Senin, Oktober 3, 2022
spot_img
BerandaTasawufDusta Wahabi Atas Nama Imam Syafi'i Tentang Tasawwuf

Dusta Wahabi Atas Nama Imam Syafi’i Tentang Tasawwuf

Perhatikan…!!! Ada kata-kata yang sering diungkapkan oleh orang-orang wahabi yang mereka kutip mentah-mentah dari perkataan Imam Syafi’i, sedikitpun mereka tidak pernah melihat konteks pembicaraan Imam Syafi’i ini, -kata mereka- bahwa Imam Syafi’i berkata:

“Jika ada seseorang bertasawwuf di pagi hari maka sebelum datang zhuhur aku sudah mendapatinya telah menjadi orang dungu”

Kita bahas ungkapan Imam Syafi’i yang seringkali disalahpahami orang-orang Wahabi ini… dengan menampilkan scan kitab Manaqib asy-Syafi’i karya Imam Abu Bakr al-Baihaqi yang menjadi rujukan dari statemen dimaksud.

Perhatikan scan berikut ini…!

Manaqib asy-Syafi’i karya Imam Abu Bakr al-Baihaqi

Secara lengkap saya terjemahkan dengan rangkaian sanadnya, berikut ini:

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Abdillah al Hafizh, berkata: Aku telah mendengan Abu Muhammad; Ja’far ibn Muhammad al Harits berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah al Husain ibn Muhammad ibn Bahr, berkata: Aku telah mendengar Yunus ibn Abd al A’la berkata: Aku telah mendengar asy Syafi’i berkata: “Jika ada seseorang bertasawwuf di pagi hari maka sebelum datang zhuhur aku sudah mendapatinya telah menjadi orang dungu”.

Baca juga: Ma’ruf al-Karkhi; Sedekahkanlah! Saya ingin keluar dari dunia ini dalam keadaan telanjang seperti saat aku memasukinya

Dan telah memeberitakan kepada kami Abu Abdurrahman as Sullami, berkata: Aku telah mendengar Ja’far ibn Muhammad al Maraghi, berkata: Aku telah mendengar al Husain ibn Bahr, berkata: (lalu mengatakan apa yang dinyatakan oleh Imam Syafi’i di atas).

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad ibn Abdullah, berkata: Aku telah mendengar Abu Zur’ah ar Razi, berkata: Aku telah mendengar Ahmad ibn Muhammad ibn as Sindi, berkata: Aku telah mendengar ar Rabi’ ibn Sulaiman, berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang –yang bernar2– sufi kecuali Muslim al Khawwash”.

Aku (al-Baihaqi) katakan: “Sesungguhnya yang dimaksud –oleh Imam Syafi’i–; adalah orang yang masuk dalam kalangan sufi yang hanya mencukupkan dengan “nama” saja sementara dia tidak paham makna intinya, dia hanya mementingkan catatan tanpa mendalami hakekatnya, hanya duduk dan tidak mau berusaha, ia menyerahkan biaya hidup dirinya ke tangan orang-orang Islam, dia tidak peduli dengan orang-orang Islam tersebut, tidak pernah menyibukan diri dengan mencari ilmu dan ibadah, sebagaimana maksud ucapan Imam Syafi’i ini ia ungkapkan dalam riwayat lainnya”, yaitu riwayat yang telah dikhabarkan kepada kami oleh Abu Abdirrahman as Sullami, berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah ar Razi berkata: Aku telah mendengar Ibrahim ibn al Mawlid berkata dalam meriwayatkan perkataan asy Syafi’i: “Seseorang tidak akan menjadi sufi hingga terkumpul pada dirinya empat perkara; pemalas, tukang makan, tukang tidur, dan tukang berlebihan”. Sesungguhnya, jelas yang dicaci oleh Imam Syafi’i dalam perkataannya ini adalah orang2 sufi –gadungan– dengan sifat-sifat tersebut itu tadi.

Kesimpulan: “… jadi yang dibenci dan dicaci oleh Imam Syafi’i adalah sufi GADUNGAN, sebagaimana jelas disebutkan dalam riwayat lengkap di atas”.

Bagi yang berakal sehat, dan sedikit “cerdas”; tidak akan bodoh seperti wahabi; hanya mengutip perkataan ulama lalu ditempatkan bukan pada tempatnya.

Dan ini, tambahan dikit; (lumayan banyak juga sih…!! baca yang sabar!!!)

Kita katakan pula kepada para pembenci tasawuf tersebut, pemimpin tertinggi kalian yang kalian anggap sebagai Imam; Ahmad Ibn Taimiyah al-Harrani (al Mujassim) sangat menghormati al-Junaid al-Baghdadi. Ia menyebut al-Junaid sebagai “Imâm al-Hudâ”.

Lalu siapakah al-Junaid?! Semua orang terpelajar sudah pasti tahu bahwa beliau adalah seorang sufi besar, bahkan pemuka kaum sufi (Sayyid ath Tha’ifah ash Shufiyyah).

Kemudian Imam Ahmad Ibn Hanbal, yang kalian anggap dengan kedustaan kalian sebagai Imam madzhab bagi kalian, sedikitpun tidak pernah membeci para ulama sufi, bahkan menghormati mereka. Bila Imam Ahmad menghadapi suatu masalah maka ia akan meminta komentar dari Abu Hamzah dengan berkata: “Bagaimana pendapatmu wahai sufi?” [Lihat al-Qusyairi, ar-Risâlah…, h. 395].

Baca buku: Mengenal Tasawuf Rasulullah

Dari sini kita katakan kepada para pembenci tasawuf, siapakah yang kalian ikuti?! Apakah kalian bersama Ibn Taimiyah atau bersama Imam Ahmad Ibn Hanbal?! Atau memang kalian membawa ajaran dan keyakinan sendiri?! Bahaya apakah bagi syari’at Islam dari penamaan tasawuf, atau menamakan seorang yang saleh dengan sufi?! Ibn Hibban dalam kitab Shâhîh-nya (al-Ihsân Bi Tartîb Shâhîh Ibn Hibban) banyak mengambil periwayatan haditsnya dari orang-orang yang dikenal sebagai kaum sufi. Demikian pula Imam Ahmad dalam Musnad-nya, beberapa periwayatan haditsnya mengambil dari kaum sufi. Lalu Imam al-Baihaqi, beliau banyak sekali mengambil periwayatan haditsnya dari Abu ‘Ali ar-Raudzabari yang notabene seorang sufi terkemuka. Bahkan orang disebut terakhir ini adalah salah seorang pemuka dan pemimpin kaum sufi, beliau adalah murid dari al-Junaid al-Baghdadi.

Kemudian jika para pembenci tasawuf tersebut mengingkari istilah “sufi” atau “tasawuf” dari segi panamaan belaka karena dianggap tidak pernah ada sebelumnya (bid’ah), maka kita katakan kepada mereka: “Di dalam Islam banyak sekali nama-nama atau istilah-istilah yang dahulu tidak pernah ada, seperti istilah “Syaikh” bagi seorang yang alim, atau “Syaikh al-Islâm” atau apapun namanya yang bahkan kalian sendiri mempergunakannya. Demikian pula penamaan disiplin-disiplin ilmu, seperti Ilmu Sharaf, Ilmu Nahwu, Ilmu Balghah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits dan lainnya, nama-nama tersebut adalah sesuatu yang tidak pernah dikenal sebelumnya”.

Kholil Abou Fatehhttps://nurulhikmah.ponpes.id
Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tangerang
TULISAN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Catatan Populer

Komentar Terbaru