istighfar. Di haruskan pula baginya untuk melepaskan perkara kufur yang terjadi pada dirinya tersebut, juga ia wajib menyesali kejadian kufur tersebut, serta harus menetapkan niat kuat dalam hatinya bahwa ia tidak akan pernah kembali lagi kepada kekufuran tersebut.

Baca buku: Mendalami Ilmu Kalam

Wa Allahu A’lam Bi as-Shawab.
___________________

:قَال أهْل السّنة والْجَمَاعة

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلاَفِ ذَلِكَ

Ahlussunnah Wal Jama’ah berkata: “Apapun yang terlintas dalam hatimu tentang Allah maka Allah tidak seperti demikian itu”

:وَقَالُوْا

عَلَيْكَ بِطُوْلِ الصَّمْتِ يَا صَاحِبَ الْحِجَا لِتَسْلَمَ فِي الدّنيَا وَيَوْم القيَامَة

Mereka juga berkata: “Hendaklah bagimu dengan memperpanjang diam wahai orang yang berakal, supaya engkau selamat di dunia dan di hari kiamat”.
Berita sebelumyaMakna Kufur Dalam al-Qur’an
Berita berikutnyaDakwah Islam
Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru