Rapor Merah Ibnu Taimiyah Bag. 1; Meyakini Jenis Alam Adalah Azali Seperti Halnya Allah Azali

0
88

Ibnu Taimiyah meyakini jenis alam adalah azali seperti halnya Allah azali.

(Muwafaqah Sharih al Ma’qul Li Shahih al Manqul 1/64, 1/245, 2/75, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 1/109, 224, Naqd Mara-tib al Ijma’ 168, Syarh Hadits ‘Imran bin Hushain 193, Majmu’ al Fatawa 18/239, Syarh Hadits an-Nuzul 161, al Fataawa 6/300, Majmu’ah Tafsir 12-13)

Bantahan:

Az-Zarkasyi dalam Tasynif al Masa-mi’ menegaskan:

وَهذَا العَالَمُ بَجُمْلَتِهِ عُلْوِيُّهُ وَسُفْلِيُّهُ جَوَاهِرُهُ وَأَعْرَاضُهُ مُحْدَثٌ أَيْ بِمَادَّتِهِ وَصُوْرَتِهِ كَانَ عَدَمًا فَصَارَ مَوْجُوْدًا، وَعَلَيْهِ إِجْمَاعُ أَهْلِ الْمِلَلِ وَلَمْ يُخَالِفْ إِلاَّ الفَلاَسِفَةُ وَمِنْهُمْ الفَارَابِيْ وَابْنُ سِـيْنَا قَالُوْا إِنَّهُ قَدِيْمٌ بِمَادَّتِهِ وَصُوْرَتِهِ، وَقِيْلَ قَدِيْمُ الْمَادَّةِ مُحْدَثُ الصُّوْرَةِ، وَحَكَى الإِمَامُ فِي الْمَطَالِبِ قَوْلاً رَابِعًا بِالوَقْفِ وَعَدَمِ القَطْعِ وَعَزَاهُ لِجَالِيْنُوْس” ثُمَّ قَالَ: “وَكُلُّ هذِهِ الأَقْوَالِ بَاطِلَةٌ، وَقَدْ ضَلَّلَهُمُ الْمُسْلِمُوْنَ فِي ذلِكَ وَكَفَّرُوْهُمْ وَقَالُوْا: مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ قَدِيْمٌ فَقَدْ أَخْرَجَهُ عَنْ كَوْنِهِ مَخْلُوْقًا للهِ.

Dan alam ini seluruhnya; alam atas, alam bawah, jawahir dan ‘aradlnya adalah baharu (makhluk), yakni jenis dan masing-masing individunya, semuanya tadinya tidak ada kemudian ada, hal ini disepakati semua agama dan tidak ada yang menyalahinya kecuali para filsuf, yang di antara mereka adalah al Farabi dan Ibnu Sina, mereka mengatakan alam itu qadim (ada tanpa permulaan) dengan jenis dan masing-masing individunya, ada juga yang mengatakan: jenisnya qadim dan masing-masing individunya baharu. Dalam al Mathalib ar-Razi menceritakan pendapat ke empat, yaitu tawaqquf dan tidak memastikan alam baharu atau qadim, pendapat ini dinisbatkan oleh ar-Razi kepada Galinous”, kemudian az-Zarkasyi menegaskan: “Pendapat-pendapat ini semuanya batil, dan ummat Islam telah menyesatkan dan mengkafirkan mereka dalam masalah ini, ummat Islam menyatakan: barang siapa mengatakan bahwa alam itu qadim maka ia telah mengeluarkan alam dari status diciptakan (makhluk) oleh Allah.”

Al Qadli ‘Iyadl dalam asy-Syifa menyatakan:

وَكَذلِكَ نَقْطَعُ عَلَى كُفْرِ مَنْ قَالَ بِقِدَمِ العَالَمِ أَوْ بَقَائِهِ أَوْ شَكَّ فِي ذلِكَ عَلَى مَذْهَبِ بَعْضِ الفَلاَسِفَةِ وَالدَّهْرِيَّةِ.

Demikian pula kita memastikan kekafiran orang yang meyakini keqadiman alam dan kekalnya alam atau ragu dalam masalah ini seperti aliran sebagian para filsuf dan golongan Dahriyyah.”

Al Imam as-Subki menegaskan:

اعْلَمْ أَنَّ حُكْمَ الْجَوَاهِرِ وَالأَعْرَاضِ كُلِّهَا الْحُدُوْثُ، فَإِذًا العَالَمُ كُلُّهُ حَادِثٌ، وَعَلَى هذَا إِجْمَاعُ الْمُسْلِمِيْنَ بَلْ وَكُلِّ الْمِلَلِ، وَمَنْ خَالَفَ فِي ذلِكَ فَهُوَ كَافِرٌ لِمُخَالَفَةِ الإِجْمَاعِ القَطْعِيِّ.

Ketahuilah bahwa hukum Jawahir dan A’radl semuanya adalah huduts, jadi alam seluruhnya baharu, hal ini disepakati (ijma’) oleh ummat Islam bahkan semua agama, barang siapa menyalahi dalam masalah ini maka dia telah kafir karena menyalahi ijma’ yang qath’i.”

Hal yang sama ditegaskan oleh al Hafizh Ibn Daqiq al ‘Id, al Hafizh Zaynuddin al ‘Iraqi, al Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya.[1]

Al Hafizh az-Zabidi dalam Syarh al Ihya’ menegaskan:

وَمِنْ ذلِكَ قَوْلُهُمْ بِقِدَمِ العَالَمِ وَأَزَلِيَّـتِهِ، فَلَمْ يَذْهَبْ أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلَى شَىْءٍ مِنْ ذلِكَ.

Di antaranya adalah pendapat para filsuf bahwa alam qadim dan azali, karena sama sekali tidak ada seorang-pun dari ummat Islam yang mengikuti pendapat tersebut.”

Syekh Muhammad Zahid al Kawtsari menegaskan:[2]

وَأَيْنَ قِدَمُ النَّوْعِ مَعَ حُدُوْثِ أَفْرَادِهِ ؟ وَهذَا لاَ يَصْدُرُ إِلاَّ مِمَّنْ بِهِ مَسٌّ.

وَلأَنَّهُ لاَ وُجُوْدَ لِلنَّوْعِ إِلاَّ فِي ضِمْنِ أَفْرَادِهِ، فَادِّعَاءُ قِدَمِ النَّوْعِ مَعَ الاعْتِـرَافِ بِحُدُوْثِ الأَفْرَادِ يَكُوْنُ ظَاهِرَ البُطْلاَنِ.

Mana mungkin jenis alam itu azali padahal masing-masing individunya baharu ?! ini tidaklah muncul kecuali dari orang yang terganggu akalnya.”

Karena tidak ada wujud bagi jenis kecuali pada individu-individunya, jadi klaim bahwa jenis alam azali disertai pengakuan bahwa individunya baharu jelas nyata kebatilannya.”

Al Muhaddits Syekh Abdullah al Harari menegaskan:[3]

وَكَيْفَ يُعْقَلُ أَنْ يَكُوْنَ النَّوْعُ مَوْجُوْدًا فِي غَيْرِ ضِمْنِ الأَفْرَادِ، وَقَوْلُهُ النَّوْعُ أَزَلِيٌّ وَالأَفْرَادُ حَادِثَةٌ يَنْعَكِسُ إِلَى عَكْسِ مَا يَدَّعِيْهِ، وَبَيَانُ ذلِكَ أَنَّ الإِنْسَانِيَّةَ لاَ تَتَحَقَّقُ خَارِجَ أَفْرَادِ الإِنْسَانِ وَإِنَّمَا تَتَحَقَّقُ ضِمْنَ الأَفْرَادِ.” ثُمَّ قَالَ: “فَكَيْفَ يَنْسِبُ نَفْسَهُ إِلَى السَّلَفِ وَتَنْسِـبُهُ أَتْبَاعُهُ إِلَى السَّلَفِ وَهُوَ نَاقَضَ السَّلَفَ، فَالسَّلَفُ كُلُّهُمْ كَانُوْا مُجْمِعِيْنَ عَلَى أَنَّ اللهَ هُوَ الأَوَّلُ الأَوَّلِيَّـةَ الْمُطْلَقَةَ وَأَنَّـهُ لاَ يُشَارِكُهُ بِهَا غَيْرُهُ، وَهُوَ أَشْرَكَ بِاللهِ نَوْعَ العَالَمِ أَيْ جِنْسَهُ، فَأَيْنَ هُوَ وَأَيْنَ التَّوْحِيْدُ ؟!.

Bagaimana mungkin bisa diterima akal bahwa jenis itu ada bukan dalam individunya ?! Perkataan Ibnu Taimiyah bahwa jenis alam azali dan individunya baharu yustru berbalik kontradiktif terhadap pernyataannya, penjelasannya karena (jenis) kemanusiaan tidaklah ada di luar individu-individu manusia, ia hanya akan terwujud dalam individunya.” Kemudian beliau mengatakan: “Lalu bagaimana bisa Ibnu Taimiyah menisbatkan dirinya kepada para ulama salaf dan para pengikutnya menisbatkannya kepada salaf padahal ia menentang salaf, para ulama salaf semuanya sepakat bahwa Allah adalah satu-satunya yang Awwal (ada tanpa permulaan) secara mutlak dan tidak ada yang menyekutui Allah dalam awwaliyyah ini, sedangkan Ibnu Taimiyah menyekutukan (menyamakan) jenis alam dengan Allah dalam hal keazalian ini, lalu di mana posisinya dari tauhid ?!!.”

Beliau juga menegaskan:[4]

وَالقَوْلُ بِأَزَلِيَّةِ العَالَمِ كَالقَوْلِ بِنَفْيِ وُجُوْدِ اللهِ تَعَالَى وَهُمَا مِنْ أَكْفَرِ الكُفْرِ، فَإِنَّ الأَوَّلَ وَهُوَ القَوْلُ بِأَزَلِيَّـةِ العَالَمِ نَفْيٌ لِخَالِقِيَّةِ اللهِ، وَالقَوْلُ بِنَفْيِ وُجُوْدِ ذَاتِ اللهِ أَشَدُّ وَهُوَ تَعْطِيْلٌ لِلشَّرَائِعِ كُلِّهَا لأَنَّ الشَّرَائِعَ كُلَّهَا جَاءَتْ بِإِثْبَاتِ ذَاتِ اللهِ.

Pendapat bahwa alam azali adalah seperti pendapat yang menafikan adanya Allah ta’ala dan keduanya adalah termasuk dua kekufuran terparah, karena pendapat pertama bahwa alam azali adalah penafian bahwa Allah adalah Khaliq (pencipta seluruh alam), sedangkan penafian adanya Dzat Allah lebih parah lagi dan merupakan pengingkaran (ta’thil) terhadap semua syari’at para nabi karena syari’at para nabi semuanya menetapkan adanya Dzat Allah.”

Syekh Abdullah al Ghumari menegaskan:[5]

وَابْنُ تَيْمِيَةَ جَرِيْءٌ فِيْ رَدِّ الْحَدِيْثِ الَّذِيْ لاَ يُوَافِقُ غَرَضَهُ وَلَوْ كَانَ فِي الصَّحِيْحِ. مِثَالُ ذلِكَ رَوَى البُخَارِيُّ فِيْ صَحِيْحِهِ حَدِيْثَ: “كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ غَيْرُهُ” وَهُوَ مُوَافِقٌ لِدَلاَئِلِ النَّقْلِ وَالعَقْلِ وَلِلإِجْمَاعِ وَلكِنَّهُ خَالَفَ رَأْيَـهُ فِي اعْتِقَادِهِ قِدَمَ العَالَمِ، فَعَمَدَ إِلَى رِوَايَـةٍ لِلْبُخَارِيِّ أَيْضًا فِي هذَا الْحَدِيْثِ بِلَفْظِ: “كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ قَبْلَهُ” فَرَجَّحَهَا عَلَى الرِّوَايَـةِ الْمَذْكُوْرَةِ بِدَعْوَى أَنَّهَا تُوَافِقُ الْحَدِيْثَ الآخَرَ: “أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ.” قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ (فَتْحُ البَارِي 13/348): مَعَ أَنَّ قَضِيَّةَ الْجَمْعِ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ تَقْتَضِي حَمْلَ هذِهِ الرِّوَايَـةِ عَلَى الأُوْلَى لاَ العَكْسَ، وَالْجَمْعُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّرْجِيْحِ بِالاتِّفَاقِ. ا.هـ. قُلْتُ: تَعَصُّبُهُ لِرَأْيِـهِ أَعْمَاهُ عَنْ فَهْمِ الرِّوَايَتَيْنِ اللَّتَيْنِ لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا تَعَارُضٌ.

Ibnu Taimiyah sangat berani menolak hadits yang tidak sesuai dengan pendapatnya meskipun ada dalam kitab yang Sahih. Contoh: al Bukhari meriwayatkan dalam Sahih-nya hadits:      “كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ غَيْرُهُ” Hadits ini sesuai dengan dalil-dalil naqli, ‘aqli dan ijma’, namun berbeda dengan pendapatnya bahwa alam azali, maka ia beralih pada salah satu riwayat al Bukhari juga terhadap hadits ini dengan redaksi:                      “كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىْءٌ قَبْلَهُ” Dan mentarjih riwayat ini terhadap riwayat pertama dengan dalih bahwa riwayat ke dua sesuai dengan hadits lain:      “أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ” Al Hafizh Ibnu Hajar berkomentar dalam Fath al Bari (13/348): “Padahal kompromi antar kedua riwayat tersebut meniscayakan pemaknaan riwayat ke dua semakna dengan riwayat pertama bukan sebaliknya, dan jelas al Jam’u (kompromi antara berbagai riwayat) lebih didahulukan atas tarjih (mengunggulkan satu riwayat terhadap riwayat lain) dengan kesepakatan para ulama.” Aku (al Ghumari) berkata: fanatiknya terhadap pendapatnya membutakannya dari memahami kedua riwayat yang tidak ada pertentangan antara keduanya.”

Catatan Kaki

[1] Lihat Tasynif al Masa-mi’ 4/633, asy-Syifa 2/606, Fath al Bari 12/202, Ithaf as-Sadah al Muttaqin 1/184, 2/94.

[2]  Lihat  as-Sayf ash-Shaqil, hal. 84.

[3]  Lihat  al Maqaalaat as-Sunniyyah, hal. 80.

[4]  Lihat  ‘Umdah ar-Raghib, hal. 41.

[5]  Abdullah al Ghumari, Juz fihi ar-Radd ‘ala al Albani, hal. 57-59.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here