Rapor Merah Ibnu Taimiyah Bag. 11; Mengharamkan Tawassul Dengan Para Nabi Dan Orang-Oorang Saleh Dan Tabarruk Dengan Mereka Dan Peninggalan-Peninggalan Mereka

0
128

Ibnu Taimiyah mengharamkan Tawassul dengan para nabi dan orang-orang saleh dan Tabarruk dengan mereka dan peninggalan-peninggalan mereka.

(at-Tawassul Wa al Wasi-lah hal. 24,150,  ar-Radd ‘ala al Manthiqiyyin hal. 534)

 Bantahan:

 Al Imam Taqiyyuddin as-Subki menegaskan:[1]

اعْلَمْ أَنَّهُ يَجُوْزُ وَيَحْسُنُ التَّوَسُّلُ وَالاسْتِعَانَةُ وَالتَّشَـفُّعُ بِالنَّبِيِّ إِلَى رَبِّـهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَجَوَازُ ذلِكَ وَحُسْنُهُ مِنَ الأُمُوْرِ الْمَعْلُوْمَةِ لِكُلِّ ذِي دِيْنٍ الْمَعْرُوْفَـةِ مِنْ فِعْلِ الأَنْبِـيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَسِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالعَوَامِّ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَلَمْ يُنْكِرْ أَحَدٌ ذلِكَ مِنْ أَهْلِ الأَدْيَانِ وَلاَ سُمِعَ بِـهِ فِي زَمَنٍ مِنَ الأَزْمَانِ حَتَّى جَاءَ ابْنُ تَيْمِيَةَ فَتَكَلَّمَ فِي ذلِكَ بِكَلاَمٍ يُلَبِّسُ فِيْهِ عَلَى الضُّعَفَاءِ الأَغْمَارِ، وَابْتَدَعَ مَا لَمْ يُسْبَقْ إِلَيْهِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ.

“Ketahuilah bahwa boleh dan bagus bertawassul, melakukan isti’anah dan tasyaffu’ dengan Nabi kepada Tuhannya subhanahu wa ta’ala, boleh dan bagusnya tawassul tersebut termasuk perkara yang sudah maklum bagi setiap orang yang faham agama, telah populer dari perilaku para nabi dan rasul serta sejarah para as-Salaf ash-Shalih, para ulama dan kalangan awam dari ummat Islam, tidak ada bahkan tidak pernah terdengar seorangpun yang mengingkari hal itu di zaman kapan-pun hingga datang Ibnu Taimiyah dan berbicara tentang pengingkaran tersebut dengan perkataan yang mengelabui orang-orang yang lemah dan tidak berilmu dan Ibnu Taimiyah-pun dengan begitu telah membuat bid’ah yang tidak pernah ada yang mendahuluinya dalam semua masa yang telah lewat.”

Al Hafizh as-Sakhawi dalam al Qaul al Badi’ membuat sub bab:[2]

وَأَمَّا الصَّلاَةُ عَلَيْهِ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ الْحَاجَةِ تَعْرِضُ….

“Sedangkan bershalawat atas Nabi ketika ada keperluan (hajat): ….”

Kemudian beliau menegaskan:[3]

وَمَنْ تَشَفَّعَ بِجَاهِـهِ صلى الله عليه وسلم وَتَوَسَّلَ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ بُلِّغَ مُرَادَهُ وَأُنْجِحَ قَصْدُهُ، وَقَدْ أَفْرَدُوْا ذلِكَ بِالتَّصْنِيْفِ، وَمِنْ ذلِكَ حَدِيْثُ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ الْمَاضِي وَغَيْرُهُ، وَهذِهِ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ البَاقِيَةِ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالأَعْوَامِ وَتَعَاقُبِ العُصُوْرِ وَالأَيَّامِ، وَلَوْ قِيْلَ إِنَّ إِجَابَاتِ الْمُتَوَسِّلِيْنَ بِجَاهِـهِ عَقِبَ تَوَسُّلِهِمْ يَتَضَمَّنُ مُعْجِزَاتٍ كَثِيْرَةً بِعَدَدِ التَّوَسُّلاَتِ لَكَانَ أَحْسَنَ، فَلاَ يَطْمَعُ حِيْنَـئِذٍ فِي عَدِّ مُعْجِزَاتِـهِ حَاصِرٌ، فَإِنَّـهُ -وَلَوْ بَلَغَ مَا بَلَغَ مِنْهَا- حَاسِرٌ قَاصِرٌ.

“Dan barangsiapa bertasyaffu’ dengan kemuliaan Nabi dan bertawassul dengan bershalawat kepadanya akan disampaikan kepada tujuannya dan berhasil maksudnya, tentang masalah ini para ulama sudah menulis karangan-karangan khusus, termasuk hadits Utsman bin Hunayf yang telah lalu dan lainnya. Ini termasuk mukjizat yang terus ada sepanjang masa dan bergantinya tahun dan hari. Seandainya dikatakan: bahwa dikabulkannya permohonan orang-orang yang bertawassul dengan derajat dan kemuliaan Nabi setelah tawassul mereka mengandung mukjizat yang banyak sebanyak jumlah tawassul tersebut ini lebih bagus, dengan demikian tidak ada orang yang bisa berharap membatasi mukjizat Nabi dengan jumlah tertentu, karena –sebanyak apapun hitungannya terhadap mukjizat Nabi- dia akan gagal dan tidak bisa membatasinya dengan jumlah tertentu.”

Syekh Abdullah al Ghumari menegaskan:[4]

تَبَيَّنَ مِمَّا أَوْرَدْنَاهُ وَحَقَّقْنَاهُ فِي كَشْفِ تَدْلِيْسِ الأَلْبَانِيِّ وَغِشِّهِ أَنَّ القِصَّةَ صَحِيْحَةٌ جِدًّا رَغْمَ مُحَاوَلَتِهِ وَتَدْلِيْسَاتِهِ، وَهِيَ تُفِيْدُ جَوَازَ التَّوَسُّلِ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ انْتِقَالِهِ، لأَنَّ الصَّحَابِيَّ رَاوِيَ الْحَدِيْثِ فَهِمَ ذلِكَ، وَفَهْمُ الرَّاوِيْ لَهُ قِيْمَتُهُ العِلْمِيَّةُ وَلَهُ وَزْنُـهُ فِي مَجَالِ الاسْتِنْبَاطِ. وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ القِصَّةَ مِنْ فَهْمِ الصَّحَابِيِّ عَلَى سَبِيْلِ التَّنَـزُّلِ، وَالْحَقِيْقَةُ أَنَّ مَا فَعَلَهُ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ مِنْ إِرْشَادِهِ الرَّجُلَ إِلَى التَّوَسُّـلِ كَانَ تَنْفِيْذًا لِمَا سَمِعَهُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم كَمَا ثَبَتَ فِي حَدِيْثِ الضَّرِيْرِ. قَالَ ابْنُ أَبِيْ خَيْثَمَةَ فِي تَارِيْخِهِ: حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بنُ إِبْرَاهِيْمَ، ثَنَا حَمَّادُ بنُ سَلَمَةَ، أَنَا أَبُوْ جَعْفَرٍ الْخِطْمِيُّ، عَنْ عُمَارَةَ بنِ خُزَيْمَةَ، عَنْ عُثْمَانَ بنِ حُنَيْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَجُلاً أَعْمَى أَتَى النَّبِيَّ r فَقَالَ: إِنِّيْ أُصِبْتُ فِي بَصَرِيْ فَادْعُ اللهَ لِي فَقَالَ: “اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ: اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْـأَلُكَ وَأَتَوَجَّـهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّيْ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَسْتَشْفِعُ بِكَ عَلَى رَبِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي اللّهُمَّ فَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي وَشَفِّعْ نَبِيِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي، وَإِنْ كَانَتْ حَاجَةٌ فَافْعَلْ مِثْلَ ذلِكَ” إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ، وَالْجُمْلَةُ الأَخِيْرَةُ مِنَ الْحَدِيْثِ تُصَرِّحُ بِإِذْنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي التَّوَسُّـلِ بِهِ عِنْدَ عُرُوْضِ حَاجَةٍ تَقْتَضِي. وَقَدْ أَعَلَّ ابنُ تَيْمِيَةَ هذِهِ الْجُمْلَةَ بِعِلَلٍ وَاهِيَةٍ بَيَّنْتُ بُطْلاَنَهَا فِي غَيْرِ هذَا الْمَحَلِّ، وَابْنُ تَيْمِيَةَ جَرِيْءٌ فِي رَدِّ الْحَدِيْثِ الَّذِي لاَ يُوَافِقُ غَرَضَهُ وَلَوْ كَانَ فِي الصَّحِيْحِ.” ثُمَّ قَالَ: “وَنَقُوْلُ عَلَى سَبِيْلِ التَّنَـزُّلِ: لَوْ فَرَضْنَا أَنَّ القِصَّةَ ضَعِيْفَةٌ تَطْيِـيْبًا لِخَاطِرِ الأَلْبَانِيِّ، وَأَنَّ رِوَايَـةَ ابْنِ أَبِيْ خَيْثَمَةَ مَعْلُوْلَةٌ كَمَا فِي مُحَاوَلَـةِ ابنِ تَيْمِيَةَ. قُلْنَا: فِي حَدِيْثِ تَوَسُّـلِ الضَرِيْرِ كِفَايَةٌ وَغَنَاءٌ، لأَنَّ النَّبِيَّ حِيْنَ عَلَّمَ الضَّرِيْرَ ذلِكَ التَّوَسُّـلَ دَلَّ عَلَى مَشْرُوْعِيَّتِهِ فِي جَمِيْعِ الْحَالاَتِ، وَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُقَالَ عَنْهُ تَوَسُّـلٌ مُبْتَدَعٌ، وَلاَ يَجُوْزُ تَخْصِيْصُهُ بِحَالِ حَيَاتِهِ صلى الله عليه وسلم، وَمَنْ خَصَّصَهُ فَهُوَ الْمُبْتَدِعُ حَقِيْقَةً، لأَنَّهُ عَطَّلَ حَدِيْثًا صَحِيْحًا، وَأَبْطَلَ العَمَلَ بِهِ وَهُوَ حَرَامٌ. وَالأَلْبَانِيُّ جَرِيْءٌ عَلَى دَعْوَى التَّخْصِيْصِ أَوْ النَّسْخِ لِمُجَرَّدِ خِلاَفِ رَأْيِـهِ وَهَـوَاهُ. فَحَدِيْثُ الضَّرِيْرِ لَوْ كَانَ خَاصًّا بِهِ لَبَيَّـنَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم كَمَا بَيَّنَ لأَبِيْ بُرْدَةَ أَنْ الْجَذَعَةَ مِنَ الْمَعْزِ تُجْزِئُهُ فِي الأُضْحِيَةِ وَلاَ تُجْزِئُ غَيْرَهُ كَمَا فِي الصَّحِيْحَيْنِ وَتَأْخِيْرُ البَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزُ.

“Menjadi jelas dari keterangan yang telah kami sebutkan dan apa yang telah kami tahqiqkan dalam menyingkap kelicikan dan penipuan al Albani bahwa kisah (tawassul orang buta) sangat sahih meski upaya-upaya dan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan oleh al Albani. Kisah tersebut menunjukkan bolehnya bertawassul dengan Nabi setelah ia wafat, karena sahabat perawi hadits tersebut memahami demikian, dan pemahaman perawi jelas memiliki bobot ilmiah dan punya nilai tersendiri dalam wilayah istinbath. Kita katakan bahwa kisah tersebut bersumber dari pemahaman sahabat, itu paling tidak, padahal kenyataan sebenarnya apa yang dilakukan oleh Utsman ibn Hunayf dengan menunjukkan tamu khalifah Utsman agar bertawassul itu hanyalah melaksanakan apa yang ia dengar dari  Rasulullah sebagaimana telah disebutkan dengan jalur yang sahih dalam hadits orang buta tersebut. Ibnu Abi Khaytsamah dalam Tarikh-nya berkata: memberitahukan kepada kami Muslim ibn Ibrahim, memberitahukan kepada kami Hammad ibn Salamah, memberitahukan kepada kami Abu Ja’far al Khithmiy, dari ‘Umarah ibn Khuzaimah dari Utsman ibn Hunayf radliyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: Aku terkena musibah di mata-ku maka berdoa-lah kepada Allah untukku, maka Nabi bersabda: Pergilah dan berwudlu’ lalu sholat dua raka’at kemudian katakan:

اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْـأَلُكَ وَأَتَوَجَّـهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّيْ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَسْتَشْفِعُ بِكَ عَلَى رَبِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي اللّهُمَّ فَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي وَشَفِّعْ نَبِيِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي 

Dan jika ada hajat lagi lakukanlah seperti itu.” Sanad riwayat ini sahih, kalimat terakhir dari hadits ini menegaskan izin Nabi untuk bertawassul dengannya ketika muncul keperluan yang menuntut tawassul. Ibnu Taimiyah telah menganggap ada ‘illah pada kalimat terakhir tersebut dengan alasan-alasan yang sangat lemah yang telah saya jelaskan kebatilannya di tempat lain. Ibnu Taimiyah memang sangat berani menolak hadits yang tidak sesuai dengan pendapat dan tujuannya, meskipun hadits tersebut adanya di Sahih.”  Kemudian al Ghumari mengatakan: “Lagi-lagi kami katakan dalam kemungkinan terburuk: Anggaplah seandainya kisah tersebut dla’if untuk menyenangkan al Albani dan bahwa riwayat Ibnu Abi Khaytsamah ada ‘illahnya (ma’lul) seperti dalam upaya Ibnu Taimiyah, kita katakan: dalam hadits tawassul orang yang buta tersebut sudah cukup, bahkan lebih dari cukup, karena ketika Nabi mengajarkan tawassul kepada orang buta tersebut itu menunjukkan disyari’atkannya tawassul dalam semua kondisi, sehingga tidak boleh dikatakan tentangnya tawassul mubtada’, juga tidak boleh tawassul dikhususkan dengan kondisi saat Nabi masih hidup, yustru orang yang mengkhususkan itulah yang membuat bid’ah yang sesungguhnya, karena dia telah tidak memfungsikan sebuah hadits yang sahih, dan telah membatalkan beramal dengannya dan itu adalah perbuatan haram. Al Albani memang terlalu berani mengklaim takhshish atau nasakh hanya karena tidak sesuai dengan pendapat dan hawa nafsunya. Hadits orang buta ini seandainya khusus baginya niscaya Nabi menjelaskan itu sebagaiman Nabi menjelaskan kepada Abu Burdah bahwa Jadza’ah dari kambing jawa mencukupi untuk Qurban baginya dan tidak mencukupi untuk selainnya seperti dalam Sahih al Bukhari dan Muslim. Dan menunda penjelasan dari saat dibutuhkan itu tidak boleh terjadi.”

Syekh Abdullah al Harari menegaskan:[5]

هذَا وَغَيْرُهُ مِمَّا نُقِلَ عَنْ حُفَّاظِ الْمُحَدِّثِيْنَ مِنَ التَّوَسُّـلِ بِالنَّبِيِّ بَعْدَ وَفَاتِهِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمْ كَانُوْا لاَ يَعْبَئُوْنَ بِإِنْكَارِ ابْنِ تَيْمِيَةَ التَّوَسُّـلَ بِالنَّبِيِّ، وَأَنَّهُ شَذَّ عَنْ عُلَمَاءِ الأُمَّـةِ الْمُحَدِّثِيْنَ وَالفُقَهَاءِ مِمَّنْ كَانُوْا قَبْلَهُ وَمِمَّنْ عَاصَرُوْهُ، فَأَمَّا مَنْ عَاصَرَهُ فَمِنْهُمُ الْمُحَدِّثُ الْحَافِظُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِيُّ وَغَيْرُهُ، وَأَمَّا مَنْ قَبْلَ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَالْحَافِظُ عَبْدُ الغَافِرِ الفَارِسِيُّ وَالْحَافِظُ الْخَطِيْبُ البَغْدَادِيُّ الَّذِي ذَكَرَ الْمُحَدِّثُوْنَ فِي كُتُبِ الْمُصْطَلَحِ التَّـنْوِيْهَ بِهِ وَعُدَّ أَحَدَ الْمَشَاهِيْرِ البَارِزِيْنِ فِي الْحَدِيْثِ، وَلَمْ يَسْبِقْ ابْنَ تَيْمِيَةَ بِذلِكَ مِنَ الْمُحَدِّثِيْنَ أَحَدٌ حَتَّى مِنَ الْمُجَسِّمَةِ أَمْثَالِهِ، فَلاَ سَنَدَ لَهُ فِيْمَا ارْتَكَبَهُ، وَكَذلِكَ مَنْ جَاءُوْا بَعْدَهُ مِنَ الْحُفَّاظِ كَالْحَافِظِ زَيْنِ الدِّيْنِ العِرَاقِيِّ فِي ءَاخِرِ مَنْظُوْمَتِهِ فِي تَفْسِيْرِ مُفْرَدَاتِ القُرْءَانِ وَالْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ العَسْقَلاَنِيِّ فِي قَصَائِدِهِ الْمُسَمَّاةِ بِالنَّـيِّرَاتِ السَّبْعِ وَالْحَافِظِ شَمْسِ الدِّيْنِ الْجَزَرِيِّ كَمَا فِي مُقَدِّمَةِ شَرْحِهِ لِلْمَصَابِيْحِ الْمُسَمَّى بِتَصْحِيْحِ الْمَصَابِيْحِ وَالْحَافِظِ مُحَمَّد مُرْتَضَى الزَّبِيْدِيِّ وَغَيْرِهِمْ، وَلَمْ يَزَلْ ذلِكَ دَأْبَ العُلَمَاءِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ، وَلَمْ يَتَحَاشَ ذلِكَ إِلاَّ مَنْ فُتِنَ بِبِدْعَةِ ابْنِ تَيْمِيَةَ تِلْكَ البِدْعَةِ الكُبْرَى تَحْرِيْمِهِ التَّوَسُّـلَ بِالنَّبِيِّ الَّذِي لَيْسَ فِي حَيَاتِهِ وَلاَ فِي حُضُوْرِهِ.

“Kisah ini (kisah tabarruk dan tawassul al Hafizh Syamsuddin ibn al Jazari dengan Imam Muslim di kuburannya) dan kisah-kisah lain yang dinukil dari para huffazh ahli hadits tentang tawassul dengan Nabi setelah ia wafat, ini semua menunjukkan bahwa mereka tidak memperdulikan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap tawassul dengan Nabi, Ibnu Taimiyah telah menyempal dari para ulama ummat Muhammad dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqh sebelumnya atau yang semasa dengannya. Para ulama yang semasa dengannya seperti al Muhaddits al Hafizh Taqiyyuddin as-Subki dan lainnya. Para ulama sebelumnya seperti al Hafizh Abdul Ghafir al Farisi, al Hafizh al Khathib al Baghdadi –yang sering disebut-sebut oleh para ahli hadits dalam buku-buku Mushthalah al hadits dan memang salah seorang ulama yang menonjol dalam bidang hadits-. Tidak ada seorang-pun dari ahli hadits yang mendahului Ibnu Taimiyah dalam pengingkaran tersebut, bahkan dari golongan mujassimah-pun yang sealiran akidah dengannya, jadi sama sekali tidak ada sandaran bagi Ibnu Taimiyah dalam pengingkaran tersebut. Demikian pula para huffazh hadits yang datang setelah Ibnu Taimiyah seperti al Hafizh Zaynuddin al ‘Iraqi di akhir nazhamnya tentang tafsir kosa kata (Mufradat) al Qur’an, al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam qashidah-qashidahnya yang berjudul an-Nayyirat as-Sab’u, al Hafizh Syamsuddin ibn al Jazari dalam Muqaddimah Syarahnya terhadap al Mashabih yang dinamakan Tashhih al Masha-bih, al Hafizh Muhammad Murtadla az-Zabidi dan lainnya. Tawassul selalu menjadi kebiasaan para ulama salaf dan khalaf, dan tidak ada yang risih dan menjauhi tawassul kecuali orang yang terkena fitnah dengan bid’ah Ibnu Taimiyah, bid’ah yang begitu besar; yaitu pengharamannya terhadap tawassul dengan Nabi bukan di saat hidupnya dan bukan dengan kehadirannya.”

Catatan Kaki

[1] At-Taqiyy as-Subki, Syifa’ s-Saqaam, hal.160.

[2] As-Sakhawi, al Qaul al Badi’, hal.430.

[3] As-Sakhawi, al Qaul al Badi’, hal.442.

[4]  Abdullah al Ghumari, Juz fihi ar-Radd ‘ala al Albani, 55-61.

[5] Al Harari, al Maqalat as-Sunniyyah, hal.278-279, 284.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here