Senin, November 28, 2022
spot_img
BerandaAllah Ada Tanpa TempatTidak Boleh Dikatakan Allah Ada Di Mana-Mana

Tidak Boleh Dikatakan Allah Ada Di Mana-Mana

Penjelasan Ulama Ahlussunnah Bahwa Allah Tidak Boleh Dikatakan Ada Di Semua Tempat Atau Ada Di Mana-Mana

gambarImâm al-Bayhaqi (w 458 H)

Imâm al-Bayhaqi (w 458 H) dalam al-I’tiqâd Wa al-Hidâyah; Allah Tidak Boleh Dikatakan Ada Di Semua Tempat Atau Ada Di Mana-Mana.

Ketahuilah, tidak boleh dikatakan “Allah ada di setiap tempat”, (atau “ada di mana-mana”), walaupun tujuannya untuk mengungkapkan bahwa Allah mengetahui atau menguasai segala sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya.

Al-Imâm al-Hâfizh Abu Bakar al-Bayhaqi (w 458 H) dalam karyanya berjudul al-I’tiqâd Wa al-Hidâyah Ilâ Sabîl ar-Rasyâd menuliskan sebagai berikut:

“وفيما كتبنا من الآيات دلالة على إبطال قول من زعم من الجهمية أن الله سبحانه وتعالى بذاته في كل مكان، وقوله عز وجل:{وهو معكم أين ما كنتم} [سورة الحديد/4] إنما أراد به بعلمه لا بذاته”

“Dari apa yang telah kami tuliskan tentang beberapa ayat, itu semua adalah sebagai dalil atas kebatilan pendapat kelompok; seperti kaum Jahmiyyah, yang mengatakan bahwa Allah dengan Dzat-Nya berada di segala tempat. Adapun firman Allah: “Wa Huwa Ma’akum Aynamâ Kuntum” (QS. al-Hadid: 4) yang dimaksud adalah bahwa Allah Maha mengetahui segala apa yang diperbuat oleh manusia, bukan dalam pengertian bahwa Dzat Allah bersama setiap orang”[1].

__________________
[1] al-I’tiqâd  Wa  al-Hidâyah, h. 70

gambarImam al-Ghazali (w 505 H)

Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam al-Arba’în Fî Ushuliddîn; Allah Tidak Boleh Dikatakan Ada Di Semua Tempat Atau Ada Di Mana-Mana.

Ketahuilah, tidak boleh dikatakan “Allah ada di setiap tempat”, (atau “ada di mana-mana”), walaupun tujuannya untuk mengungkapkan bahwa Allah mengetahui atau menguasai segala sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya.

al-Imâm al-Mutakallim Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H) dalam bantahan atas keyakinan Jahm ibn Shafwan dan para mengikutnya; yaitu kaum Jahmiyyah, menuliskan sebagai berikut:

“ولا ترتبك في مواقع غلطه، فمنه غلط من قال: إنه في كل مكان. وكل من نسبه إلى مكان أو جهة فقد زلّ فضلّ، ورجع غاية نظره إلى التصرف في محسوسات البهائم، ولم يجاوز الأجسام وعلائقها. وأول درجات الإيمان مجاوزتها، فبه يصير الإنسان إنسانًا فضلاً عن أن يصير مؤمنًا”.

“Janganlah engkau ragu dalam banyak kesesatannya (Jahm ibn Shafwan). Di antara kesesatannya; ia mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat. Sesungguhnya orang yang menetapkan adanya tempat atau arah bagi Allah adalah orang yang sesat. Seorang yang bekeyakinan semacam itu maka yang ada di dalam pikirannya tidak lain adalah penyerupaan Allah dengan binatang-binatang yang dapat diindra. Ia dengan keyakian sesatnya tersebut tidak akan terlepas dari memikirkan benda-benda dan sifat-sifat benda belaka. Padahal tingkatan paling pertama dalam keimanan yang benar (kepada Allah) adalah melepaskan dan menjauhkan diri dari keyakinan-keyakinan indarwi. Dengan keyakinan yang benar inilah seorang manusia menjadi benar-benar manusia (yang sehat akalnya), dan tentunya yang utama darinya adalah bahwa ia menjadi seorang mukmin”[1].

Baca juga: Pemuka Ahlussunnah; Imam al-Ghazali

Anda perhatikan tulisan al-Imâm al-Ghazali di atas, sangat jelas berisi bantahan terhadap orang berkeyakinan bahwa Allah berada di semua tempat. Dengan demikian pernyataan sebagian orang “sok tahu” yang mengatakan bahwa al-Ghazali berkeyakinan Allah berada di semua tempat adalah dusta besar atasnya. Tentang hal ini al-Imâm al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Harari dalam beberapa tulisannya mengingatkan bahwa klaim semacam itu adalah kebohongan yang disandarkan kepada al-Ghazali, termasuk di antaranya beberapa bait sya’ir yang dianggap berasal darinya. al-Hâfizh al-Harari dalam kitab ad-Dalîl al-Qawîm menuliskan sebagai berikut:

“تنبيه: ليحذر من كلمة في أبيات منسوبة للغزالي وليست له، وهي هذا الشطر :”وهو في كلِّ النّواحي لا يَزُول” فإنها مرادفة لقول المعتزلة الله بكل مكان. قال علي الخوّاص :”لا يجوز القول إنه تعالى بكل مكان”

“Peringatan: Waspadai beberapa bait sya’ir yang dianggap berasal dari al-Ghazali, padahal itu semua bukan berasal dari tulisannya, di antaranya bait sya’ir yang mengatakan: “Wa Huwa Fî Kull an-Nawâhî La Yazûl”, (Artinya; Allah berada di semua tempat dan di semua arah, tidak akan pernah hilang). Ini adalah keyakinan sesat kaum Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat dan semua arah. Al-Imâm Ali al-Khawwash berkata: ”Tidak boleh dikatakan bahwa Allah berada di semua tempat dan semua arah”[2].

Demikian perkataan al-Imâm al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Harari dalam karyanya; ad Dalil al Qawim ‘Ala ash Shirath al Mustaqim, kitab yang sangat bermanfaat berisi penjelasan akidah Ahlussunnah Wal Jam’ah dengan argumen-argumen naqliyyah dan ‘aqliyyah yang sangat kuat. Dengan kitab ini semua faham sesat menjadi terbantahkan, seperti faham para filosof yang mengatakan bahwa alam ini tidak memiliki permulaan (azaly), faham Mu’tazilah, faham Murji’ah, dan faham Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah duduk (bertempat) di arsy, juga mengatakan bahwa Allah memiliki anggota-anggota badan. Allah maha suci dari keyakinan mereka.

___________________
[1] al-Arba’în Fî Ushuliddîn, h. 198
[2] ad-Dalîl  al-Qawîm, h. 58

gambarImâm Ibn Furak al-Asy’ari (w 406 H)

Imâm Ibn Furak al-Asy’ari (w 406 H); Allah Tidak Boleh Dikatakan Ada Di Semua Tempat Atau Ada Di Mana-Mana.

Ketahuilah, tidak boleh dikatakan “Allah ada di setiap tempat”, (atau “ada di mana-mana”), walaupun tujuannya untuk mengungkapkan bahwa Allah mengetahui atau menguasai segala sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya. Berikut ini beberapa pernyataan ulama kita dalam menjelaskan bahwa pernyataan demikian itu tidak dibenarkan dan menyalahi syari’at.

﴾﴾ 1 ﴿﴿

Teolog terkemuka al-Imâm Ibn Furak al-Asy’ari (w 406 H) dalam salah satu karyanya berjudul Musykil al-Hadîts menuliskan sebagai berikut:

“اعلم أن الثلجي كان يذهب مذهب النجار في القول بأن الله في كل مكان وهو مذهب المعتزلة، وهذا التأويل عندنا منكر من أجل أنه لا يجوز أن يقال إن الله تعالى في مكان أو في كل مكان”

“Ketahuilah bahwa ats-Tsalji berpendapat seperti pendapat kaum an-Najjariyyah yang mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat. Pendapat semacam ini, yang juga merupakan pendapat kaum Mu’tazilah; bagi kita kaum Ahlussunnah adalah sesat, karena Allah tidak boleh dikatakan berada di suatu tempat atau berada di semua tempat”[1].

Baca buku: Penjelasan Lengkap Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah

﴾﴾ 2 ﴿﴿

Kemudian al-Imâm Ibn Furak sendiri telah membantah pernyataan “Allah ada di mana-mana” walaupun untuk tujuan mengungkapkan bahwa Allah mengetahui atau menguasai segala sesuatu dari makhluk-Nya. Beliau menuliskan sebagai berikut:

“فمتى ما رجعوا في معنى إطلاق ذلك إلى العلم والتدبير كان معناهم صحيحًا واللفظ ممنوعًا، ألا ترى أنه لا يسوغ أن يقال إن الله تعالى مجاور لكل مكان أو مماس له أو حال أو متمكِّن فيه على معنى أنه عالم بذلك مدبرٌ له”

“Apa bila perkataan tersebut untuk tujuan mengungkapkan bahwa Allah Maha mengetahui segala sesuatu atau bahwa Allah Maha mengatur segala sesuatu maka tujuannya tersebut benar, namun demikian mengungkapkannya dengan ungkapkan semacam itu adalah sesuatu yang tidak benar. Ini persis sebagaimana yang engkau telah tahu bahwa Allah tidak boleh dikatakan bagi-Nya bahwa Dia “bersampingan dengan segala sesuatu di segala tempat”, atau dikatakan “menempel dengan segala sesuatu”, atau dikatakan “menyatu” atau “bertempat di dalam sesuatu”, sekalipun tujuan dari perkataan-perkataan semacam itu untuk mengungkapkan bahwa Allah Maha menguasai di atas segala sesuatu”[2].

_________________
[1] Musykil al-Hadîts, h. 63
[2] Ibid, h. 65-66

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru