Senin, November 28, 2022
spot_img
BerandaPondasi ImanPengertian Al-Ghuluww Fid-Dîn (Berlebihan Dalam Masalah Agama)

Pengertian Al-Ghuluww Fid-Dîn (Berlebihan Dalam Masalah Agama)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وصلى الله على رسول الله وسلم وبعد

Dalam QS. al-Ma’idah: 77 Allah berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ (المائدة: 77)

Maknanya: “Katakanlah -Wahai Muhammad-: “Wahai Ahli Kitab, jangalah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu”. (QS. al-Ma’idah: 77)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

وَإيَّاكُمْ وَالغُلُوّ فِي الدّيْنِ فَإنَّمَا أهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُوّ فِي الدّيْن (رَوَاه النّسَائِي)

Maknanya: “Jauhilah oleh kalian dari al-Ghuluww Fi ad-Din, karena sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian disebabkan oleh al-Ghuluww Fi ad-Din. (HR. an-Nasa’i)

Makna al-Ghuluww Fid-Dîn

Al-Ghuluww artinya berlebih-lebihan di atas batas yang telah diperintahkan. Islam memerintahkan kita untuk menjalankan syari’at dengan benar, dan melarang kita untuk berlebih-lebihan dalam melaksanakannya dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Sebagian orang ada yang berlebih-lebihan dalam memuji seorang wali atau seorang mursyid, hingga beranggapan bahwa segala apa yang diucapkannya pasti sebagai kebenaran yang harus diterima. Bahkan ada yang menganggap seorang wali adalah seperti seorang nabi. Padahal, derajat wali setinggi apapun, tidak akan pernah sampai kepada derajat kenabian. Di antara para sahabat Rasulullah adalah para wali terkemuka, namun demikian mereka tidak luput dari kesalahan. Karena itu Rasulullah bekata di hadapan mereka:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أحَدٍ إلاّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ غَيْر رَسُوْلِ الله (روَاهُ الطّبَرَاني)

Maknanya: “Tidak seorangpun di antara kalian kecuali ada yang diambil dari perkataannya (berkata benar) dan ada yang ditinggalkan (berkata salah), selain Rasulullah”. (HR. al-Tirmidzi)

Pengertian hadits ini ialah bahwa setiap orang dari para sahabat Rasulullah, juga setiap orang yang datang sesudah mereka, dalam setiap perkataannya dalam masalah-masalah agama pasti ada yang salah, kecuali Rasulullah. Karena seorang Nabi Allah mustahil berbuat salah dalam masalah-masalah agama. Karena itu tidak layak bagi kita untuk berkata: “Syekh Fulan tidak pernah salah”, atau “Kiyai Fulan pasti selalu benar”.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab Âdâb al-Murîd menuliskan: “Apa bila seorang murid mengetahui kesalahan seorang gurunya, maka hendaklah ia mengingatkannya. Bila gurunya tersebut menyadari akan kesalahannya maka hal itu adalah jalan terbaik. Namun apa bila guru tersebut tidak mau menerima maka tinggalkanlah perkataannya dan ikutilah ajaran syari’at”.

Syekh Ahmad ar-Rifa’i berkata: “Serahkan kepada kaum tersebut (kaum Sufi) segala urusan mereka sendiri selama hal itu tidak menyalahi syari’at. Namun apa bila mereka menyalahi syari’at maka tinggalkanlah mereka dan ikutilah syari’at”.

Beberapa Masalah Tercela Terkait Dengan al-Ghuluww Fid-Dîn

1. Sebagian orang dalam membuat puji-pujian terhadap Rasulullah mengatakan bahwa Rasulullah mengetahui segala sesuatu yang ghaib. Perkataan semacam ini termasuk kategori al-Ghuluww yang tidak dibenarkan dalam syara’, karena Rasulullah tidak mengetahui segala sesuatu yang ghaib. Benar, beliau mengetahui beberapa perkara ghaib yang diberitakan oleh Allah kepadanya, namun tidak mutlak segala sesuatu yang ghaib. Karena segala sesuatu yang ghaib hanya diketahui oleh Allah saja. Allah berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ (النمل: 65)

Maknanya: “Katakan –Wahai Muhammad-, tidak ada yang mengetahui, baik penduduk yang ada di langit maupun penduduk yang ada di bumi, terhadap sesuatu yang ghaib kecuali hanya Dia (Allah). (QS. an-Naml: 65).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (الحديد: 3)

Maknanya: “Dan Dialah (Allah) yang mengetahui segala sesuatu”. (QS. al-Hadid: 3).

Seandainya Rasulullah mengetahui segala sesuatu, serta mengetahui segala perkara yang ghaib, maka berarti beliau sama dengan Allah pada sifat-Nya ini. Jelas ini adalah sebuah kesesatan. Bagaimana mungkin Allah disamakan dengan makhluk-Nya?!

Dalam kitab Shahîh al-Bukhâri diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengirim tujuh puluh orang sahabatnya untuk mengajarkan Islam ke suatu wilayah. Di tengah perjalanan, para sahabat tersebut dihadang segerombolan perampok, dan mereka semua terbunuh. Seandainya Rasulullah mengetahui semua perkara gaib, maka beliau tidak akan mengirim para sahabatnya tersebut, karena beliau tidak akan membiarkan para sahabatnya dibunuh.
Dalam al-Qur’an Allah menyebutkan secara tegas bahwa Rasulullah tidak mengetahui segala sesatu yang ghaib. Allah berfirman:

وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ (التوبة: 101)

Maknanya: “Dan di antara penduduk Madinah ada yang sengaja (membangkang) di atas kemunafikan. Engkau (wahai Muhammad) tidak mengetahui mereka, -tapi- Kami (Allah) mengetahui mereka”. (QS. at-Taubah: 101)

Kemudian dalam ayat lain disebutkan bahwa Rasulullah sendiri mengakui tidak mengetahui segala sesuatu yang ghaib. Allah berfirman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوء (الأعراف: 188)

Maknanya: “Katakanlah (Wahai Muhammad): Saya tidak memiliki suatu apapun bagi diriku dari manfa’at maupun bahaya, kecuali apa yang telah dikehendaki oleh Allah. Dan seandainya saya mengetahui segala yang ghaib maka saya akan benar-benar memperbanyak dari kebaikan, dan keburukan tidak akan menemuiku”. (QS. al-A’raf: 188)

2. Termasuk al-Ghuluww Fi ad-Din adalah beberapa ungkapan syair yang secara dusta dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Di antaranya syair yang berbunyi:

وَلَوْ أنّي ألْقَيْتُ سِرّيْ عَلَى لَظَى* لَأُطْفِأَتِ النّيْرَانُ مِنْ عُظْمِ بُرْهَانِي

Maknanya: “Seandainya aku aku tungkan sirr-ku (rahasiah-ku) di dalam api neraka, maka api tersebut akan terpadamkan karena keagungan petunjukku”.

Perkataan berlebih-lebihan semacam ini tidak mungkin dikatakan oleh syekh Abdul Qadir, atau para wali Allah lainnya. Karena mereka adalah orang-orang yang sangat beradab kepada Allah. Mereka selalu menjaga lidah, dan seluruh anggota badan dari perkara-perkara yang menyalahi syara’. Sesungguhnya Allah menciptakan api neraka menjadikannnya kekal dan abadi, tidak akan pernah hancur dan tidak akan pernah punah walaupun hanya sesaat.

3. Terkait dengan cara membaca shalawat atas Rasulullah maka harus dengan bacaan yang benar, agar terhasilkan pahala dan mafaat dari bacaan tersebut. Misalkan, dalam melafazhkan huruf “shâd” pada kalimat “Shalli” harus jelas dan benar sesuai makhraj-nya, jangan sampai tertukar dengan huruf “sîn”. Karena bila demikian maka maknanya akan berubah total.

Kemudian dalam melafazhkan “Shalli” jangan dipanjangkan dengan menambahkan huruf “yâ” di bagian belakangnya. Hal ini banyak terjadi di kalangan orang awam. Al-‘Allâmah al-Faqîh Thaha ‘Umar ibn Thaha ‘Umar al-Hadlrami al-Syafi’i, salah seorang ulama terkemuka dari Yaman pada abad ke 11 hijriyah, dalam kitabnya berjudul al-Majmû’ Li Muhimmât al-Masâ-il Min al-Furû’, menuliskan sebagai berikut: “Barang siapa dalam tasyahhud-nya membaca “Allâhumma Shalli” dengan menambahkan “yâ”, maka tidak sah shalatnya, meskipun ia tidak tahu tentang itu atau karena lupa. Bahkan yang dengan sengaja mengucapkannya (memanjangkan kalimat “Shalli” dengan “yâ”), dan ia tahu pemaknaannya dalam bahasa Arab bahwa kalimat tersebut untuk mu’annats (perempuan) maka ia telah menjadi kafir. -Karena berartia ia mengatakan Allah sebagai perempuan-” .

Adapun makna bacaan shalawat kita atas Rasulullah, misalkan:

اللّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمّد

maka maknanya ialah: “Ya Allah tambahkan kemuliaan dan keagungan atas pimpinan kami, Muhammad, dan lindungilah dari segala apa yang dikhawatikan olehnya terhadap umatnya”.

Faedah Penting

Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri berkata:

مَنْ شَغَلَهُ الفَرْضُ عَنِ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُوْرٌ، وَمَنْ شَغَلَهُ النّفْلُ عَنِ الفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُوْرٌ

Maknanya: “Barang siapa disibukan oleh perkara wajib hingga ia menginggalkan perkara sunnah maka ia bisa dimaafkan (artinya dapat dibenarkan). Dan barang siapa disibukan oleh perkara sunnah hingga ia meninggalkan perkara wajib maka ia adalah orang yang tertipu”.

Dengan demikian seorang yang cerdik adalah orang yang mampu memanfaatkan umurnya di dunia yang pendek dan terbatas ini dengan memulai perkara-perkara yang wajib terlebih dahulu, seperti belajar akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan ilmu pokok-pokok agama, dan kemudian diamalkannya. Lalu barulah setelah itu ia mengikutkan amalan-amalan wajibnya tersebut dengan perkara-perkara yang sunnah, seperti wirid, dzikir, dan lainnya.
Para ulama kita mengatakan, seseorang hanya akan mengambil manfa’at dari pekerjaan sunnahnya apa bila ia telah benar-benar melakukan pekerjaan wajibnya. Namun bila ia meninggalkan pekerjaan wajib, seberapa banyak-pun ia mengerjakan pekerjaan sunnah maka itu semua menggantikan kewajiban yang ia tinggalkannya. Contoh, seorang yang shalat malam (shalat Tahajjud) walaupun beratus raka’at, namun bila ia meninggalkan kewajiban shalat subuh yang hanya dua raka’at, maka shalat malamnya tersebut, tidak dapat menutupi kewajiban shalat subuh yang hanya dua raka’at. Dengan demikian orang semacam ini, shalat Tahajjud-nya tidak akan memberikan manfaat sama sekali kepada dirinya.

Maka orang yang menyibukan diri dengan perkara-perkara sunnah, -seperti hanya melakukan dzikir dan wirid saja namun ia lalai mengerjakan perkara-perkara wajib, seperti mempelajari dan mengajarkan akidah Ahlussunnah dan memerangi kelompok-kelompok sesat di luar ajaran Rasulullah-, maka orang semacam ini tidak akan luput dari bahaya. Karena itu, dalam mengamalkan ajaran syari’at, kita diperintahkan untuk mendahulukan perkara-perkara yang wajib di atas perkara-perkara sunnah. Bahkan perkara-perkara wajibpun, satu sama lainnya memiliki tingkatan berbeda-beda, yang paling pokok harus didahulukan di atas yang pokok. Perintah semacam ini tersurat dalam firman Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ (محمد: 19)

Maknanya: “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan mintalah ampun bagi dosamu dan bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan”. (QS. Muhammad: 19)

Perintah Allah yang didahulukan penyebutan dalam ayat ini adalah perintah kepada mentauhidkan-Nya. Artinya perintah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Perintah ini didahulukan tidak lain karena keimanan terkait dengan pokok-pokok agama (Ushûluddîn) yang merupakan perkara fundamental dalam agama. Kemudian barulah Allah mengikutkan dengan perintah kedua yaitu perintah meminta meminta ampun kepada-Nya dari segala dosa. Yang pertama terkait dengan perkara wajib, sementara yang ke dua terkait dengan perkara sunnah[1].

Wa Allâh A’lam Wa Ahkam.
_______________________
[1] Yang dimaksud sunnah di sini adalah mengucapkan istighfar. Adapun bertaubat dari dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, hukumnya wajib setiap saat, artinya setiap terjatuh dalam dosa-dosa itu sendiri.

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru